Saturday, 9 May 2026

SHOLAT YANG HIDUP

SHOLAT YANG HIDUP

Di zaman ketika manusia begitu sibuk mengejar dunia hingga lupa mengenali dirinya sendiri, sholat sering kali berubah menjadi sekadar rutinitas gerak yang kehilangan ruh. Bibir bergerak melafalkan ayat, tubuh berdiri dan bersujud, namun hati tetap berkelana di pasar dunia. Pikiran tetap penuh tagihan, dendam, ketakutan, dan kecemasan. Kita hadir di sajadah, tetapi jiwa kita tertinggal di lorong-lorong kehidupan yang gelap. Maka tidak mengherankan bila banyak manusia rajin sholat, namun tetap gelisah, mudah marah, keras hati, bahkan kehilangan arah hidup.

Padahal sholat bukan sekadar kewajiban syariat yang menggugurkan dosa formalitas. Sholat adalah mi’raj ruhani, sebuah perjalanan pulang menuju asal cahaya. Ia adalah proses “sinkronisasi frekuensi” antara hamba dengan Rabb-nya melalui tubuh, ruang, dan waktu. Setiap gerakannya bukan hanya simbol fisik, melainkan bahasa rahasia yang menyimpan samudera makna. Di dalamnya ada sirr, ada rahasia ketuhanan yang hanya bisa dipahami oleh hati yang hidup.

Allah berfirman: “Wa aqimish shalata li dzikri. - Dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan “untuk menggugurkan kewajiban,” tetapi “untuk mengingat-Ku.” Sebab inti sholat bukan gerakan, melainkan kesadaran. Bukan sekadar bacaan, melainkan kehadiran. Sholat sejati adalah ketika hati memasuki ruang sunyi yang hanya berisi Allah semata.

Betapa banyak manusia yang tubuhnya berdiri menghadap kiblat, tetapi jiwanya menghadap dunia. Betapa banyak yang rukuk dan sujud, tetapi egonya tetap tegak berdiri. Inilah tragedi ruhani manusia modern: kehilangan rasa dalam ibadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kam min qa`imin laisa lahu min qiyamihi illa as-sahar. - Betapa banyak orang yang berdiri sholat, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lelah dan kantuk.”

Sholat yang hidup dimulai sejak Takbiratul Ihram. Ketika kedua tangan diangkat sejajar telinga, sesungguhnya seorang hamba sedang memasuki “Ruang Nol.” Ia sedang memutus arus dunia yang selama ini mengikat batinnya. Semua kesedihan, kegagalan, luka rumah tangga, beban usaha, pengkhianatan manusia, dan ketakutan masa depan ditinggalkan di belakang punggungnya.

“Allahu Akbar.”

Allah Maha Besar.

Kalimat itu bukan sekadar ucapan pembuka. Ia adalah deklarasi agung bahwa seluruh masalah manusia sebenarnya kecil di hadapan kebesaran Allah. Dalam detik itu, seorang hamba sedang menenggelamkan egonya ke dalam lautan tauhid. Tidak ada lagi jabatan. Tidak ada lagi status sosial. Tidak ada lagi nama besar. Yang ada hanya seorang faqir yang berdiri di hadapan Raja Langit dan Bumi.

Imam Al-Ghazali berkata: “Sholat adalah hadirnya hati di hadapan Allah dengan penuh pengagungan dan rasa takut.”

Namun manusia modern sering kehilangan titik nol itu. Ia membawa dunia masuk ke dalam sholatnya. Akibatnya, tubuhnya bersama Allah tetapi pikirannya bersama pasar dan ambisi.

Setelah takbir, tangan bersedekap di atas dada. Inilah simbol penjagaan wadah batin. Tangan kanan menggenggam tangan kiri di atas pusat hati seolah memberi pesan bahwa akal dan hawa nafsu harus tunduk kepada cahaya hati yang tersambung dengan Nur Muhammad. Di sinilah manusia sedang menata “tenunan batin”-nya agar tidak koyak oleh pikiran liar.

Sebab hati manusia ibarat cermin. Bila dipenuhi debu dunia, ia tak mampu memantulkan cahaya Ilahi. Karena itu para ulama tasawuf selalu menekankan pentingnya tazkiyatun nafs, penyucian jiwa.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Obatilah hatimu, karena Allah tidak melihat rupa dan tubuhmu, tetapi melihat hatimu.”

Betapa banyak manusia terlihat alim, tetapi batinnya penuh kebencian. Betapa banyak yang lisannya berdzikir, tetapi hatinya dipenuhi iri dan kesombongan. Padahal Allah hanya menerima hati yang bersih.

