Saturday, 9 May 2026

SHOLAT YANG HIDUP

SHOLAT YANG HIDUP

Di zaman ketika manusia begitu sibuk mengejar dunia hingga lupa mengenali dirinya sendiri, sholat sering kali berubah menjadi sekadar rutinitas gerak yang kehilangan ruh. Bibir bergerak melafalkan ayat, tubuh berdiri dan bersujud, namun hati tetap berkelana di pasar dunia. Pikiran tetap penuh tagihan, dendam, ketakutan, dan kecemasan. Kita hadir di sajadah, tetapi jiwa kita tertinggal di lorong-lorong kehidupan yang gelap. Maka tidak mengherankan bila banyak manusia rajin sholat, namun tetap gelisah, mudah marah, keras hati, bahkan kehilangan arah hidup.

Padahal sholat bukan sekadar kewajiban syariat yang menggugurkan dosa formalitas. Sholat adalah mi’raj ruhani, sebuah perjalanan pulang menuju asal cahaya. Ia adalah proses “sinkronisasi frekuensi” antara hamba dengan Rabb-nya melalui tubuh, ruang, dan waktu. Setiap gerakannya bukan hanya simbol fisik, melainkan bahasa rahasia yang menyimpan samudera makna. Di dalamnya ada sirr, ada rahasia ketuhanan yang hanya bisa dipahami oleh hati yang hidup.

Allah berfirman: “Wa aqimish shalata li dzikri. - Dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan “untuk menggugurkan kewajiban,” tetapi “untuk mengingat-Ku.” Sebab inti sholat bukan gerakan, melainkan kesadaran. Bukan sekadar bacaan, melainkan kehadiran. Sholat sejati adalah ketika hati memasuki ruang sunyi yang hanya berisi Allah semata.

Betapa banyak manusia yang tubuhnya berdiri menghadap kiblat, tetapi jiwanya menghadap dunia. Betapa banyak yang rukuk dan sujud, tetapi egonya tetap tegak berdiri. Inilah tragedi ruhani manusia modern: kehilangan rasa dalam ibadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kam min qa`imin laisa lahu min qiyamihi illa as-sahar. - Betapa banyak orang yang berdiri sholat, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lelah dan kantuk.”

Sholat yang hidup dimulai sejak Takbiratul Ihram. Ketika kedua tangan diangkat sejajar telinga, sesungguhnya seorang hamba sedang memasuki “Ruang Nol.” Ia sedang memutus arus dunia yang selama ini mengikat batinnya. Semua kesedihan, kegagalan, luka rumah tangga, beban usaha, pengkhianatan manusia, dan ketakutan masa depan ditinggalkan di belakang punggungnya.

“Allahu Akbar.”

Allah Maha Besar.

Kalimat itu bukan sekadar ucapan pembuka. Ia adalah deklarasi agung bahwa seluruh masalah manusia sebenarnya kecil di hadapan kebesaran Allah. Dalam detik itu, seorang hamba sedang menenggelamkan egonya ke dalam lautan tauhid. Tidak ada lagi jabatan. Tidak ada lagi status sosial. Tidak ada lagi nama besar. Yang ada hanya seorang faqir yang berdiri di hadapan Raja Langit dan Bumi.

Imam Al-Ghazali berkata: “Sholat adalah hadirnya hati di hadapan Allah dengan penuh pengagungan dan rasa takut.”

Namun manusia modern sering kehilangan titik nol itu. Ia membawa dunia masuk ke dalam sholatnya. Akibatnya, tubuhnya bersama Allah tetapi pikirannya bersama pasar dan ambisi.

Setelah takbir, tangan bersedekap di atas dada. Inilah simbol penjagaan wadah batin. Tangan kanan menggenggam tangan kiri di atas pusat hati seolah memberi pesan bahwa akal dan hawa nafsu harus tunduk kepada cahaya hati yang tersambung dengan Nur Muhammad. Di sinilah manusia sedang menata “tenunan batin”-nya agar tidak koyak oleh pikiran liar.

Sebab hati manusia ibarat cermin. Bila dipenuhi debu dunia, ia tak mampu memantulkan cahaya Ilahi. Karena itu para ulama tasawuf selalu menekankan pentingnya tazkiyatun nafs, penyucian jiwa.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Obatilah hatimu, karena Allah tidak melihat rupa dan tubuhmu, tetapi melihat hatimu.”

Betapa banyak manusia terlihat alim, tetapi batinnya penuh kebencian. Betapa banyak yang lisannya berdzikir, tetapi hatinya dipenuhi iri dan kesombongan. Padahal Allah hanya menerima hati yang bersih.

Lalu manusia bergerak menuju rukuk. Punggung diratakan. Kepala disejajarkan. Di sinilah ego intelektual mulai dihancurkan. Rukuk adalah simbol keseimbangan frekuensi alamiah. Manusia mengakui bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari semesta yang tunduk kepada Sunnatullah.

“Subhana Rabbiyal ‘Azim. - Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.”

Kalimat itu meluruhkan kesombongan yang selama ini diam-diam tumbuh di dada manusia. Dalam rukuk, seorang doktor sama rendahnya dengan tukang becak. Seorang pejabat sama lemahnya dengan pengemis. Semua menundukkan diri di hadapan Kebijaksanaan Allah.

Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Asal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah ridha terhadap hawa nafsu.”

Maka rukuk sejatinya adalah latihan mematahkan kesombongan batin. Sebab manusia tidak akan pernah sampai kepada ma’rifat selama dirinya masih merasa besar.

Namun puncak dari seluruh perjalanan itu adalah sujud.

Ah, sujud...

Di sanalah manusia benar-benar hancur.

