Sunday, 23 August 2015

Benarkah Orang Mati Bisa Mendengar ?

Benarkah Orang Mati Bisa Mendengar ?

Pertanyaan:

Apakah orang-orang yang di alam kubur mampu mendengar ucapan salam orang yang berziarah kepada mereka padahal dalam al-Quran

“Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar….” (Ar Rum: 52)

Lalu kenapa di makbaroh Gajah Ngambung banyak orang berziarah pada sore hari Jum’at adakah dasar hukumnya?
(Dari Siti Zubaidah, Jakarta)

Jawab:

Dari penjelasan di dalam kitab Tafsir Ahkam, Imam Al Qurtubi menguraikan bahwa ayat “Fainnaka laa tusmi’ul mautaa…” (maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar….” adalah berkaitan dengan peristiwa pertanyaan sahabat Umar bin Khattab saat Rasulullahsaw memanggil tiga orang pemimpin kafir Quraisy dalam perang Badar yang telah meninggal beberapa hari.
.
Saat itu Rasulullah saw ditanya oleh Umar bin Khattab ra:

يا رسول الله تناديهم بعد ثلاث وهل يسمعون ؟يقول الله إنك لا تسمع الموتى فقال : والذي نفسي بيده ما أنتمبأسمع منهم ولكنهم لا يطيقون أن يجيبوا

Ya Rasulullah, apakah engkau memanggil-manggil mereka yang telah meninggal tiga hari bisa mendengarkan panggilanmu. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam al quran: Innaka laa tusmi’ul mauta?
Lalu dijawab oleh Rasulullah saw: “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah engkau sanggup mendengar mereka, mereka lebih mendengar daripada kamu hanya saja mereka tidak mampu menjawab.” (HR. Muslim dari Imam Anas ra)

Menurut hadits Shohihain (Bukhari Muslim) Dari sanad yang berbeda-beda, Rasulullah saw pernah berbicara kepada orang-orang kafir yang tewas dalam perang badar saat mereka dibuang di sumur Quleb kemudian Rasulullah saw berdiri dan memanggil nama-nama mereka (yafulan bin fulan 2x) : “Apakah engkau telah mendapatkan janji dari Tuhanmu dengan benar, sedangkan saya telah mendapatkan janji yang benar pula dariTuhanku.”

Dalam penjelasan kitab Tafsir Ibnu Katsir bahwa yang dipanggil oleh Rasulullah saw itua dalah: Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Robi’ah dan Syaibah bin Robi’ah. Ketiganya itu adalah tokoh kafir Quraisy.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik.

Dalam riwayat lain menyebutkan bahwa orang yang mati apabila sudah dikuburkan dan orang yang menguburkan itu kembali pulang, maka dia (ahli kubur) itu mampu mendengar gesekan suara sendal.

Menurut Imam AlQurtubi, orang yang sudah meninggal itu bukan berarti mereka tidak lenyap samasekali juga tidak pula rusak hubungan dengan orang yang masih hidup. Tetapi yang meninggal itu hanya terputus hubungan antara ruh dan badan dan hanya berpindah dari alam dunia ke alam kubur. (Tafsir ahkam Juz 7: hal 326).

Dengan demikian apakah orang yang meninggal itu bisa mendengar orang yang masih hidup saat memberi salam atau lainya, cukup jelas keterangan ayat dan hadits pada peristiwa Nabi memanggil gembong2 kafir qurays saat gugur di perang Badar.

Untuk lebih jelasnya lagi, kita bisa membuka Kitab Ar Ruh karangan Ibnu Qoyyim Al Jauzi (Juz I halaman 5), kalau tidak salah Ibnul Qoyyim itu murid kesayangan Ibnu Taymiyah. Pada halaman itu tertulis riwayat Ibnu Abdil Bar yang menyandarkan kepada ketetapan sabda Rasulullah saw:

ما من مسلم يمر على قبر أخيه كان يعرفه في الدنيافيسلم عليه إلا رد الله عليه روحه حتى يرد عليه السلام

“Orang-orang muslim yang melewati kuburan saudaranya yang dikenal saat hidupnya kemudian mengucapkan salam, maka Allah mengembalikan ruh saudaranya yang meninggal itu untuk menjawab salam temanya.”

Bahkan menurut Ulama Salaf mereka telah ijma’ (sepakat) bahwa masalah orang yang mati itu mampu mengenal orang-orang yang masih hidup pada saat berziarah bahkan para ahli kubur mersasa gembira atas dengan kedatangan para peziarah. Hal ini, kata Ibnu Qoyyim, merupakan riwayat atsar yang mutawatir. Selengkapnya kata-kata Ibnu Qoyyim itu sebagai berikut:

والسلف مجمعون على هذاوقد تواترت الآثار عنهم بأن الميت يعرف زيارة الحي له ويستبشر به

Ibnu Qoyyim mengutip ungkapan Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abid biin Abidunya dalam kitab Kubur pada bab ma’rifatul mauta biziyaratil ahya. Menyebut hadits sebagai berikut:

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت قال رسول الله ما من رجل يزور قبر أخيهويجلس عنده إلا استأنس به ورد عليه حتى يقوم

SalamArtinya:

Dari Aisyah ra berkata:

Rasulullah saw bersabda:

“Siapa saja yang berziarah ke kuburan saudaranya, kemudian duduk di sisi kuburnya maka menjadi tenanglah si mayit, dan Allah akan mengembalikan ruh saudaranya yang meninggal itu untuk menemaninya sampai selesai berziarah.”

Mayit menjawab salam siapa saja

Orang yang meninggal dunia, akan menjawab salam baik yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya sebagaimana dalam sebuah riwayat hadits berikut:

عن أبى هريرة رضى الله تعالى عنه قال إذا مرالرجل بقبر أخيه يعرفه فسلم عليه رد عليه السلام وعرفه وإذا مر بقبر لا يعرفه فسلمعليه رد عليه السلام

Dari Abi Hurairah ra, Rasulullahsaw bersabda: “Apalabila orang yang lewat kuburan saudaranya kemudian memberi salam, maka akan dibalas salam itu, dan dia mengenal siapa yang menyalami. Demikian juga mereka (para mayyit) akan menjawab salamnya orang-orang yang tidak kenal.”

Waktu Ziarah yang baik

Satu ketika, Seorang lelaki dari Keluarga ‘Ashim Al Jahdari bercerita bahwa dia melihat Ashim al Jahdari dalam mimpinya setelah beliau meninggal dua tahun. Lalu lelaki itu bertanya:

“Bukankah Anda sudah meninggal?”

“Betul!”

“Lalu dimana sekarang?”

“Demi Allah, saya ada didalam taman Syurga. Saya juga bersama sahabat-sahabatku berkumpul setiap malamJum’at hingga pagi harinya di tempat (kuburan) Bakar bin Abdullah al Muzanni. Kemudian kami saling bercerita.”

“Apakah yang bertemu itu jasadnya saja atau ruhnya saja?”

“Kalau jasad kami sudah hancur, jadi kami berkumpul dalam ruh”

“Apakah Anda sekalian mengenal kalau kami itu berziarah kepada kalian?”

“Benar!, kami mengetahui setiap sore Jum’at dan hari Sabtu hingga terbit matahari”

“Kalau hari lainnya?”