Lalu manusia bergerak menuju rukuk. Punggung diratakan. Kepala disejajarkan. Di sinilah ego intelektual mulai dihancurkan. Rukuk adalah simbol keseimbangan frekuensi alamiah. Manusia mengakui bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari semesta yang tunduk kepada Sunnatullah.

“Subhana Rabbiyal ‘Azim. - Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.”

Kalimat itu meluruhkan kesombongan yang selama ini diam-diam tumbuh di dada manusia. Dalam rukuk, seorang doktor sama rendahnya dengan tukang becak. Seorang pejabat sama lemahnya dengan pengemis. Semua menundukkan diri di hadapan Kebijaksanaan Allah.

Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Asal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah ridha terhadap hawa nafsu.”

Maka rukuk sejatinya adalah latihan mematahkan kesombongan batin. Sebab manusia tidak akan pernah sampai kepada ma’rifat selama dirinya masih merasa besar.

Namun puncak dari seluruh perjalanan itu adalah sujud.

Ah, sujud...

Di sanalah manusia benar-benar hancur.

Kepala yang menjadi simbol harga diri dan akal diletakkan di tanah. Wajah yang selama ini ingin dipuji manusia justru ditempelkan pada tempat paling rendah. Inilah maqam fana’, titik lebur ego. Dalam sujud, manusia kembali menjadi tanah. Semua topeng dunia runtuh. Semua gelar lenyap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aqrabu ma yakunul ‘abdu min rabbihi wa huwa sajid. - Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.”

Mengapa sujud menjadi posisi terdekat?

Karena ego sudah tiada.

Selama “aku” masih berdiri, Allah terasa jauh. Tetapi ketika “aku” hancur, cahaya Allah mulai memenuhi relung jiwa. Inilah hakikat wushul dalam tasawuf: lenyapnya keakuan di hadapan kebesaran Allah.

Sujud bukan sekadar menempelkan dahi ke sajadah. Sujud adalah tangisan ruh yang pulang kepada asalnya. Di dalam sujud, manusia sebenarnya sedang mengembalikan unsur tanah dalam dirinya kepada asal penciptaannya.

Allah berfirman: “Minha khalaqnakum wa fiha nu’idukum. - Dari tanah Kami menciptakan kalian dan kepadanya Kami mengembalikan kalian.”

Betapa banyak air mata yang jatuh diam-diam dalam sujud malam. Betapa banyak hati yang remuk lalu disembuhkan Allah dalam posisi itu. Sebab ketika manusia tak lagi mampu dipahami dunia, Allah tetap mendengarnya.

Dan anehnya, manusia justru sering terburu-buru bangkit dari sujud. Ia lebih lama menatap layar ponsel daripada bersimpuh di hadapan Allah.

Setelah sujud, manusia duduk di antara dua sujud. Ini adalah simbol istirahat dalam cahaya. Setelah ego dilebur, seorang hamba mulai menyusun kembali hidupnya di hadapan Allah.

“Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni. - Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkan kekuranganku, angkat derajatku, dan berilah aku rezeki.”

Lihatlah betapa lembut Islam mengajarkan kehidupan. Setelah manusia menghancurkan egonya dalam sujud, Allah justru mempersilakan hamba-Nya meminta segala kebutuhan hidup. Seolah Allah berkata: “Kini engkau datang tanpa kesombongan, maka mintalah.”

Di sinilah banyak manusia gagal memahami hakikat doa. Mereka meminta kepada Allah, tetapi egonya masih utuh. Mereka ingin dikabulkan, tetapi belum benar-benar pasrah.

Padahal para arifin mengajarkan bahwa doa paling kuat lahir dari hati yang hancur.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Ketika hati telah dipenuhi ridha kepada Allah, maka apa pun yang datang terasa indah.”

Sholat sejati bukan hanya melahirkan kekhusyukan sesaat, tetapi membentuk ulang struktur jiwa manusia. Ia menjadi proses “restart” ruhani yang membersihkan racun batin lima kali sehari.

Sampai akhirnya sholat ditutup dengan salam.

Kepala menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Assalamu’alaikum warahmatullah.”

Ini bukan sekadar penutup ritual. Ini adalah deklarasi sosial bahwa cahaya yang diperoleh dalam sholat harus dibawa keluar menuju kehidupan. Jika sholat seseorang benar, maka kehadirannya akan menenangkan manusia lain. Lisannya menjadi lembut. Tatapannya penuh kasih. Sikapnya menghadirkan keselamatan.