Kepala yang menjadi simbol harga diri dan akal diletakkan di tanah. Wajah yang selama ini ingin dipuji manusia justru ditempelkan pada tempat paling rendah. Inilah maqam fana’, titik lebur ego. Dalam sujud, manusia kembali menjadi tanah. Semua topeng dunia runtuh. Semua gelar lenyap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aqrabu ma yakunul ‘abdu min rabbihi wa huwa sajid. - Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.”

Mengapa sujud menjadi posisi terdekat?

Karena ego sudah tiada.

Selama “aku” masih berdiri, Allah terasa jauh. Tetapi ketika “aku” hancur, cahaya Allah mulai memenuhi relung jiwa. Inilah hakikat wushul dalam tasawuf: lenyapnya keakuan di hadapan kebesaran Allah.

Sujud bukan sekadar menempelkan dahi ke sajadah. Sujud adalah tangisan ruh yang pulang kepada asalnya. Di dalam sujud, manusia sebenarnya sedang mengembalikan unsur tanah dalam dirinya kepada asal penciptaannya.

Allah berfirman: “Minha khalaqnakum wa fiha nu’idukum. - Dari tanah Kami menciptakan kalian dan kepadanya Kami mengembalikan kalian.”

Betapa banyak air mata yang jatuh diam-diam dalam sujud malam. Betapa banyak hati yang remuk lalu disembuhkan Allah dalam posisi itu. Sebab ketika manusia tak lagi mampu dipahami dunia, Allah tetap mendengarnya.

Dan anehnya, manusia justru sering terburu-buru bangkit dari sujud. Ia lebih lama menatap layar ponsel daripada bersimpuh di hadapan Allah.

Setelah sujud, manusia duduk di antara dua sujud. Ini adalah simbol istirahat dalam cahaya. Setelah ego dilebur, seorang hamba mulai menyusun kembali hidupnya di hadapan Allah.

“Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni. - Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkan kekuranganku, angkat derajatku, dan berilah aku rezeki.”

Lihatlah betapa lembut Islam mengajarkan kehidupan. Setelah manusia menghancurkan egonya dalam sujud, Allah justru mempersilakan hamba-Nya meminta segala kebutuhan hidup. Seolah Allah berkata: “Kini engkau datang tanpa kesombongan, maka mintalah.”

Di sinilah banyak manusia gagal memahami hakikat doa. Mereka meminta kepada Allah, tetapi egonya masih utuh. Mereka ingin dikabulkan, tetapi belum benar-benar pasrah.

Padahal para arifin mengajarkan bahwa doa paling kuat lahir dari hati yang hancur.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Ketika hati telah dipenuhi ridha kepada Allah, maka apa pun yang datang terasa indah.”

Sholat sejati bukan hanya melahirkan kekhusyukan sesaat, tetapi membentuk ulang struktur jiwa manusia. Ia menjadi proses “restart” ruhani yang membersihkan racun batin lima kali sehari.

Sampai akhirnya sholat ditutup dengan salam.

Kepala menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Assalamu’alaikum warahmatullah.”

Ini bukan sekadar penutup ritual. Ini adalah deklarasi sosial bahwa cahaya yang diperoleh dalam sholat harus dibawa keluar menuju kehidupan. Jika sholat seseorang benar, maka kehadirannya akan menenangkan manusia lain. Lisannya menjadi lembut. Tatapannya penuh kasih. Sikapnya menghadirkan keselamatan.

Inilah makna Islam yang sesungguhnya: menghadirkan salam, kedamaian.

Bukan wajah yang mudah marah atas nama agama. Bukan hati keras yang gemar menghakimi sesama. Sebab orang yang benar-benar mengenal Allah akan dipenuhi welas asih.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata: “Orang yang dekat dengan Allah akan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.”

Hari ini dunia terlalu banyak melahirkan manusia cerdas tetapi kehilangan hati. Banyak yang pandai bicara agama namun gagal menghadirkan kasih sayang. Kita hidup di zaman ketika manusia lebih sibuk mempertontonkan ibadah daripada merasakan kehadiran Allah di dalam ibadah itu sendiri.

Karena itulah sholat harus dihidupkan kembali.

Bukan hanya gerakannya, tetapi arus ruhaniahnya.

Bukan hanya bacaannya, tetapi getaran maknanya.

Sebab sholat yang hidup mampu menyembuhkan jiwa yang retak. Ia mampu menenangkan hati yang kehilangan arah. Ia mampu mengangkat manusia dari gelapnya dunia menuju cahaya ma’rifatullah.

Maka jika hidup terasa sesak, jangan hanya mencari hiburan dunia. Kembalilah ke sajadah. Jika hati terasa remuk, jangan hanya mencari pelarian pada manusia. Bersujudlah lebih lama. Jika dunia terasa menghimpit dada, masuklah ke “Ruang Nol” dalam sholatmu.

Barangkali selama ini bukan hidup kita yang terlalu berat, melainkan hati kita yang terlalu jauh dari Allah.

Dan mungkin, di antara seluruh tangisan yang tidak dipahami manusia, ada satu sujud sunyi yang diam-diam sedang ditunggu langit.

GUS IMAM

Monday, 27 April 2026

Setiap Yang bermazhab adalah sunni tetapi Yang sunni Tidak bermazhab

Setiap Yang bermazhab adalah sunni tetapi Yang sunni Tidak bermazhab

https://vt.tiktok.com/ZS9SfBA5P/

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA SYAFIE

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA SYAFIE

Walaupun beliau telah pergi menemui Allah Ta'ala, ilmunya ini wajar diambil pedoman....