“Itulah fadilahnya hari Jum’at dan kemuliannya”

(Cerita itu menurut Ibnu Qoyim bersumber dari Muhammad bin Husein dari Yahya bin Bustom Al Ashghor dari Masma’dari Laki-laki keluarga Asyim Al Jahdari)

Bahkan bukan sore Jum’at dan hari Sabtu saja, menurut riwayat Muhammad bin Husein dari Bakar bin Muhammaddari Hasan Al Qoshob berkata bahwa orang-orang yang sudah meninggal mampu mengetahui para peziarah pada hari dua hari yang mengiringi Jum’at (Hari Kamis dan Sabtu).

Bentuk Salam

Ucapaan salam yang disampaikan saat melewati makbaroh atau berziarah biasanya seperti yang banyak ditulis dalam kitab hadits yang sangat banyak adalah dengan ungkapan:

ألسلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا ان شاء الله تعالى بكم لاحقون

“Semoga keselamatan atas kamu wahai kaum mu’minin yang ada di alam kubur, Insya Allah kami akan menyusul.”

Kesimpulan:

Orang yang meninggal dengan izin Allah akan mendengar salam orang yang masih hidup dan mampu menjawabnya. Bahkan pendengaran mereka lebih peka daripada yang hidup.

Orang yang memberi salam kepada ahli kubur baik yang dikenal maupun tidak dikenal, merekapun akan menjawab salam kita.

Para ahli kubur akan merasa tenang apabila ada saudaranya yang menziarahi.

Orang yang berziarah bagus dilakukan pada hari Kamis, Jum’at dan Sabtu.

Ucapan salam kepada ahli kubur yang tenar adalah ucapan: Assalamu ‘alaikum daara qoumin mu’mininina, wainna insya Allahu ta’alaa bikum laahikuum.

Dengan keterangan ini, maka tidak heran jika di Kuburan “Gajah Ngambung” Buntet Pesantren Cirebon jika Jum’at sore ba’da ashar, banyak keluarga Kyai Buntet berziarah. Ternyata ada dasarnya.
Jika kemudian ada seorang tokoh dari NU pernah mengatakan bahwa saya lebih percaya kepada yang mati ketimbang yang hidup. Ternyata dari dasar hadits Rosulullah saw di atas, sangat masuk akal. Jadi kepada Zubaidah, hayo jangan ragu-ragu untuk terus bersilaturahmi kepada ahli kubur baik sanak keluarga kita maupun para alim ulama.

Wallahu a’lam.

Materi ini, hasil kupasan dewan asatidz Buntet Pesantren di Jakarta.

Sumber:
1. Tafsir Ahkam, Imam Al Qurthubi
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Ar Ruh, Imam Ibnu Qoyyim Al Jauzy

30 Juli 2011 23.00
Achmad Junaedi mengatakan...

kita bisa membuka Kitab Ar Ruh karangan Ibnu Qoyyim Al Jauzi (Juz I halaman 5), kalau tidak salah Ibnul Qoyyim itu murid kesayangan Ibnu Taymiyah. Pada halaman itu tertulis riwayat Ibnu Abdil Bar yang menyandarkan kepada ketetapan sabda Rasulullah saw:

ما من مسلم يمر على قبر أخيه كان يعرفه في الدنيافيسلم عليه إلا رد الله عليه روحه حتى يرد عليه السلام

“Orang-orang muslim yang melewati kuburan saudaranya yang dikenal saat hidupnya kemudian mengucapkan salam, maka Allah mengembalikan ruh saudaranya yang meninggal itu untuk menjawab salam temanya.”

Bahkan menurut Ulama Salaf mereka telah ijma’ (sepakat) bahwa masalah orang yang mati itu mampu mengenal orang-orang yang masih hidup pada saat berziarah bahkan para ahli kubur mersasa gembira atas dengan kedatangan para peziarah. Hal ini, kata Ibnu Qoyyim, merupakan riwayat atsar yang mutawatir.

Selengkapnya kata-kata Ibnu Qoyyim itu sebagai berikut:

والسلف مجمعون على هذاوقد تواترت الآثار عنهم بأن الميت يعرف زيارة الحي له ويستبشر به

Ibnu Qoyyim mengutip ungkapan Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abid biin Abidunya dalam kitab Kubur pada bab ma’rifatul mauta biziyaratil ahya. Menyebut hadits sebagai berikut:

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت قال رسول الله ما من رجل يزور قبر أخيهويجلس عنده إلا استأنس به ورد عليه حتى يقوم

SalamArti bebasnya:

Dari Aisyah ra berkata:

Rasulullah saw bersabda:

“Siapa saja yang berziarah (berkunjung) ke kuburan saudaranya, kemudian duduk di sisi kuburnya maka menjadi tenanglah si mayit, dan Allah akan mengembalikan ruh saudaranya yang meninggal itu untuk menemaninya sampai selesai berziarah.”

Menjawab salam siapa saja

Orang yang meninggal dunia, akan menjawab salam baik yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya sebagaimana dalamsebuah riwayat hadits berikut:

عن أبى هريرة رضى الله تعالى عنه قال إذا مرالرجل بقبر أخيه يعرفه فسلم عليه رد عليه السلام وعرفه وإذا مر بقبر لا يعرفه فسلمعليه رد عليه السلام

Dari Abi Hurairah ra,

Rasulullahsaw bersabda:

“Apalabila orang yang lewat kuburan saudaranya kemudian memberi salam, maka akan dibalas salam itu, dan dia mengenal siapa yang menyalami. Demikian juga mereka (yang mati) akan menjawab salam orang-orang yang tidak kenal.”

note:
buat pengunjung semua..silakan aktif dalam diskusi ilmiah tentang kerancuan syeh albani dalam menilai hadist...

http://myquran.com/forum/showthread.php/21007-Kerancuan-Albani-Dalam-Menilai-Hadis/page15

11 Agustus 2011 10.11
Anonim mengatakan...
@achmad junaedi

"buat pengunjung semua..silakan aktif dalam diskusi ilmiah tentang kerancuan syeh albani dalam menilai hadist..."

Maaf mas, apa ga ada bahasan lain yg lebih bermutu selain masih saja menjelek2an syaikh Albani???? Bosan mas, topiknya itu itu terus dan bahasannya jg muter2 disitu2 aja. Mbok ya bahas sesuatu yg dapat meningkatkan amalan kita tho, jgn malah menambah dosa.

11 Agustus 2011 16.41
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...

Metode ahli hadits dan fuqahaa adalah menjamak beberapa hadits yang seakan-akan bertentangan.

Seandainya Anda mengatakan bahwa mayit itu mendengar secara mutlak, lantas apa faedahnya nash-nash yang menafikkannya ?.

Atau, beberapa nash yang menyatakan bahwa mayir mendengar orang yang hidup itu hanya khusus pada waktu-waktu tertentu ?.