Inilah makna Islam yang sesungguhnya: menghadirkan salam, kedamaian.

Bukan wajah yang mudah marah atas nama agama. Bukan hati keras yang gemar menghakimi sesama. Sebab orang yang benar-benar mengenal Allah akan dipenuhi welas asih.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata: “Orang yang dekat dengan Allah akan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.”

Hari ini dunia terlalu banyak melahirkan manusia cerdas tetapi kehilangan hati. Banyak yang pandai bicara agama namun gagal menghadirkan kasih sayang. Kita hidup di zaman ketika manusia lebih sibuk mempertontonkan ibadah daripada merasakan kehadiran Allah di dalam ibadah itu sendiri.

Karena itulah sholat harus dihidupkan kembali.

Bukan hanya gerakannya, tetapi arus ruhaniahnya.

Bukan hanya bacaannya, tetapi getaran maknanya.

Sebab sholat yang hidup mampu menyembuhkan jiwa yang retak. Ia mampu menenangkan hati yang kehilangan arah. Ia mampu mengangkat manusia dari gelapnya dunia menuju cahaya ma’rifatullah.

Maka jika hidup terasa sesak, jangan hanya mencari hiburan dunia. Kembalilah ke sajadah. Jika hati terasa remuk, jangan hanya mencari pelarian pada manusia. Bersujudlah lebih lama. Jika dunia terasa menghimpit dada, masuklah ke “Ruang Nol” dalam sholatmu.

Barangkali selama ini bukan hidup kita yang terlalu berat, melainkan hati kita yang terlalu jauh dari Allah.

Dan mungkin, di antara seluruh tangisan yang tidak dipahami manusia, ada satu sujud sunyi yang diam-diam sedang ditunggu langit.

GUS IMAM

Monday, 27 April 2026

Setiap Yang bermazhab adalah sunni tetapi Yang sunni Tidak bermazhab

Setiap Yang bermazhab adalah sunni tetapi Yang sunni Tidak bermazhab

https://vt.tiktok.com/ZS9SfBA5P/

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA SYAFIE

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA SYAFIE

Walaupun beliau telah pergi menemui Allah Ta'ala, ilmunya ini wajar diambil pedoman....

Sila tonton video ini selepas selesai membaca artikel di bawah iniI http://youtu.be/tJq081ocn5Y

KENDURI ARWAH, TAHLILAN & YASINAN MENURUT ULAMA SYAFIE

Mungkin ramai dari kalangan pengikut mazhab Syafie tidak menyedari bahawa bertahlil dengan cara berkumpul beramai-ramai, membaca al-Quran, berzikir, berdoa dan mengadakan hidangan makanan di rumah si Mati atau keluarga si Mati bukan sahaja Imam Syafie yang menghukum haram dan bid'ah, malah ramai para ulama mazhab Syafie turut berpendirian seperti Imam Syafie. Adapun antara meraka yang mengharamkan kenduri arwah, yasinan, tahlilan dan selamatan ialah Imam Nawawi, Ibn Hajar al-Asqalani, Imam Ibn Kathir, Imam ar-Ramli dan ramai lagi para ulama muktabar dari kalangan yang bermazhab Syafie, sebagaimana beberapa fatwa tentang pengharaman tersebut dari mereka dan Imam Syafie rahimahullah:

وَاَكْرَهُ الْمَاْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ.
"Dan aku telah memakruhkan (mengharamkan) makan, iaitu berkumpul di rumah (si Mati) walaupun bukan untuk tangisan (ratapan)".[1]
Mengadakan majlis kenduri iaitu dengan berkumpul beramai-ramai terutamanya untuk berzikir, tahlilan, membaca surah Yasin atau kenduri arwah sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Nusantara di rumah si Mati atau memperingati kematian, maka semuanya itu benar-benar dihukum bid'ah yang mungkar oleh Imam Syafie rahimahullah sebagaimana fatwa-fatwa beliau dan para ulama yang bermazhab Syafie yang selanjutnya:

وَاَمَّا اِصْلاَحُ اَهْلُ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسَ عَلَيْهِ فَبِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ.
"Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si Mati dan berkumpul beramai-ramai di rumah (si Mati) tersebut maka itu adalah bid'ah bukan sunnah".2 [1]         
Di dalam kitab (اعانة الطالبين) juz. 2 hlm. 146 ada disebut pengharaman kenduri arwah, iaitu:

وَمَا اعْتِيْدَ مِنْ جَعْلِ اَهْلَ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِيَدْعُوْ النَّاسَ اِلَيْهِ بِدْعَةٌ مَكْرُوْهَةٌ كَاِجْتِمَاعِهِمْ لِذَلِكَ لِمَا صَحَّ عَنْ جَرِيْرِ قَالَ : عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِاللهِ قَالَ : كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ لاَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعُهُمْ الطَّعَامَ مِنَ النِّيَاحَةِ. (رواه الامام احمد وابن ماجه باسناد صحيح).
"Dan apa yang telah menjadi kebiasaan manusia tentang menjemput orang dan menyediakan hidangan makanan oleh keluarga si Mati adalah bid’ah yang dibenci, termasuklah dalam hal ini berkumpul beramai-ramai di rumah keluarga si Mati kerana terdapat hadis sahih dari Jarir bin Abdullah berkata: Kami menganggap berkumpul beramai-ramai (berkenduri arwah) di rumah si Mati dan menyiapkan makanan sebagai ratapan".3 [1] (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn majah dengan sanad yang sahih).
                
Fatwa Imam Syafie dan para ulama muktabar yang bermazhab Syafie telah mengharamkan berkumpul beramai-ramai dan menyediakan hidangan makanan di rumah si Mati untuk tujuan kenduri arwah, tahlilan, yasinan dan menghadiahkan (mengirim) pahala bacaan al-Quran kepada arwah si Mati Mereka berdalilkan al-Quran, hadis dan athar-athar para sahabat yang sahih sebagaimana yang dikemukakan oleh mereka melalui tulisan-tulisan di kitab-kitab mereka. Mereka tidak mungkin mengharamkan atau menghalalkan sesuatu mengikut akal fikiran, pendapat atau hawa nafsu mereka semata, pastinya cara mereka mengharamkan semua itu dengan berdalilkan kepada al-Quran, as-Sunnah dan athar dari para ulama yang bermanhaj Salaf as-Soleh.

[1]. Lihat: Al-Umm. Juz 1. Hlm. 248.
[2]. Lihat: مغنى المحتاج. Juz 1. Hlm. 268.

PENGHARAMAN KENDURI ARWAH, TAHLILAN, YASINAN & SELAMATAN

Amalan mengadakan kenduri arwah dengan pembacaan surah al-Fatihah, Surah al- Ikhlas, Surah al-Falaq, surah an-Nas, surah Yasin dan beberapa ayat yang lain secara beramai-ramai amat bertentangan dengan nas al-Quran, hadis-hadis sahih dan athar para sahabat. Membaca al-Quran berjamaah (beramai-ramai) dengan mengangkat suara sehingga tidak ketahuan bunyi bacaan dan siapa pendengarnya telah ditegah oleh Allah di dalam firmanNya:

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.
AL-A’RAF, 7:204.
Begitu juga al-Quran diturunkan dari langit bukan untuk dibacakan kepada orang yang sudah mati, tetapi untuk orang yang masih hidup dan wajib dibaca oleh mereka yang masih hidup, kerana orang mati sudah tidak mampu lagi mendengar perintah al-Quran sebagaimana firman Allah:

اِنَّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَى
 
“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar”.
AN-NAML, 27:80.
 
وَمَا يَسْتَوِى اْلاَحْيَآءُ وَلاَ اْلاَمْوَاتُ ، اِنَّ اللهَ يُسْمِعُ مَنْ يَّشَآءُ ، وَمَا اَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَّنْ فِى الْقُبُوْرِ.
“Dan tidak sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati, sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang dalam kubur dapat mendengar”.

Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam pula telah bersabda bahawa apabila seseorang yang telah mati, sama ada para nabi, para rasul atau para wali maka semua tangungjawab dan segala urusannya dengan persoalan dunia telah tamat, selesai dan terputus sehingga tiada kaitan dan hubungannya lagi dengan dunia dan para penghuninya kecuali tiga perkara sebagaimana sabda baginda:

اِذَا مَاتَ اْلاِنْسَـان اِنـْقـَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ : صَدَقَـةٍ جَارِيَةٍ ، اَوْعِلْمٍ يـُنـْتـَفَعُ بـِهِ ، أوْوَلـَدٍ صَالحٍ يـَدْعُـوْلَهُ
"Apabila mati anak Adam, putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: Sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak soleh yang mendoakannya."6 [1]           
Walaupun hadis di atas hanya menyebut doa dari anak yang soleh untuk ibu bapanya, namun permohonan doa kaum muslimin di dunia yang masih hidup untuk mereka yang sudah mati juga diharuskan. Walau bagaimanapun, doa dari anak yang soleh adalah berpanjangan dan tidak terputus kerana anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia yang keluar dari tulang sulbinya.