Sila tonton video ini selepas selesai membaca artikel di bawah iniI http://youtu.be/tJq081ocn5Y

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA SYAFIE

Mungkin ramai dari kalangan pengikut mazhab Syafie tidak menyedari bahawa bertahlil dengan cara berkumpul beramai-ramai, membaca al-Quran, berzikir, berdoa dan mengadakan hidangan makanan di rumah si Mati atau keluarga si Mati bukan sahaja Imam Syafie yang menghukum haram dan bid'ah, malah ramai para ulama mazhab Syafie turut berpendirian seperti Imam Syafie. Adapun antara meraka yang mengharamkan kenduri arwah, yasinan, tahlilan dan selamatan ialah Imam Nawawi, Ibn Hajar al-Asqalani, Imam Ibn Kathir, Imam ar-Ramli dan ramai lagi para ulama muktabar dari kalangan yang bermazhab Syafie, sebagaimana beberapa fatwa tentang pengharaman tersebut dari mereka dan Imam Syafie rahimahullah:

وَاَكْرَهُ الْمَاْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ.
"Dan aku telah memakruhkan (mengharamkan) makan, iaitu berkumpul di rumah (si Mati) walaupun bukan untuk tangisan (ratapan)".[1]
Mengadakan majlis kenduri iaitu dengan berkumpul beramai-ramai terutamanya untuk berzikir, tahlilan, membaca surah Yasin atau kenduri arwah sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Nusantara di rumah si Mati atau memperingati kematian, maka semuanya itu benar-benar dihukum bid'ah yang mungkar oleh Imam Syafie rahimahullah sebagaimana fatwa-fatwa beliau dan para ulama yang bermazhab Syafie yang selanjutnya:

وَاَمَّا اِصْلاَحُ اَهْلُ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسَ عَلَيْهِ فَبِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ.
"Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si Mati dan berkumpul beramai-ramai di rumah (si Mati) tersebut maka itu adalah bid'ah bukan sunnah".2 [1]         
Di dalam kitab (اعانة الطالبين) juz. 2 hlm. 146 ada disebut pengharaman kenduri arwah, iaitu:

وَمَا اعْتِيْدَ مِنْ جَعْلِ اَهْلَ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِيَدْعُوْ النَّاسَ اِلَيْهِ بِدْعَةٌ مَكْرُوْهَةٌ كَاِجْتِمَاعِهِمْ لِذَلِكَ لِمَا صَحَّ عَنْ جَرِيْرِ قَالَ : عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِاللهِ قَالَ : كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ لاَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعُهُمْ الطَّعَامَ مِنَ النِّيَاحَةِ. (رواه الامام احمد وابن ماجه باسناد صحيح).
"Dan apa yang telah menjadi kebiasaan manusia tentang menjemput orang dan menyediakan hidangan makanan oleh keluarga si Mati adalah bid’ah yang dibenci, termasuklah dalam hal ini berkumpul beramai-ramai di rumah keluarga si Mati kerana terdapat hadis sahih dari Jarir bin Abdullah berkata: Kami menganggap berkumpul beramai-ramai (berkenduri arwah) di rumah si Mati dan menyiapkan makanan sebagai ratapan".3 [1] (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn majah dengan sanad yang sahih).
                
Fatwa Imam Syafie dan para ulama muktabar yang bermazhab Syafie telah mengharamkan berkumpul beramai-ramai dan menyediakan hidangan makanan di rumah si Mati untuk tujuan kenduri arwah, tahlilan, yasinan dan menghadiahkan (mengirim) pahala bacaan al-Quran kepada arwah si Mati Mereka berdalilkan al-Quran, hadis dan athar-athar para sahabat yang sahih sebagaimana yang dikemukakan oleh mereka melalui tulisan-tulisan di kitab-kitab mereka. Mereka tidak mungkin mengharamkan atau menghalalkan sesuatu mengikut akal fikiran, pendapat atau hawa nafsu mereka semata, pastinya cara mereka mengharamkan semua itu dengan berdalilkan kepada al-Quran, as-Sunnah dan athar dari para ulama yang bermanhaj Salaf as-Soleh.

[1]. Lihat: Al-Umm. Juz 1. Hlm. 248.
[2]. Lihat: مغنى المحتاج. Juz 1. Hlm. 268.

PENGHARAMAN KENDURI ARWAH, TAHLILAN, YASINAN & SELAMATAN

Amalan mengadakan kenduri arwah dengan pembacaan surah al-Fatihah, Surah al- Ikhlas, Surah al-Falaq, surah an-Nas, surah Yasin dan beberapa ayat yang lain secara beramai-ramai amat bertentangan dengan nas al-Quran, hadis-hadis sahih dan athar para sahabat. Membaca al-Quran berjamaah (beramai-ramai) dengan mengangkat suara sehingga tidak ketahuan bunyi bacaan dan siapa pendengarnya telah ditegah oleh Allah di dalam firmanNya:

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.
AL-A’RAF, 7:204.
Begitu juga al-Quran diturunkan dari langit bukan untuk dibacakan kepada orang yang sudah mati, tetapi untuk orang yang masih hidup dan wajib dibaca oleh mereka yang masih hidup, kerana orang mati sudah tidak mampu lagi mendengar perintah al-Quran sebagaimana firman Allah:

اِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى
 
“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar”.
AN-NAML, 27:80.
 
وَمَا يَسْتَوِى اْلاَحْيَآءُ وَلاَ اْلاَمْوَاتُ ، اِنَّ اللهَ يُسْمِعُ مَنْ يَّشَآءُ ، وَمَا اَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَّنْ فِى الْقُبُوْرِ.
“Dan tidak sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati, sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang dalam kubur dapat mendengar”.

Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam pula telah bersabda bahawa apabila seseorang yang telah mati, sama ada para nabi, para rasul atau para wali maka semua tangungjawab dan segala urusannya dengan persoalan dunia telah tamat, selesai dan terputus sehingga tiada kaitan dan hubungannya lagi dengan dunia dan para penghuninya kecuali tiga perkara sebagaimana sabda baginda:

اِذَا مَاتَ اْلاِنْسَـان اِنـْقـَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ : صَدَقَـةٍ جَارِيَةٍ ، اَوْعِلْمٍ يـُنـْتـَفَعُ بـِهِ ، أوْوَلـَدٍ صَالحٍ يـَدْعُـوْلَهُ
"Apabila mati anak Adam, putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: Sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak soleh yang mendoakannya."6 [1]           
Walaupun hadis di atas hanya menyebut doa dari anak yang soleh untuk ibu bapanya, namun permohonan doa kaum muslimin di dunia yang masih hidup untuk mereka yang sudah mati juga diharuskan. Walau bagaimanapun, doa dari anak yang soleh adalah berpanjangan dan tidak terputus kerana anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia yang keluar dari tulang sulbinya.

Anak yang soleh disebut oleh Nabi di dalam sabdanya sebagai penyambung amal jariah setelah kematian orang tuanya. Sebab itulah Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam menggalakkan orang-orang beriman supaya mengahwini perempuan-perempuan yang solehah, yang subur dan pandai memelihara anak-anaknya agar anak-anak yang ditinggalkan akan menjadi penyambung amal jariah dan mendoakannya. Sehingga tidak dipertikaikan oleh kalangan para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh bahawa amalan ibu-bapa yang terputus sewajarnya disambung oleh anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Apa yang perlu diberi perhatian: "Hanya anak-anaknya sahaja, bukan orang lain" yang dibolehkan menyambung amal orang tuanya yang terputus sebagaimana yang dapat difahami dari dalil-dalil yang berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ اَفَاَقْضِيْهِ عَنْهَا ؟ فَقَالَ : لَوْ كَانَ عَلَى اُمِّكَ دَيْنٌ اَكُنْتَ قَاضِيْهِ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : فَدَيْنُ اللهِ اَحَقُّ اَنْ يُقْضَى.
Dari Ibn Abbar radiallahu ‘anhu berkata: Seorang lelaki datang kepada nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Ya Rasulullah! Ibuku telah meninggal sedangkan dia masih berhutang puasa sebulan belum dibayar, apakah boleh aku membayarnya untuk ibuku? Baginda menjawab: Andaikata ibumu menanggung hutang apakah engkau yang membayarnya? Beliau menjawab: Ya. Maka baginda bersabda: Hutang kepada Allah lebih patut dibayarnya”.7 [1]
 
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : اَنَّ رَجُلاً اَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ اقْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوْصِ وَاَظُنُّهَا لَوْتَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ اَفَلَهَا اَجْرٌ اِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ .
“Dari ‘Aisyah radiallahu ‘anhu berkata: Bahawasanya seorang lelaki datang kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan berkata: Wahai Rasulullah! Ibuku telah mati mendadak, sehingga dia tidak berkesempatan untuk berwasiat dan saya rasa andaikan ia mendapat kesempatan berkata tentu dia berwasiat (supaya bersedekah). Adakah ia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Baginda sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Ya”.8 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ امْرَاَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَ تْ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، اَنَّ اُمِّيْ نَذَرَتْ اَنْ تَحِجَّ فَلَمْ تَحِجَّ حَتَّى مَاتَتْ اَفَاَحِجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ حُجِّيْ عَنْهَا . اَرَاَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ اَكُنْتَ قَاضِيَتَهُ ؟ اُقْضُوْا اللهَ فَاللهُ اَحَقُّ بِالْقَضَاءِ وَفِى رِوَايَةٍ : فَاللهُ اَحَقُّ بِالْوَفَاءِ.
"Dari Ibn Abbas radiallahu 'anhuma berkata: Seorang perempuan dari suku Juhainah datang kepada nabi Sallallahu 'alaihi wasallam bertanya: Ibuku nazar akan mengerjakan haji, tetapi dia telah meninggal sebelum menunaikan nazarnya apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Ya, hajikan untuknya, bagaimana sekiranya ibumu menanggung hutang, apakah engkau yang membayarnya? Bayarlah hak Allah, kepada Allah lebih layak orang membayarnya".9 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا . اَنَّ رَجُلاً اَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : اَنَّ اَبِىْ مَاتَ وَعَلَيْهِ حَجَّةُ اْلاِسْلاَمِ اَفَاَحُجَّ عَنْهُ ؟ فَقَالَ : اَرَاَيْتَ لَوْ اَنَّ اَبَاكَ تَرَكَ دَيْنًا عَلَيْهِ اَتَقْضِيْهِ عَنْهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : فَاحْجُجْ عَنْ اَبِيْكَ .
"Dari Ibnu Abbas radiallahu 'anhu berkata: Seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam lalu bertanya: Ayahku telah meninggal dan belum mengerjakan haji, apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Bagaimana jika ayahmu meninggalkan hutang, apakah kamu yang membayarnya? Jawabnya: Ya. Baginda bersabda: Maka hajikanlah untuk ayahmu".10 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : تُوُفِّيَتْ اُمُّ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا . فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ تُوُفِيَّتْ وَاَنَا غَائِبٌ عَنْهَا اَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ اِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ فَاِنِّيْ اُشْهِدُكَ اَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَنْهَا
"Dari Ibn Abbas radiallahu 'anhu berkata: Ibu Sa'ad bin 'Ubadah ketika meninggal sedang Sa'ad tidak ada. Lalu Sa'ad berkata: Wahai Rasulullah! Ibuku telah meninggal diwaktu aku tidak ada di rumah, apakah kiranya akan berguna baginya jika aku bersedekah? Baginda menjawab: Ya!. Berkata Sa'ad: Saya persaksikan kepadamu bahawa kebun kurma yang berbuah itu sebagai sedekah untuknya".11 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: جَاءَ تْ اِمْرَاَةٌ مِنْ خَشْعَمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُـوْلَ اللهِ ، اَنَّ فَرِيْضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِى الْحَجِّ اَدْرَكَتْ اَبِيْ شَيْخًا كَبِيْرًا لاَ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ . اَفَاَحُجُّ عَنْهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ . وَذَلِكَ فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ.
"Dari Ibn Abbas radiallahu 'anhu berkata: Seorang wanita dari suku Khasy'am datang kepada Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam lalu bertanya: Ya Rasulullah! Kewajipan Allah atas hambaNya berhaji telah menimpakan ayahku yang sangat tua sehingga tidak dapat berkenderaan, apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Ya boleh. Dan pertanyaan ini terjadi ketika haji al-Wada'.12 [1]
 