Adapun tentang hadits yang Anda bawakan :

1. Riwayat Ibnu 'Abdil-Barr, berikut riwayat beserta sanadnya secara lengkap :

أخبرنا أبو عبد الله عبيد بن محمد قراءة مني عليه سنة تسعين وثلاثمائة في ربيع الأول قال: أملت علينا فاطمة بنت الريان المستملي في دارها بمصر في شوال سنة اثنتين وأربعين وثلاثمائة قالت: حدثنا الربيع بن سليمان المؤذن، صاحب الشافعي، قال: حدثنا بشر بن بكير، عن الأوزاعي، عن عطاء، عن عبيد بن عمير، عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ما من أحد مر بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام ))

Abu Bakr Al-Isybiliy mengatakan bahwa sanadnya shahih.
Akan tetapi, ini perlu ditinjau kembali. Perhatikan riwayat berikut :

وأخبرنا أبو القاسم عبد الرحمن بن محمد بن عبد الله السراج -( قال عنه الذهبي ثقة عالماً فقيها ))بنيسابور -حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب الأصم (( محدث عصره بلا منازعة ))حدثنا الربيع بن سليمان حدثنا بشر بن بكير حدثنا عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عطاء بن يسار عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:"ما من عبد يمر بقبر رجل كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام".

[Diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Taariikh-nya].

Faathimah bintu Ar-Rayyaan dalam sanad Ibnu 'Abdil-Barr telah menyelisihi Abu Bakr Al-Asham yang meriwayatkan
dari Ar-Rabii',
dari Bisyr bin Bukair,
dari 'Abdurrahmaan bin Zaid bin Aslam,
dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu'.
Riwayat Al-Khathiib ini sama dengan Tamaam Ar-Raaziy.
Abu Bakr Al-Asham ini lebih kuat daripada Faathimah.
Dan Faathimah sendiri, belum ditemukan biografinya.

Jadi, sanad yang benar adalah sanad Bisyr bin Bukair, dari 'Abdurrahmaan bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfuu'.

'Abdurrahmaan bin Zaid, ia seorang yang lemah. Bahkan Al-Haakim dan Abu Nu'aim mengatakan : Ia meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits palsu [lihat At-Tahdziib].

Intinya, hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah.

2. Hadits 'Aaisyah :

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت قال رسول الله ما من رجل يزور قبر أخيهويجلس عنده إلا استأنس به ورد عليه حتى يقوم

Aisyah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang berziarah (berkunjung) ke kuburan saudaranya, kemudian duduk di sisi kuburnya maka menjadi tenanglah si mayit, dan Allah akan mengembalikan ruh saudaranya yang meninggal itu untuk menemaninya sampai selesai berziarah.”

11 Agustus 2011 16.51
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Hadits beserta sanadnya adalah sebagai berikut :

حدثنا محمد بن عون حدثنا يحيى بن يمان عن عبد الله بن سمعان عن زيد بن أسلم عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت قال رسول الله ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عنده إلا استأنس به ورد عليه حتى يقوم

Riwayat ini sangat lemah. 'Abdullah bin Sam'aan, nama lengkapnya adalah 'Abdullah bin Ziyaad bin Sulaimaan bin Sam'aan Al-Makhzuumiy; seorang yang matruuk. Bahkan dituduh berdusta.

3. Hadits Abu Hurairah :

عن أبى هريرة رضى الله تعالى عنه قال إذا مرالرجل بقبر أخيه يعرفه فسلم عليه رد عليه السلام وعرفه وإذا مر بقبر لا يعرفه فسلم عليه رد عليه السلام

Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Apalabila orang yang lewat kuburan saudaranya kemudian memberi salam, maka akan dibalas salam itu, dan dia mengenal siapa yang menyalami. Demikian juga mereka (yang mati) akan menjawab salam orang-orang yang tidak kenal.”

Hadits ini lemah, karena keterputusan Zaid bin Aslam dengan Abu Hurairah. Zaid tidak pernah mendengar riwayat Abu Hurairah sebagaimana dikatakan Ibnu Ma'iin. Kelemahannya juga terletak pada salah seorang perawinya yang bernama Al-Jauhariy. Ibnu Ma'iin berkata : "Tidak ada apa-apanya". Abu Daawud : "Lemah, aku tidak menulis riwayat darinya sedikitpun".

****

Seandainya shahih, apakah dalil ini menjadi sesuatu yang umum ?. Atau,.. ia hanyalah menunjukkan keadaan khusus saja, yaitu si mayit menjawab salam yang diucapkan peziarah ?.

****

NB : Anda tidak salah bahwa Ibnul-Qayyim adalah murid Ibnu Taimiyyah, sebagaimana Ibnu Katsiir dan Adz-Dzahabiy. Ibnu Taimiyyah memang banyak melahirkan ulama besar.

11 Agustus 2011 16.51
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
Ralat. Di atas tertulis :

"Abu Bakr Al-Isybiliy mengatakan bahwa sanadnya shahih".

Yang benar, adalah 'Abdul-Haqq Al-Isybiliy.

12 Agustus 2011 14.35
Umar Abdil Aziz mengatakan...

Mas mungkin bisa sama-sama direnungkan :

1. Surah Ali 'Imran 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169)

Orang-orang yang telah terbunuh sebagai syuhada dalam perang fi sabilillah, janganlah dikira mereka mati, sebagai anggapan orang-orang munafik, akan tetapi mereka masih hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dan nikmat yang berlimpah-limpah.

Bagaimana keadaan hidup mereka seterusnya, hanyalah Allah yang mengetahui.

2. وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.(QS. 2:154)

3. At Taubah 105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar beliau mengatakan kepada kaum muslimin yang mau bertobat dan membersihkan diri dari dosa-dosa dengan cara bersedekah dan mengeluarkan zakat, agar mereka melakukan amal-amal saleh sebanyak mungkin. Di samping itu Allah swt. juga memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyampaikan kepada mereka, bahwa apabila mereka telah melakukan amal-amal saleh tersebut maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin lainnya akan melihat dan menilai amal-amal tersebut. Akhirnya mereka akan dikembalikan-Nya ke alam akhirat, akan diberikannya kepada mereka ganjaran atas amal-amal yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Kepada mereka dianjurkan agar tidak hanya merasa cukup dengan melakukan tobat, zakat, sedekah dan salat semata-mata melainkan haruslah mereka mengerjakan semua apa yang diperintahkan kepada mereka. Allah akan melihat amal-amal yang mereka lakukan itu sehingga mereka semakin dekat kepada-Nya. Rasulullah juga akan melihat amal-amal tersebut disebabkan doa restu beliau untuk mereka akan semakin bertambah pula amal-amal kebajikan itu sehingga mereka pun akan mengikuti dan mencontohnya pula, sedang Allah swt. memberikan pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang dicontoh tanpa mengurangi pahala mereka yang mencontoh.

Sebagaimana diketahui, kaum Muslimin akan menjadi saksi di hadapan Allah pada hari kiamat mengenai iman dan amalan dari sesama kaum Muslimin. Dan persaksian yang didasarkan atas penglihatan mata kepala sendiri adalah lebih kuat dan lebih dapat dipercaya. Oleh sebab itu, kaum Muslimin yang melihat amal kebajikan yang dilakukan oleh mereka yang insaf dan bertobat kepada Allah, tentulah akan menjadi saksi yang kuat di hari kiamat, tentang benarnya iman, tobat dan amal saleh mereka itu.

4. Hadist Anas bin Malik : Rasulullah bersabda :

" Para nabi itu hidup di alam kubur mereka dan menunaikan sholat."

(HR Abu Ya'la 3425, HR al-Baihaqi, Hayat al-Anbiya (hal 3 ) dan menilainya shohih, al-Bazzar dalam al_mUsnad (233 dan 256), al-Hafidz Ibn Askir dalam Tarikh Dimasyq (4/285), al-Hafidz Ibn 'Adi dalam Kamil (9/2), al-Hafidz Abu Nuaim dalam Dzikir Akhbar Ashbihan (2/39) dan hadist ini juga dinilai shohih olehal Hafizdh al-Munawi.