Anak yang soleh disebut oleh Nabi di dalam sabdanya sebagai penyambung amal jariah setelah kematian orang tuanya. Sebab itulah Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam menggalakkan orang-orang beriman supaya mengahwini perempuan-perempuan yang solehah, yang subur dan pandai memelihara anak-anaknya agar anak-anak yang ditinggalkan akan menjadi penyambung amal jariah dan mendoakannya. Sehingga tidak dipertikaikan oleh kalangan para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh bahawa amalan ibu-bapa yang terputus sewajarnya disambung oleh anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Apa yang perlu diberi perhatian: "Hanya anak-anaknya sahaja, bukan orang lain" yang dibolehkan menyambung amal orang tuanya yang terputus sebagaimana yang dapat difahami dari dalil-dalil yang berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ اَفَاَقْضِيْهِ عَنْهَا ؟ فَقَالَ : لَوْ كَانَ عَلَى اُمِّكَ دَيْنٌ اَكُنْتَ قَاضِيْهِ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : فَدَيْنُ اللهِ اَحَقُّ اَنْ يُقْضَى.
Dari Ibn Abbar radiallahu ‘anhu berkata: Seorang lelaki datang kepada nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Ya Rasulullah! Ibuku telah meninggal sedangkan dia masih berhutang puasa sebulan belum dibayar, apakah boleh aku membayarnya untuk ibuku? Baginda menjawab: Andaikata ibumu menanggung hutang apakah engkau yang membayarnya? Beliau menjawab: Ya. Maka baginda bersabda: Hutang kepada Allah lebih patut dibayarnya”.7 [1]
 
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : اَنَّ رَجُلاً اَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ اقْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوْصِ وَاَظُنُّهَا لَوْتَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ اَفَلَهَا اَجْرٌ اِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ .
“Dari ‘Aisyah radiallahu ‘anhu berkata: Bahawasanya seorang lelaki datang kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan berkata: Wahai Rasulullah! Ibuku telah mati mendadak, sehingga dia tidak berkesempatan untuk berwasiat dan saya rasa andaikan ia mendapat kesempatan berkata tentu dia berwasiat (supaya bersedekah). Adakah ia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Baginda sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Ya”.8 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ امْرَاَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَ تْ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، اَنَّ اُمِّيْ نَذَرَتْ اَنْ تَحِجَّ فَلَمْ تَحِجَّ حَتَّى مَاتَتْ اَفَاَحِجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ حُجِّيْ عَنْهَا . اَرَاَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ اَكُنْتَ قَاضِيَتَهُ ؟ اُقْضُوْا اللهَ فَاللهُ اَحَقُّ بِالْقَضَاءِ وَفِى رِوَايَةٍ : فَاللهُ اَحَقُّ بِالْوَفَاءِ.
"Dari Ibn Abbas radiallahu 'anhuma berkata: Seorang perempuan dari suku Juhainah datang kepada nabi Sallallahu 'alaihi wasallam bertanya: Ibuku nazar akan mengerjakan haji, tetapi dia telah meninggal sebelum menunaikan nazarnya apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Ya, hajikan untuknya, bagaimana sekiranya ibumu menanggung hutang, apakah engkau yang membayarnya? Bayarlah hak Allah, kepada Allah lebih layak orang membayarnya".9 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا . اَنَّ رَجُلاً اَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : اَنَّ اَبِىْ مَاتَ وَعَلَيْهِ حَجَّةُ اْلاِسْلاَمِ اَفَاَحُجَّ عَنْهُ ؟ فَقَالَ : اَرَاَيْتَ لَوْ اَنَّ اَبَاكَ تَرَكَ دَيْنًا عَلَيْهِ اَتَقْضِيْهِ عَنْهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : فَاحْجُجْ عَنْ اَبِيْكَ .
"Dari Ibnu Abbas radiallahu 'anhu berkata: Seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam lalu bertanya: Ayahku telah meninggal dan belum mengerjakan haji, apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Bagaimana jika ayahmu meninggalkan hutang, apakah kamu yang membayarnya? Jawabnya: Ya. Baginda bersabda: Maka hajikanlah untuk ayahmu".10 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : تُوُفِّيَتْ اُمُّ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا . فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ تُوُفِيَّتْ وَاَنَا غَائِبٌ عَنْهَا اَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ اِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ . قَالَ فَاِنِّيْ اُشْهِدُكَ اَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَنْهَا
"Dari Ibn Abbas radiallahu 'anhu berkata: Ibu Sa'ad bin 'Ubadah ketika meninggal sedang Sa'ad tidak ada. Lalu Sa'ad berkata: Wahai Rasulullah! Ibuku telah meninggal diwaktu aku tidak ada di rumah, apakah kiranya akan berguna baginya jika aku bersedekah? Baginda menjawab: Ya!. Berkata Sa'ad: Saya persaksikan kepadamu bahawa kebun kurma yang berbuah itu sebagai sedekah untuknya".11 [1]
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: جَاءَ تْ اِمْرَاَةٌ مِنْ خَشْعَمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُـوْلَ اللهِ ، اَنَّ فَرِيْضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِى الْحَجِّ اَدْرَكَتْ اَبِيْ شَيْخًا كَبِيْرًا لاَ يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ . اَفَاَحُجُّ عَنْهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ . وَذَلِكَ فِى حَجَّةِ الْوَدَاعِ.
"Dari Ibn Abbas radiallahu 'anhu berkata: Seorang wanita dari suku Khasy'am datang kepada Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam lalu bertanya: Ya Rasulullah! Kewajipan Allah atas hambaNya berhaji telah menimpakan ayahku yang sangat tua sehingga tidak dapat berkenderaan, apakah boleh aku menghajikannya? Baginda menjawab: Ya boleh. Dan pertanyaan ini terjadi ketika haji al-Wada'.12 [1]
 