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ اَبِيْ مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوْصِ فَهَلْ يَكْفِى عَنْهُ اَنْ اَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ : نَعَمْ.
“Dari Abi Hurairah radiallahu anhu berkata: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan berkata: Ayahku telah meninggal dan dia meninggalkan harta dan tidak berwasiat, maka apa berguna baginya jika aku bersedekah untuk dia? Jawab baginda: Ya".13 [1]

Al-Quran menjadi garis panduan kepada mereka yang masih hidup. Dengan demikian, orang yang dapat mengambil panduan mestilah dari kalangan orang-orang yang masih hidup sahaja. Orang-orang yang telah mati sudah tidak memerlukannya lagi kerana kehidupannya telahpun berakhir di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam surah Yasin bahawa:

اِنْ هُوَ اِلاَّ ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِيْنٌ . لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِريْنَ.
"Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup". 
YASIN, 36:69-70.
            
Anehnya, surah ini telah disalah gunakan dengan menjadikan bacaan dari yang hidup untuk si Mati dengan kepercayaan bahawa pahala bacaan dapat memberi manfaat kepada si Mati. Inilah sangkaan yang buruk terhadap kesempurnaan kitab Allah disebabkan kejahilan dan mengabaikan ilmu. Mereka tidak sedar untuk apa tujuan sebenar al-Quran diturunkan kepada manusia. Mereka melakukan sesuatu terhadap al-Quran tanpa keizinan dari Allah dan RasulNya sepertimana perbuatan Yahudi dan Nasrani terhadap kitab mereka yang akhirnya terjadi tambahan, perubahan dan pemansukhan kepada kitab mereka.  

Secara yang tidak disedari, perkara seperti ini telah dilakukan juga oleh umat Islam dengan menambah-nambah, mereka-reka dan mengada-adakan amalan yang dicipta oleh mereka sendiri yang disangka baik, akhirnya ia membawa kepada perbuatan bid'ah dan dosa. Allah telah menerangkan akan ramainya manusia seperti ini lantaran berburuk sangka terhadap kesempurnaan al-Quran sehingga berani melakukan sesuatu terhadap al-Quran mengikut hawa hafsu mereka. Allah berfirman:

يَظُنُّوْنَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ. 

"Mereka menyangka tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan orang-orang jahiliah".
ALI IMRAN, 3:154.
وَمَا لَهُمْ مِنْ عِلْمٍ اِنْهُمْ اِلاَّ يَظُنُّوْنَ.

"Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-menduga (menyangka) sahaja".
  AL JAATSYIAH, 45:24

Di dalam al-Quran, terdapat banyak ayat-ayat yang menerangkan bahawa setiap insan hanya bertanggungjawab di atas apa yang telah diamalkan oleh dirinya sendiri semasa di dunia. Tidak ada keterangan bahawa seseorang itu akan memikul tanggungjawab di atas amalan yang dilakukan oleh orang lain, sama ada yang bersangkut-paut dengan dosa atau pahala sebagaimana keterangan ayat di bawah ini:

اَلاَّ تَزِرُوْا وَازِرَةٌ وِزْرَ اُخْرَى ، وَاَنْ لَيْسَ لِلاِنْسَانِ اِلاَّ مَا سَعَى.
"Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahawasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan". 
AN NAJM, 53:38-39.
            
Berkata al-Hafiz Imam Ibn Kathir rahimahullah:

وَ مِنْ هَذِهِ اْلآيَةِ الْكَرِيْمَةِ اِسْتَنْبَطَ الشَّافِعِى رَحِمَهُ اللهُ وَمَنِ اتَّبعُهُ اَنَّ الْقِرَاءَ ةَ لاَ يَصِلُ اِهْدَاء ثَوَابَهَا الْمَوْتَى لاَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلاَ كَسْبِهِمْ وَلِهَذَا لَمْ يُنْدَب اِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُمَّتَهُ وَلاَ حَثَّهُمْ عَلَيْهِ وَلاَ اَرْشَدَهُمْ اِلَيْهِ بِنَصٍ .
"Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafie rahimahullah dan para pengikutnya mengambil hukum bahawa pahala bacaan (al-Quran) dan hadiah pahala tidak sampai kepada si Mati kerana bukan dari amal mereka dan bukan usaha meraka (si Mati). Oleh kerana itu Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam tidak pernah mensunnahkan umatnya dan mendesak mereka melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk kepadanya (menghadiahkan bacaan kepada si Mati) walaupun dengan satu nas (dalil)".14 [1]     
Al-Hafiz Imam as-Syaukani rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya:

لَيْسَ لَهُ اِلاَّ اَجْرُ سَعْيِهِ وَجَزَاءُ عَمَلِهِ وَلاَ يَنْفَعُ اَحَدًا عَمَلُ اَحَدٍ.
 