Saturday, 22 August 2015

Apakah Talqin Untuk Yang Hidup Atau Yang Mati

Apakah Talqin Untuk Yang Hidup Atau Yang Mati?

Imam an-Nawawi rhm. menulis dalam kitab "Raudhatuth Tholibiin"

Dan telah diperkukuhkan hadits mengenai talqin ini dengan kesaksian beberapa hadits yang shohih, seperti hadits :

"Mohonlah kepada Allah baginya (yakni bagi si mati) akan ketetapan (yakni ketetapan dalam menjawab fitnah kubur),"

dan wasiat Sayyidina 'Amr bin al-'Aash:

"Berdirilah kamu di sisi kuburku (walaupun hanya) selama kadar menyembelih seekor sembelihan dan membahagi-bahagi dagingnya, sehingga aku dapat merasakan ketenangan dengan kalian dan aku mengetahui dengan apa akan aku kembalikan utusan-utusan Tuhanku (yakni Munkar dan Nakir)", sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya. Sentiasalah penduduk Kota Syam beramal dengan amalan talqin ini sejak zaman permulaan Islam lagi, iaitu zaman di mana orang-orangnya dijadikan ikutan.

Maka berkata para sahabat kami (yakni ulama Syafi'i): " Dan duduklah orang yang membaca talqin itu di sisi kepala kuburan si mati, dan adapun anak kecil yang belum baligh dan seumpamanya, maka tidaklah ditalqinkan."

Dalam hadits-hadits Nabi saw. menerangkan bahwa ruh-ruh orang yang wafat itu hidup dialam barzakh, bisa mendengar terompah-terompah kaki orang yang mengantarkan kekuburnya (HR Bukhori, Muslim dan lain-lain),

bisa mendo’akan kerabatnya dan sebagainya (HR Ahmad dan Turmudzi dari Anas).

Begitu juga Imam Bukhori dan Muslim mengemukakan kisah perjalanan Isra-Mi’raj Nabi saw.. Setiap beliau saw. bertemu para Nabi dan Rasul terdahulu, semua mendo’akan kebajikan bagi beliau saw.. Dengan demikian disini menunjukkan bahwa arwah orang yang telah wafat di alam baqa bisa berdo’a.

Firman Allah swt.: “Janganlah kalian berkata; bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup (dialam lain), tetapi kalian tidak menyadari nya”. (Al-Baqarah : 154)

Dan firman-Nya: “Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dan mereka memperoleh rizki (kenikmatan besar)” ( Ali Imran : 169)

Dua firman Allah diatas disamping menyebutkan orang-orang yang gugur di jalan Allah itu tidak mati tetap hidup (ruhnya) mendapat kenikmatan, juga dalam ayat-ayat itu tidak menyebutkan adanya pembatasan yakni hanya ruh-ruh orang-orang yang gugur dalam peperangan saja yang masih hidup.

Apakah Rasullah tidak mendapat kenikmatan jikalau kita batasi maana ayat tersebut hanya orang mati shahid.

Al-Hasan ibn 'Ali al-Barbahari

Al-Hasan ibn 'Ali al-Barbahari

al-Ḥasan ibn ʻAlī al-Barbahārī

Born. Baghdad, Iraq
Died. 941 CE
Era  Medieval era
Region. Iraq scholar
School. Hanbali
Influences.  Ahmad ibn Hanbal
Influenced. Ibn Battah[1]

Al-Ḥasan ibn ʻAlī al-Barbahārī was a Sunni Islamic theologian from Iraq. His books are peppered with stinging remarks that place the Shias, Qadaris, Mu'tazilis and Ash'aris in an extremely negative light. He was responsible for a number of invasive pogroms and instances of sectarian violence in 10th-century Baghdad.[2] Princeton University scholar of Islamic history Michael Cook has described al-Barbahari as a manifest demagogue.[3]

Al-Barbahari was born in Baghdad, Iraq, and learned from the students of Ahmad ibn Hanbal. Although al-Barbahari was an adherent of the Hanbalite school of jurisprudence, his contributions to the field were negligible.[4] Al-Barbahari had several widely known students, including the famed scholar Ibn Battah. His status as an authority within the Hanbali school was not universal, however, and al-Barbahari and his students were often in conflict with Abu Bakr al-Khallal, generally considered to be the sole preserver and codifier of the school.[4] While al-Barbahari contributed little to jurisprudence, he was well known as a polemicist. His book Sharh as-Sunnah was written to educate the largely unsophisticated Hanbalites in methods to identify heretics, and advocated a fear-based system of religious worship.[5] Theologian Abu al-Hasan al-Ash'ari's seminal work Ibanah was essentially a critique of the Hanbalite dogmatists in general and al-Barbahari in particular.[6]

Al-Barbahari was notable among early Hanbalites as a defender of the practice of Taqlid, or accepting the statements of clerics without proof.[7]

Sectarianism

Al-Barbahari was the leader of a number of violent, invasive pogroms during the Abbasid Caliphate in Baghdad due to sectarian views. His audience was strong in the Hanbalite quarter of the city.[8] He was very influential among the urban lower classes, and exploited popular grievances to foment what often turned into mob violence against religious minorities and supposed sinners.[2][9] Under the influence of al-Barbahari and popular pressure of his followers, the Caliphs Al-Muqtadir and Al-Qahir enforced Hanbalism as the state creed, executing al-Barbahari's enemies and even burying renowned Muslim historian Muhammad ibn Jarir al-Tabari, considered a heretic by al-Barbahari as well as most Hanbalites at the time, in secret due to fears of mob violence were a funeral to be held at the public graveyard.[9]

The efforts of al-Barbahari and the Baghdad Hanbalites were put to an end in 935 by the new Caliph Ar-Radi. Al-Barbahari had ordered mobs to break into any homes suspected of containing wine or musical instruments and organized groups of men to interrogate couples in public streets to ensure conservative conduct in public.[9] The mobs looted shops, not all necessarily selling illegal contraband, and physically attacked female entertainers.[10] Ar-Radi ended the favored status of the Hanbalites, condemning them publicly for promoting anthropotheism, assault, persecution of Shia Muslims and veneration of the grave of Ahmad ibn Hanbal while simultaneously prohibiting the veneration of graves of Ali and his descendants.[11]

Thursday, 20 August 2015

The Finality Of The Prophethood


The Messenger is not the Father of any Man

Allah states:

﴿مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مّن رِّجَالِكُمْ﴾

(Muhammad is not the father of any of your men,) After this it was not permitted to say Zayd bin Muhammad, i.e., he was not his father even though he had adopted him. No male child of the Prophet lived until puberty. Khadijah, may Allah be pleased with her, bore him Al-Qasim, At-Tayyib and At-Tahir, but they died in childhood. Mariyah Al-Qibtiyyah bore him Ibrahim, but he also died in infancy. He also had four daughters from Khadijah: Zaynab, Ruqayyah, Umm Kulthum and Fatimah, may Allah be pleased with them all. Three of them died during his lifetime, Fatimah lived long enough to be bereaved of him, then she died six months later.