"Seseorang tidak akan mendapat melainkan balasan atas usahanya dan ganjaran amalan (yang diamalkannya sendiri), ia tidak memberi manfaat kepada seseorang akan amalan orang lain."15 [1]

Menurut Imam Ibn Kathir rahimahullah pula ayat di atas bermaksud:

كَمَا لاَيحْملُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ كَذَلِكَ لاَيَحْصلُ مِنَ اْلاَجْرِ اِلاَّ مَا كَسَبَ هُوَ نَفْسَهُ.
"Sebagaimana tidak dipikulkan (tidak dipertanggung-jawabkan) dosa orang lain begitu juga ia tidak mendapat ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan (usahakan) sendiri (semasa di dunia)".16 [1]
Imam Ibn Kathir rahimahullah seterusnya menegaskan bahawa:

اِنَّ النُّفُوْسَ اِنَّمَا تُجَازَى بِاَعْمَالِهَا اِنْ خَيْرً فَخَيْرًا وَاِنْ شَرَّا فَشَرًّا
"Sesungguhnya manusia itu hanya menerima balasan menurut amalnya, jika baik maka baiklah balasannya dan jika buruk maka buruklah balasannya".17 [1]
 
Dan Imam Ibn Kathir berkata lagi:
 
لَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ اَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَلَوْكَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا اِلَيْهِ.
"Tidak pernah disalin (diterima) perkara itu (menghadiahkan bacaan kepada orang mati) walaupun dari seorang dari kalangan para sahabat radiallahu 'anhum. Jika sekiranya ia suatu yang baik pasti mereka telah mendahului kita melakukannya".18 [1]

Imam at-Tabari rahimahullah pula menafsirkan ayat ini:

اَنَّهُ لاَ يُجَازَى عَامِلٌ اِلاَّ بِعَمَلِهِ خَيْرًا كَانَ اَوْ شَرًّا
"Bahawasanya seseorang itu tidak menerima balasan dari amalnya, melainkan apa yang telah dikerjakan, sama ada (amalnya) itu baik atau buruk".19 [1]

Dan seterusnya Imam at-Tabari menjelaskan lagi: 

لاَيُؤَاخَذُ بَعُقُوْبَةِ ذَنْب غَيْرُ عَامِلِهِ وَلاَ يُثَابُ عَلَى صَالِحٍ عَمَلِهِ غَيْرُهُ
"Tidak disiksa seseorang itu dengan sesuatu siksaan jika ia tidak mengerjakan dosa tersebut, dan tidak diberi ganjaran di atas amal soleh untuk orang yang tidak mengerjakannya "..20 [1]

Imam Fakhur ar-Razy rahimahullah pula menafsirkan:

اِنَّ الْحَسَنَةَ الْغَيْرِ لاَ تُجْدِى نَفْعًا وَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ صَالِحًا لاَيَنَالُ خَيْرًا فَيَكْمُلُ بِمَا وَيَظْهَرُ اَنَّ الْمُسِيْئَ لاَ يَجِدُ بِسَبَبِ حَسَنَةِ الْغَيْرِ تَوَابًا وَلاَ يَتَحَمَّلُ عَنْهُ اَحَدٌ عِقَابًا.
"Sesungguhnya kebaikan orang lain tidak memberi manfaat kepada orang lain yang tidak melakukannya, sesiapa yang tidak beramal soleh ia tidak mendapat kebaikannya. Maka cukuplah dengan ayat ini sudah jelas bahawa orang yang berdosa tidak boleh mendapat ganjaran dengan sebab kebaikan orang lain dan tidak seseorangpun akan menanggung dosanya".21 [1]

Al-Hafiz Imam Jalalain rahimahullah pula menegaskan:

فَلَيْسَ لَهُ مِنْ سَعْيِ غَيْرِهِ الْخَيْرَ شَيْئٌ
"Maka seseorang tidak akan mendapat apa-apapun dari usaha orang lain".22 [1]      
Ayat di atas ini amat jelas. Setiap orang mukmin yang berilmu dan beriman tidak mungkin berani mengubah ayat di atas ini kepada maksud yang sebaliknya atau menafsirkan kepada maksud dan pengertian yang bertentangan dengan penafsiran yang diizinkan oleh kaedah ulumul Quran atau syarat penafsiran yang diterima oleh syara. Tambahan pula ayat di atas ini sudah jelas makna, maksud dan pengertiannya. Ia telah ditafsirkan juga oleh jumhur ulama tafsir terutamanya Ibn Abbas melalui hadis dari Aisyah radhiallahu 'anha:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : قَالَتْ عَائِـشَةُ (لَمَّا سَمِعَتُ ذَلِكَ) حَسـْبُكُمُ الْقُرْآن ، وَلاَ تَزِرُوْا وَازِرَة وِزْرَ أخْرَى. رواه البخاري ومسلم.
"Berkata Ibn Abbas: Telah berkata Aisyah radiallahu ‘anha ketika mendengar hal tersebut: Cukuplah bagi kamu ayat al-Quran. Bahawa kamu tidak (dipertanggung-jawabkan) untuk memikul dosa orang yang lain". H/R Bukhari dan Muslim. 
        
Imam Ibn Kathir pula menjelaskan:

اِنَّ النُّفُوْسَ اِنَّمَا تُجَازَى بِاَعْمَالِهَا اِنْ خَيْرًا فَخَيْرًا وَاِنْ شَرًّا فَشَرًّا.
"Seseorang jiwa hanya dibalas menurut amalannya. Jika baik maka baiklah balasannya dan jika amalannya jahat maka jahatlah balasannya".23 [1]

Oleh yang demikian, sepatutnya setiap mukmin dapat mengenal dan memahami ayat dan hadis yang menerangkan bahawa setiap insan hanya menuai apa yang disemainya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ.
"Sesiapa yang mengerjakan

Thursday, 23 April 2026

Fiqah Zakat dan pengurusannya

Fiqah Zakat dan pengurusannya

Bila para asatizah Fiqah dan Syariah mendengar ulasan “mereka” berkenaan Fiqah Zakat dan pengurusannya, mereka hanya tersenyum dan berkata:

“Inilah akibatnya orang yang tiada mazhab dan manhaj berbicara hukum Syariah.

Caca marba dan penuh kecelaruan usul, bercampur antara helah retorik dengan kejahilan metodologi.

Mereka berbicara tentang zakat, tetapi gagal memahami hak Ulul Amri (wilayah al-zakah) dan hak asnaf setempat terhadap harta zakat;

mereka mengutip dalil, tetapi terputus daripada disiplin istinbat fuqaha’ yang telah berakar berabad-abad lamanya;

mereka melaungkan “kembali kepada al-Quran dan Sunnah”, tetapi meninggalkan kerangka tafsiran ulama mujtahidin Ahli Sunnah Wal Jamaah yang menjadi jambatan memahami kedua-duanya.

Akhirnya, lahirlah fatwa yang longgar pada tempat yang sepatutnya ketat, dan keras pada tempat yang menuntut hikmah dan keluasan seperti ibadah sunat. 

Zakat yang sepatutnya diurus dengan tertib dan amanah menurut disiplin fiqah, berubah menjadi harta rebutan dengan pancingan pulangan balik atau bidaah yang penuh dangkal pada hakikatnya. 

Lebih menghairankan, keyakinan mereka begitu tinggi, seolah-olah khazanah fiqah umat selama lebih seribu tahun hanyalah beban yang perlu diketepikan, bukan warisan yang perlu diteliti dan dihayati.

Akibatnya, hukum hakam Syariah tidak diteliti hikmahnya, tetapi dicari helah terhadapnya. 

Maka tidak hairanlah apabila perbincangan mereka sering berlegar antara simplifikasi melampau dan dakwaan yang tidak bertunjangkan disiplin.

Ilmu tanpa manhaj melahirkan kekeliruan.

Semangat tanpa panduan melahirkan kerosakan.

Dan fiqah tanpa rujukan mazhab dan ulama muktabar serta kaedah penetapan hukum yang penuh tertib dan sistematik: 

itulah punca pandangan pelik dan jelek yang akhirnya merugikan umat serta membawa kepada memakan harta umat Islam secara batil. 

Dengan kecelaruan ini, maka lahirkan perbahasan “fiqah” yang membawa kepada sikap dan kesan buruk seperti berikut:

- anti zikir 
- mesra khinzir 
- menyempitkan amalan dan ibadah sunat
- tidak meraikan ijmak dan ittifaq ulama’
- tidak meraikan mazhab Ulul Amri dan masyarakat Islam setempat 
- literalis melampau yang jumud atau terlalu longgar 
- mengabaikan hak Allah seperti dakwaan tidak wajib qada’ solat fardu yang sengaja ditinggalkan
- penuh helah dan pandangan shadzdz [yang dipengaruhi kecenderungan hawa nafsu]
- sikap tabdi’ dalam isu khilafiyyah muktabar 
- sikap takfiri dan perpecahan umat dalam isu furuk
- tuduhan hukum fiqah mazhab muktabar tidak mempunyai dalil,

dan seumpamanya. 

PENUNTUT ILMU

Thursday, 16 April 2026

Amalan tiga doa

Amalan tiga doa

https://www.facebook.com/share/p/1GYtHhDbtf/

1.Doa Minta husnul khatimah
2.doa rezeki dan keampunan sebelum       mati.
3.Doa tetapkan imam.

Saturday, 21 March 2026

Buku bertemu ruas".

"Buku bertemu ruas".

Apabila seorang Kristian yang menguasai kaedah-kaedah falsafah Kalamiyah mencabar Muslim Lantern yang dikenali sebagai seorang pendakwah Muslim yang biasa berdebat dan berdialog dengan orang Kristian, tetapi bukan seorang Kalami, sekadar seorang Salafi. 

Akhirnya Muslim Lantern tersungkur cuba menjawab soalan paling mudah dalam ilmu falsafah akidah - adakah sifat Tuhan lain daripada zatnya?

Soalan yang kalau dipelajari dalam ilmu Kalam, ia adalah antara perkara yang terawal dipelajari. Bukanlah zat itu sifat, dan bukanlah sifat itu zat, tetapi bukanlah sifat itu tercerai daripada zat, dan bukanlah zat itu berdiri tanpa sifat. Diringkaskan dengan sebutan,

لا هي هو ولا هي غيره
"Bukanlah ia (sifat) zat, dan bukan ia (sifat) lain daripada zat"

Apabila Kristian tersebut bertanya dari awal, "Adakah sifat itu sama dengan zat", saya sudah mendapat gambaran bahawa Kristian ini sudah membaca sedikit sebanyak khazanah perdebatan antara Ahli sunnah dan Muktazilah. Beberapa ketika selepas itu, dia memang menyebut terma Muktazilah, jadi memang betul dia sudah kaji tentang mazhab-mazhab Muktazilah.

"Is the attributes distinct and different to the essence of God?". Soalan yang sebenarnya jelas bagi mereka yang di dalam perbandingan agama.

Malangnya, Muslim Lantern walaupun beliau seorang Salafi yang saya hormati dan banyak membungkam Kristianiti melalui kontradiksi kitab-kitab mereka sendiri, tidak menguasai dan saya yakin tidak memahami perbahasan perbezaan mazhab dalam Islam sendiri. Kenapa wujud Mutakallimin, kenapa wujud Muktazilah, kenapa keluar konsep zat dan sifat. 