 
He is the Last of the Prophets

﴿وَلَـكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيماً﴾

(but he is the Messenger of Allah and the last of the Prophets. And Allah is Ever All-Aware of everything.) This is like the Ayah:

﴿اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ﴾

(Allah knows best with whom to place His Message) (6:124). This Ayah clearly states that there will be no Prophet after him. If there will be no Prophet after him then there will surely be no Messenger after him either, because the status of a Messenger is higher than that of a Prophet, for every Messenger is a Prophet but the reverse is not the case. This was reported in many Mutawatir Hadiths narrated from the Messenger of Allah via a group of his Companions, may Allah be pleased with them.

Imam Ahmad recorded a narration from Ubayy bin Ka`b, from his father that the Prophet said:

«مَثَلِي فِي النَّبِيِّينَ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَحْسَنَهَا وَأَكْمَلَهَا، وَتَرَكَ فِيهَا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ لَمْ يَضَعْهَا، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِالْبُنْيَانِ وَيَعْجَبُونَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: لَوْ تَمَّ مَوْضِعُ هَذِهِ اللَّبِنَةِ، فَأَنَا فِي النَّبِيِّينَ مَوْضِعُ تِلْكَ اللَّبِنَة»

(My parable among the Prophets is that of a man who built a house and did a good and complete job, apart from the space of one brick which he did not put in its place. The people started to walk around the building, admiring it and saying, "If only that brick were put in its place. '' Among the Prophets, I am like that brick.) It was also recorded by At-Tirmidhi, who said "Hasan Sahih.''

Another Hadith
Abu Dawud At-Tayalisi recorded that Jabir bin `Abdullah, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said:

«مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَكْمَلَهَا وَأَحْسَنَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ، فَكَانَ مَنْ دَخَلَهَا فَنَظَرَ إِلَيْهَا قَالَ: مَا أَحْسَنَهَا إِلَّا مَوْضِعَ هَذِهِ اللَّبِنَةِ، فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ خُتِمَ بِي الْأَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَام»

(The parable of myself and the Prophets is that of a man who built a house and did a complete and good job, except for the space of one brick. Whoever entered it would look at that space and say, how good it is, apart from the space of that brick. My position is like that of that brick, and the Prophets -- blessings and peace be upon them -- end with me.) It was also recorded by Al-Bukhari, Muslim and At-Tirmidhi, who said, "It is Sahih Gharib with this chain of narrators.''

Another Hadith
Imam Ahmad recorded that Abu Sa`id Al-Khudri, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said:

«مَثَلِي وَمَثَلُ النَّــبِيينَ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا إِلَّا لَبِنَةً وَاحِدَةً، فَجِئْتُ أَنَا فَأَتْمَمْتُ تِلْكَ اللَّبِنَة»

(The parable of myself and the Prophets is that of a man who built a house and completed it apart from the space of one brick. I have come and completed that brick.) This was also recorded by Muslim.

 Another Hadith
Imam Ahmad recorded that Abu Hurayrah, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said:

«إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ ابْتَنَى بُيُوتًا فَأَكْمَلَهَا وَأَحْسَنَهَا وَأَجْمَلَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهَا، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ وَيُعْجِبُهُمُ الْبُنْيَانُ وَيَقُولُونَ: أَلَّا وَضَعْتَ ههُنَا لَبِنَةً فَيَتِمُّ بُنْيَانُك»

(The parable of myself and the Prophets who came before me is that of a man who built houses and made them complete and beautiful apart from the space of a brick in one of the corners. The people started to walk around, admiring the construction and saying, If only you put a brick here, your construction will be complete.) The Messenger of Allah said:

«فَكُنْتُ أَنَا اللَّبِنَة»

(And I am that brick.) It was also recorded by (Al-Bukhari and Muslim).

 
Another Hadith
Imam Ahmad recorded that Abu Hurayrah, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said:

«فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتَ : أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِي النَّبِيُّون»

(I have been given preference over the other Prophets in six ways: I have been given the ability to speak concisely; I have been aided by fear (cast into the hearts of my enemies); the spoils of war have been made permissible for me; the entire earth has been made a Masjid and a means of purification for me; I have been sent to all of mankind; and the Prophets end with me.) This was also recorded by At-Tirmidhi and Ibn Majah; At-Tirmidhi said, "It is Hasan Sahih.''
 

Another Hadith
Imam Ahmad recorded that Abu Sa`id Al-Khudri, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said:

«مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ وَاحِدَةٍ، فَجِئْتُ أَنَا فَأَتْمَمْتُ تِلْكَ اللَّبِنَة»

(The parable of myself and the Prophets who came before me is that of a man who built a house and completed it apart from the space of one brick. I have come and completed that brick.) It was also recorded by Muslim.

Another Hadith
Jubayr bin Mut`im, may Allah be pleased with him, said that he heard the Messenger of Allah say:

«إِنَّ لِي أَسْمَاءَ أَنَا مُحَمَّدٌ، وَأَنَا أَحْمَدُ، وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللهُ تَعَالَى بِيَ الْكُفْرَ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِي»

(I have several names: I am Muhammad, and I am Ahmad; I am Al-Mahi (the eradicator) through whom Allah will erase disbelief; I am Al-Hashir (the gatherer) at whose feet mankind will gather; and I am Al-`Aqib (the final one) after whom there will be no Prophet.) It was also recorded in the Two Sahihs. And there are many other Hadiths on this topic. Allah has told us in His Book, and His Messenger has told us in the Mutawatir Sunnah, that there will be no Prophet after him, so that it may be known that everyone who claims this status after him is a liar and fabricator who is misguided and is misguiding others. Even if he twists meanings, comes up with false claims and uses tricks and vagaries, all of this is false and is misguidance as will be clear to those who have understanding. This is what Allah caused to happen in the case of Al-Aswad Al-`Ansi in the Yemen and Musaylimah the Liar in Al-Yamamah, whose false miracles and nonsensical words showed everyone who was possessed of understanding that they were liars who were leading people astray; may the curse of Allah be upon them both. This is the case with every false prophet until the Day of Resurrection, until they end with Al-Masih Ad-Dajjal (the Antichrist). Each of these liars is given by Allah signs which show the people of knowledge and the believers that his message is false -- which is part of the perfect kindness of Allah towards His creation. These liars do not enjoin what is good, nor forbid what is evil, unless they do so by coincidence or because it serves an ulterior purpose. They are the utmost in falsehood and immorality, in all that they say and do, as Allah says:

﴿هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَن تَنَزَّلُ الشَّيَـطِينُ - تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴾

(Shall I inform you (O people!) upon whom the Shayatin descend They descend on every lying, sinful person.) (26:221-222) This is in contrast to the Prophets -- may blessings and peace be upon them -- for they are the utmost in righteousness, truthfulness, wisdom, uprightness and justice in all that they say and do, command and forbid. In addition to this they are supported with miracles and clear and obvious proof. May the blessings and peace of Allah be upon them always, as long as heaven and earth remain.

"The tribe of Israel was guided by prophets. When a prophet passed away, another succeeded him. But no prophet will come after me; only caliphs will succeed me." (Sahih Bukhari) 

Tuesday, 18 August 2015

Why should we follow scholars?

Why should we follow scholars?

The Prophet Muhammed (peace be upin him) said:

“Scholars are the inheritors of the prophets.”