Walaupun seseorang menguasai perbahasan Kristian dan Islam, ia belum bermakna dia menguasai perbahasan-perbahasan lain. Seseorang yang menguasai bagaimana untuk berdepan dengan Atheis misalnya, berbeza dengan kemampuannya untuk berdepan dengan Yahudi. Begitu juga orang Kristian yang masuk Islam, kebanyakan mereka lebih menguasai agama Kristian sendiri untuk membungkamnya melalui maklumat daripada agama mereka sebelumnya. 

Namun ilmu Kalam, adalah satu khazanah yang tidak tersebar luas, tidak diwarisi secara mendalam melainkan melalui beberapa saluran sahaja, satu kefahaman abstrak yang tinggi yang memayungi seluruh topik perbincangan perbandingan agama, lalu persoalannya bukanlah adakah seseorang mampu menjawab persoalan ilmu Kalam apabila dia mendepaninya, tetapi soalnya hanyalah bilakah dia akan berjumpa dengan ilmu Kalam dan akan terduduk di hadapannya. 

Begitulah dengan pendakwah-pendakwah Barat yang saya sentiasa perhatikan dan ikuti, kebanyakan mereka mencabar orang-orang Kristian untuk berdebat tentang coherence agama Kristian dan kebanyakannya memang berjaya. Mereka mampu bungkam logik yang tidak sequitor, menzahirkan percanggahan antara nas-nas yang tidak mungkin digabung, dan membungkam tambahan-tambahan Paul ke atas versi-versi Bible sehingga ke manuskrip. 

Tetapi itu hanyalah satu niche, satu tajuk di bawah perbandingan agama, ia belum lagi sampai ke tahap tertinggi perbincangan ilmu perbandingan agama sebenar iaitu ilmu Kalam. Dan dalam video ini, jelas Muslim Lantern tidak mampu menjawabnya. Beliau hanya bertanya apakah maksud distinct, dan cuba membahaskan terma soalan. Jay Dyer (Kristian) hanya gelakkan sahaja cubaan itu. 

Hasil daripada tidak menguasai sesuatu yang asas, seperti nama Allah 99 dan sifat-sifat Allah, akhirnya ia menguatkan pula kefahaman seorang Kristian terhadap agamanya. Kalau banyak menjadi satu tak boleh, kenapa dalam Islam boleh. 

"Aku ada tiga Tuhan, ya, melalui triniti, tetapi kamu ada 99 Tuhan, tapi kamu anggap itu satu"

"Setiap sifat-sifat yang kamu sebut, Tuhan marah, Tuhan suka, Tuhan gembira, setiap satu itu adalah Tuhan, kamu lebih banyak Tuhan daripada triniti"

Kerana seseorang tidak memahami konsep pembezaan sifat dan zat, dan perbahasan pula tidak mendalam kerana slogan "Kita beriman sahaja dengan apa yang Allah turunkan", akhirnya kefahaman akidah agama tergadai kerana Muslim-Muslim yang berada di barisan hadapan adalah yang paling lemah dalam penguasaaan ilmu sebenar yang universal. Mereka mungkin menguasai ilmu dalam sesuatu skop yang bersifat topikal, seperti beza Islam dan Kristian, atau konsep Monotheism Islam dan Yahudi, tetapi mereka tidak menguasai satu konsep abstrak yang memayungi keseluruhan perbahasan ini iaitu falsafah, atau Kalam. 

Islam adalah hina apabila seorang Muslim hanya mampu menjawab persoalan agama berdasarkan sesuatu yang topikal, sedangkan Islam hakikatnya universal. الإسلام يعلو ولا يعلى عليه. Hanya kerana anda belum berjumpa dengan ruas, ia tidak bermakna apa anda bawa itulah kefahaman cukup tentang Islam, bahkan ia perlu diperhalusi lagi dan diperhalusi lagi sehinggalah anda mencapai satu kefahaman yang lebih universal yang dapat menjawab sehingga akal-akal orang Atheis sendiri. 

Inilah sebab kenapa falsafah Islam begitu berkembang dan diambil serius oleh ulama-ulama dahulu. Mereka tahu bahawa manusia berbeza kadar berfikir, maka mereka sudah fikirkan ke tahap setinggi pemikiran seorang manusia, bahawa jikalaulah ada seorang bukan Islam yang tersangatlah cerdik ketinggian akalnya sehingga dia membawa satu persoalan terhadap Islam, umat Islam terkemudian akan mampu menjawabnya. Setiap persoalan existential crisis, setiap persoalan kritikal yang tidak dibincangkan orang semasa itu ataupun kemudian, lebih-lebih lagi persoalan yang sudah dibincangkan sebelum, sudah mereka cerap dan perhalusi satu per satu dan sediakan jawapan, tunggu umat terkemudian susun kembali jadi pedoman sahaja. 

Namun sampai kepada zaman sekarang, segala hasil ulama tersebut dianggap sampah atau tidak bernilai. Ulama-ulama tersebut pula dikatakan sesat dan terjerumus dalam perangkap berfikir gaya Yunani, sehingga mereka dianggap tak ada manfaat kepada Islam, oleh generasi baharu yang ingin hanya berpegang kepada al-Quran dan as-Sunnah, tetapi persoalan beza zat dan sifat pun mereka tidak mampu dissect dengan baik, sehingga menjadi bola tanggung pula untuk agama lain. 

Carilah ayat al-Quran dan hadis yang cerita beza zat dan sifat, takkan jumpa. Hadis dhaif pun takkan jumpa, sahkan nak sahih sahaja. 

Jangan tunggu nak jumpa orang cerdik dulu baru nak sedar framework pemikiran literal itu tidak cukup dalam agama. Ulama dahulu secara teliti dah cerakin, susun dan hurai elok dah.

Friday, 20 March 2026