A Quran verse is said to coincide with this hadith:

“Then We gave the Scripture as inheritance unto those whom We elected of Our servants.” [Qur'an, 35.32]

Another hadith states:

”The superiority of a scholar (alim) over the devout (abid) is like my superiority over a worshipper or like that of the moon in the night when it is full over the rest of the stars, and truly the scholars are the heirs of the Prophets, and truly the Prophets do not leave behind them gold or silver, they only leave knowledge as their heritage. So whosoever acquires knowledge acquires a huge fortune.” (Transmitted by Ahmad, Abu Dawud and al Tirmidhi and Ibn Majah.)

Do not speak without Knowledge

 ﴿وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً ﴾

(36. And follow not that of which you have no knowledge. Verily, the hearing, and the sight, and the heart of each of those ones will be questioned (by Allah).)

 
Tafsir In Kathir

`Ali bin Abi Talhah reported that Ibn `Abbas said: "This means) do not say (anything of which you have no knowledge).'' Al-`Awfi said: "Do not accuse anyone of that of which you have no knowledge.'' Muhammad bin Al-Hanafiyyah said: "It means bearing false witness.'' Qatadah said: "Do not say, `I have seen', when you did not see anything, or `I have heard', when you did not hear anything, or `I know', when you do not know, for Allah will ask you about all of that.'' In conclusion, what they said means that Allah forbids speaking without knowledge and only on the basis of suspicion, which is mere imagination and illusions. As Allah says:

﴿اجْتَنِبُواْ كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾

(Avoid much suspicion; indeed some suspicions are sins.) ﴿49:12﴾ According to a Hadith:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّنَفَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيث»

(Beware of suspicion, for suspicion is the falsest of speech.) The following Hadith is found in Sunan Abu Dawud:

«بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ: زَعَمُوا»

(What an evil habit it is for a man to say, `They claimed...')

According to another Hadith:

«إِنَّ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِيَ الرَّجُلُ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَيَا»

(The worst of lies is for a man to claim to have seen something that he has not seen.) In the Sahih it says:

«مَنْ تَحَلَّمَ حُلْمًا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَلَيْسَ بِفَاعِل»

(Whoever claims to have seen a dream (when he has not seen) will be told on the Day of Resurrection to make a knot between two barley grains, and he will not be able to do it.)

﴿كُلُّ أُولـئِكَ﴾

(each of those ones) means these faculties, hearing, sight and the heart,

﴿كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً﴾

(will be questioned.) means, the person will be asked about them on the Day of Resurrection, and they will be asked about him and what he did with them.

Hadith on Knowledge: When scholars die, people will then take the ignorant as their religious leaders

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا 

100 صحيح البخاري كتاب العلم باب كيف يقبض العلم

2673 صحيح مسلم كِتَاب الْعِلْمِ يتقارب الزمان ويقبض العلم وتظهر الفتن

Abdullah ibn Amr reported: I heard the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, say, “Verily, Allah does not take away knowledge by snatching it from the people but rather He takes away knowledge with the death of the scholars until He leaves no scholar behind and the people turn to the ignorant as their leaders. They are asked to give religious judgments without knowledge, thus they are led astray and lead others astray.”

Source: Sahih Bukhari 100, Sahih Muslim 2673

Grade: Muttafaqun Alayhi (authenticity agreed upon) according to Al-Bukhari and Muslim

It is instructive that the departure of knowledge is not the result of a literal taking away of knowledge from the hearts of ordinary men and woman, for there is little knowledge there to begin with. What thirst- quenching sustenance is there in empty eater- skin?

Knowledge is a combination of data and understanding. Data is abundant, understanding is not. Data grows exponentially, understanding retreats. Data is revered, methodology is scorned. With the departure of religious scholars, goes the distillation of data. Nobody to quality and quantify data. All that remains is data, and the methodology that laymen and laywomen can resort to in interpreting the data is a kind of half-hearted literalism and confused obsolutism.

There is no more mortal blow than this.

AHADITH ON INTERPRETING THE HOLY QUR'AN WITHOUT SOUND KNOWLEDGE
 

There are a number of Hadith related to the issue of interpreting the Holy Qur'an without sound knowledge. Two of them are found in the collection of Ahadith known as Mishkatul Masabih by Imam al-Tabrizi (ash-Shafi'i), one from Ibn Abbas and the other from Jundub (Allah be pleased with them):-

(A) Ibn Abbas (Allah be pleased with him) reported that the Prophet (Peace be upon him) as saying: "He who speaks about the Qur'an on the basis of his personal opinion (only) would find his abode in Hell fire. In another version: He who speaks about the Qur'an without sound knowledge of it would find his abode in Hell fire." (Tirmidhi).

(B) Jundub (Allah be pleased with him) reported the Prophet (Peace  be upon him) as saying: "He who speaks about the Qur'an on the  basis of his personal opinion (by any accord) he commits an error,  even if he is right." (Tirmidhi and Abu Dawood). (See Mishkatul- Masabih, 1/234-235, English ed'n)

Imaam Ibn Seereen (rahimahullaah) said: 'Indeed, This knowledge Is Deen, So Look To The One You Take Your Deen From

إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذوا دينكم

“This Knowledge is a Matter of Deen, so be careful whom you take your deen from.”

— Muhammad Ibn Sirin (d. 110 AH) [Sahih Muslim]

Sheikh Ahmad Bin Umar Bazmool (hafidha-hullaah) stated in explanation of the above statement of Imaam Ibn Seereen (rahimahullaah):

Indeed, Allah (Azza-Wa-Jal) has commanded us this (affair) when He (Azza-Wa-Jal) said: 'So ask the people of the Dhikr (the Reminder), if you do not know'. [21:7]

Allah commanded us to ask the people of the Dzikr (the Reminder), and the Salafus Saalih clarified that the Ulama are the people of the Dhikr.  So Allaah (Azza-Wa-Jal) specifying the Ulama as (those) to be asked is evidence that others besides them are not to be asked.  And likewise, Imaams Bukhaari and Muslim reported in the Saheehayn on the authority of Aa'isha (radiyallaahu-anhaa) that the Prophet (sallal-laahu-alayhi-wasallam) recited the statement of Allah (Azza-Wa-Jal):

''It is He Who has sent down to you (Muhammad) the Book (this Qur'aan)
In it are Verses that are entirely clear, they are the foundations of the Book [and those are the Verses of Al-Ahkaam (commandments, etc.), Al-Faraa'id (obligatory duties) and Al-Hudud (legal laws for the punishment of thieves, adulterers, etc.)]; and others not entirely clear. So as for those in whose hearts there is a deviation (from the truth) they follow that which is not entirely clear thereof, seeking Al-Fitnah (polytheism and trials, etc.), and seeking for its hidden meanings, but none knows its hidden meanings save Allaah.'[3:7]  

(Then after reciting the above ayah), he (sallal-laahu-alayhi-wasallam) said: 'If you see those who follow thereof that is not entirely clear, then they are those whom Allaah has named [as having deviation from the truth].  So beware of them'[1]

In this hadeeth is a warning against a people who give out knowledge, teach and issue verdicts.  So their condition must be known.  

Imaam Nawawi (rahimahullaah) said: ''In this hadeeth is a warning against mixing with the people of deviation, the people of bidah and those who seek after the difficult affairs (of the Religion), seeking by it fitnah.  So they are not to be consented to, rather (they are to be) restrained and subdued just as Umar Ibnul Khattaab (radiyallaahu-anhu) subdued Sabee Bin Asl when he sought after the Mutashaabih (the unclear verses).

The Book Of Knowledge: The Salaf Statements On Who One Should Take Knowledge From

Muhammad Ibn Sireen said:

“This knowledge is a matter of deen, so be careful who you take your deen from.“

Al-Khateeb al-Baghdaadee said:

"It is befitting for the student that he should turn his attention to those scholars who are famous for their practise of the Religion. Those who are known for their good and for their repute upon good in the Religion."

He also said:

"He should be such that he is characterised by patience, mildness, modesty, and being kind, mild and tolerant with his companions, but who speaks the truth and gives sincere advice to the creation, and the rest of the praiseworthy attributes and beautiful characteristics."

Shu’bah said:

“ Take knowledge from people well known for their knowledge.”

Ibn ‘Awn said:

“ Knowledge is only taken from a person acknowledged for seeking Ilm.”

Abdur Rahman ibn Yazeed ibn Jabir said:

“ Knowledge isn’t taken from anyone, except a person viewed to be a seeker of knowledge.”

Sufyan Ath-Thawri:

"Take information about something being Halal or Haram from the people noted for knowledge"

Imaam Maalik said:

"it is not enough for someone to be a worshipper, and to be known for Zuhd, outward expression of worship, that you take from them"

Abu Usamah said:

"If you find a man known for avidly seeking knowledge and sitting with people of knowledge, then learn from him".

Ali ibnul Hussain ibn Shaqeeq said: Abdullah ibn Mubarak was asked when does a person have the authority to give religious verdicts? He said:

“ When he has knowledge about Athar and has insight about subjective opinions.”

Soal Jawab : Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab Muqadimah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمىٰنِ الرَّحِيم

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَدِهِ الَّذِينَ ٱصْطَفَى

Amma-ba’du, maka ini sebuah kitab yang kecil, yang mengandung ia akan hukum bermazhab dan taqlid, hamba susunkan dia kerana permintaan Tuan Guru Haji Hasan Ahmad Fathoni, yang memberi ia akan hamba akan sebuah risalah (Al-Mazhab, Wajibkah atau Haramkah bermazhab?). Yang terbangsa kepada Al-Fadhil Tuan Hasan Bandung, dan menyuruh ia akan hamba dengan menerangkan barang yang didalamnya daripada sekalian yang menyalahi. Maka kerana tiada dapat hamba menyalahi permintaannya itu terpaksalah hamba menyusun akan ini risalah, sekalipun hamba tiada ahli bagi yang demikian itu. Dan hamba namakan dia dengan (Al-Mazhab) Atau Tiada Haram Bermazhab, mudah-mudahan menjadikan dia oleh Allah Ta’ala ikhlas, serta member manfaat ia bagi hamba sendiri dan bagi sekalian saudara yang beragama Islam, إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ

Penyusun
‘AbdulQadir Bin ‘Abdul Mutthalib Al-Indonesi Al-Mandili

Soal Jawab : Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab

Muqadimah

(Fasal Yang Kedelapan Soal dan Jawab)

(S)       apakah mazhab tuan?
(J)        saya tiada bermazhab dan saya tiada taqlid akan imam mujtahid!

(S)       kerana apa tuan tiada bermazhab dan tiada taqlid?
(J)        saya tiada bermazhab dan tiada taqlid kerana keduanya haram!

(S)       adakah dalil tuan atas haram bermazhab dan taqlid itu?
(J)        ya, ada daripada Quran dan Hadith!

(S)       ayat yang mana menunjukkan atas haram bermazhab?
(J)        banyak, setengah daripadanya ayat

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikut apa yang kamu
tidak ketahui; sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya akan ditanya apa yang dilakukan.
(Surah Al-Isra’ ayat 36)

dan ayat

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللَّهِ

Mereka menjadikan pendeta dan ahli-ahli agama
mereka sebagai pendidik selain dari Allah.
(Surah At-Taubah ayat 31)

(S)       apa jalan menunjukkan dua ayat ini atas haram bermazhab dan taqlid?

(J)        Saya tiada tahu, tuan Hasan Bandung berkata Allah Ta’ala melarang muslimin 
            bermazhab didalam dua ayat ini!

(S)       kalau begitu tuan bertaqlid akan Hasan Bandung, dan yang haram taqlid itu akan imam-imam yang empat sahaja?

(J)        rasanya tidak!

(S)       adakah ulama’ tafsir yang menafsirkan akan dua ayat itu dengan haram bermazhab dan taqlid?

(J)        entahlah! Kerana saya hanya membaca Tafsir Jalalain sahaja, dan didalamnya tiada ada berkata dengan haram bermazhab!

(S)       bolehkah ditafsirkan ayat Quran dan  Hadith dengan mengikut fikiran kita sahaja?

(J)        rasanya tiada boleh, kerana sabda Nabi s.a.w :

مَنْ قَلَ فِى الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Ertinya barang siapa berkata pada Quran dengan
ketiadaan pengetahuan maka hendaklah
membuat tempat ia baginya didalam api neraka!

(S)       manakah Hadith yang jadi dalil atas haram bermazhab?

(J)        iaitu Hadith أَطِيعُنِي مَاكُنْتُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ dan Hadith تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ dan Hadith مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ ثَبْتِ

(S)       adakah tiga Hadith itu mengatakan haram bermazhab?
(J)        ya, ada!

(S)       siapakah yang berkata dengan bahawasanya Hadith yang tiga ini    dalil bagi haram bermazhab?

(J)        Hasan Bandung didalam risalahnya (Al-Mazhab)!

(S)       jalan mana menunjukkan Hadith yang tiga ini atas haram bermazhab?

(J)        entahlah! Saya tak tah, hanya saya mengikut akan Hasan Bandung!

(S)       yang mana lebih baik kita ikut Hasan Bandung atau Imam Syafi’e?

(J)        entahlah! Barang kali lebih baik kita ikut Imam Syafi’e kerana ‘ilmunya lebih banyak dan ia ‘alim Quraisy yang memenuhi ‘ilmunya akan muka bumi!

(S)       dari manakah tuan mengambil hukum?
(J)        dari Quran dan Hadith!

(S)       adakah cukup pada tuan segala syarat ijtihad?
(J)        ya cukup! Kerana saya sudah biasa mengajarkan Fathul Mu’in!

(S)       adakah didalam Quran dan Hadith menerangkan akan bahawasanya orang yang tahu bahasa arab qadar dapat mengajar Fathul Mu’in boleh memeriksa  hukum-hukum dari Quran dan sunah?

(J)        tentu tidak!

(S)       adakah sahabat atau ulama’ yang berkata dengan itu perkataan?
(J)        rasanya tidak ada melainkan Hasan Bandung!

(S)       dari mana Hasan Bandung mengambil akan perkataan yang tersebut?

(J)        entahlah! Tetapi berkata ia : guru-guru yang sudah boleh mengajar Fathul Qorib saya tanggung boleh memaham dari Quran dan Hadith dengan mudah. Asal sahaja rajin dan berani buang taqlid yang ditaqlid dia! Maka saya ini didalam tanggungan Hasan Bandung!

(S)       adakah orang yang lain sahaja yang diminta mendatangkan dalil dari Quran dan Hadith? Adapun Hasan Bandung maka tiada perlu mendatangkan  dalil daripada Quran dan Hadith atas segala perkataan?

(J)        tentu tidak! Kerana semua manusia itu bersamaan, seperti menuntut Hasan Bandung daripada kita akan alasan daripada Quran dan Sunnah tentu boleh juga kita tuntut daripadanya akan keterangan yang seperti itu!

(S)       kerana apa guru-guru yang biasa mengajarkan Fathul Mu’in dan pengarang bagi Fathul Mu’in sendiri dan gurunya Ibnu Hajar tiada meninggalkan mazhab dan taqlid?

(J)        tersebut didalam risalah Hasan Bandung : (tetapi lantaran takut dikata jadi kaum muda, jadi kaum wahabi lantaran hilang pengaruh maka kiyai-kiyai dan guru-guru tidak mahu berubah daripada mengaku bermazhab Syafi’e dengan palsu)1

(S)       dengan apa mengetahui oleh Hasan Bandung akan yang demikian itu? Adakah tersebut demikian itu didalam Quran dan Hadith?

(J)        entahlah! Rasanya tiada ada didalam Quran dan Hadith!

(S)       adakah telah membelah ia akan segala hati kiyai-kiyai dan guru-guru itu?

(J)        rasanya tidak!

(S)       tiadakah perkataan itu daripada jahat sangkanya terhadap kepada saudara saudaranya muslimin?

(J)        entahlah!

(S)       adakah orang yang mujtahid bersifat jahat sangka? Pada hal Allah Ta’ala berfirman :
            “bahawasanya setengah daripada zhon itu dosa”.

(J)        rasanya tidak! Kerana sekalian imam yang empat semuanya sangat takut akan Allah Ta’ala dan sangat zuhud lagi sangat wara’ lagi sangat banyak ‘ilmu mereka itu!

(S)       jikalau begitu mana yang lebih layak kita ikut? Imam-imam yang empat yang sangat takut akan Allah Ta’ala itukah atau Hasan Bandung yang jahat sangka itu?
(J)        tentu lebih baik kita ikut imam-imam yang empat!

(S)       apa sebab lebih baik kita mengikut imam-imam yang empat?
(J)        [pertama] kerana mereka itu daripada qurun yang tiga yang mensaksikan baginya oleh Rasulullah saw dengan keadaan lebih baik
[kedua] segala mazhab mereka itu dihimpun akan segala kitabnya, [ketiga] segala mazhab mereka itu diriwayatkan dengan jalan mutawattir. Adapun jalan orang yang mewajibkan ijtihad dan mengambil hukum daripada Quran dan Hadith atas sekalian muslimin seperti Hasan Bandung maka tiada mengikut akan ini jalan melainkan tiap-tiap yang taqlid yang mengikut hawa nafsunya, dan redha ia daripada dirinya, kerana membangsakan ia akan diakepada ijtihad pada ketika tiada sampai ia kepada satu pangkat daripada segala pangkat. Berkata akan dia oleh guru kami Almarhum As-Syeikh Muhammad ‘Ali
            Al-Maliki didalam risalahnya (المسٸلة المهمة) والله أعلم

(Penutup)

Taqlid dan bermazhab tiada haram atas sekalian orang awam. Allah ta’ala tiada ada melarang akan orang awam daripada bermazhab (bertaqlid pada furu’). Rasulullah saw tiada melarang umatnya (yang awam) daripada bermazhab. Sahabat r.a tiada ada melarang akan orang awam daripada bermazhab. Bahkan ijma’ mereka itu atas membiarkan orang awam pada taqlid. Tabi’un dan tabi’uttabi’in tiada melarang mereka itu akan orang awam daripada bermazhab. Imam-imam yang empat tiada melarang akan orang awam daripada bermazhab.

Dengan sebab yang tersebut diketahui akan bahawasanya bermazhab dan taqlid tiada haram. Adapun segala keterangan Hasan Bandung pada fasal yang 13 sudah kami periksa, maka tiada ada padanya sesuatu yang sah jadi dalil atas haram bermazhab.

Sebagai penyudah aku bersedia buat bertukar fikiran dengan Hasan Bandung dan mereka yang mengharamkan bermazhab atau mengwajibkan keluar daripada mazhab.

Wajib atas orang yang mendakwa akan haram bermazhab dan akan wajib keluar dari mazhab mendatangkan dalil daripada Quran atau Hadith atau ijma’ atau qias.

والله أعلم

Rujukan

(1)        boleh ruju’ disini (Soal-Jawab) Dalam Kumpulan Risalah A.Hassan

Rujukan :         Kitab Al-Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab, karangan Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Mutthalib Al-Indonesi Al-Mandili m/s53-58

Terjemahan surah al Isra' ayat 36

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

[31] Bahkan perhatikan dahulu keadaannya dan pikirkan dahulu akibatnya jika engkau hendak mengucapkan atau melakukan sesuatu.

Tafsir In Kathir

Do not speak without Knowledge

`Ali bin Abi Talhah reported that Ibn `Abbas said: "This means) do not say (anything of which you have no knowledge).'' Al-`Awfi said: "Do not accuse anyone of that of which you have no knowledge.'' Muhammad bin Al-Hanafiyyah said: "It means bearing false witness.'' Qatadah said: "Do not say, `I have seen', when you did not see anything, or `I have heard', when you did not hear anything, or `I know', when you do not know, for Allah will ask you about all of that.'' In conclusion, what they said means that Allah forbids speaking without knowledge and only on the basis of suspicion, which is mere imagination and illusions. As Allah says:

﴿اجْتَنِبُواْ كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾

(Avoid much suspicion; indeed some suspicions are sins.) ﴿49:12﴾ According to a Hadith:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّنَفَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيث»

(Beware of suspicion, for suspicion is the falsest of speech.) The following Hadith is found in Sunan Abu Dawud:

«بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ: زَعَمُوا»

(What an evil habit it is for a man to say, `They claimed...')

According to another Hadith:

«إِنَّ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِيَ الرَّجُلُ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَيَا»

(The worst of lies is for a man to claim to have seen something that he has not seen.) In the Sahih it says:

«مَنْ تَحَلَّمَ حُلْمًا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَلَيْسَ بِفَاعِل»

(Whoever claims to have seen a dream (when he has not seen) will be told on the Day of Resurrection to make a knot between two barley grains, and he will not be able to do it.)

﴿كُلُّ أُولـئِكَ﴾

(each of those ones) means these faculties, hearing, sight and the heart,

﴿كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً﴾

(will be questioned.) means, the person will be asked about them on the Day of Resurrection, and they will be asked about him and what he did with them.

Pesanan  kepada Semua Ahli Ilmu

Pesanan  kepada Semua Ahli Ilmu

Imam Ibnu Asakir, Imam al-Khatib dan Imam al-Hafiz al-Mizzi meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi:

"Apabila akhir umat ini melaknat (generasi) awalnya, maka hendaklah orang-orang yang mempunyai ilmu pada ketika itu menzahirkan ilmunya, sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu pada waktu tersebut seumpama seseorang yang menyembunyikan apa yang telah diwahyukan kepada (Sayyidina) Muhmammad SAW!!!"

Maka apabila lahir golongan yang mencaci dan melaknat para ulama' aqidah ASWJ al-Asha'irah dan al-Maturidiyyah (Hanafi, Maliki, Shafie dan majoriti Hanbali) yang mengikut generasi Salafus Soleh, apakah yang telah kita lakukan???