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ اَبِيْ مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوْصِ فَهَلْ يَكْفِى عَنْهُ اَنْ اَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟ قَالَ : نَعَمْ.
“Dari Abi Hurairah radiallahu anhu berkata: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan berkata: Ayahku telah meninggal dan dia meninggalkan harta dan tidak berwasiat, maka apa berguna baginya jika aku bersedekah untuk dia? Jawab baginda: Ya".13 [1]

Al-Quran menjadi garis panduan kepada mereka yang masih hidup. Dengan demikian, orang yang dapat mengambil panduan mestilah dari kalangan orang-orang yang masih hidup sahaja. Orang-orang yang telah mati sudah tidak memerlukannya lagi kerana kehidupannya telahpun berakhir di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam surah Yasin bahawa:

اِنْ هُوَ اِلاَّ ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِيْنٌ . لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِريْنَ.
"Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup". 
YASIN, 36:69-70.
            
Anehnya, surah ini telah disalah gunakan dengan menjadikan bacaan dari yang hidup untuk si Mati dengan kepercayaan bahawa pahala bacaan dapat memberi manfaat kepada si Mati. Inilah sangkaan yang buruk terhadap kesempurnaan kitab Allah disebabkan kejahilan dan mengabaikan ilmu. Mereka tidak sedar untuk apa tujuan sebenar al-Quran diturunkan kepada manusia. Mereka melakukan sesuatu terhadap al-Quran tanpa keizinan dari Allah dan RasulNya sepertimana perbuatan Yahudi dan Nasrani terhadap kitab mereka yang akhirnya terjadi tambahan, perubahan dan pemansukhan kepada kitab mereka.  

Secara yang tidak disedari, perkara seperti ini telah dilakukan juga oleh umat Islam dengan menambah-nambah, mereka-reka dan mengada-adakan amalan yang dicipta oleh mereka sendiri yang disangka baik, akhirnya ia membawa kepada perbuatan bid'ah dan dosa. Allah telah menerangkan akan ramainya manusia seperti ini lantaran berburuk sangka terhadap kesempurnaan al-Quran sehingga berani melakukan sesuatu terhadap al-Quran mengikut hawa hafsu mereka. Allah berfirman:

يَظُنُّوْنَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ. 

"Mereka menyangka tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan orang-orang jahiliah".
ALI IMRAN, 3:154.
وَمَا لَهُمْ مِنْ عِلْمٍ اِنْهُمْ اِلاَّ يَظُنُّوْنَ.

"Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-menduga (menyangka) sahaja".
  AL JAATSYIAH, 45:24

Di dalam al-Quran, terdapat banyak ayat-ayat yang menerangkan bahawa setiap insan hanya bertanggungjawab di atas apa yang telah diamalkan oleh dirinya sendiri semasa di dunia. Tidak ada keterangan bahawa seseorang itu akan memikul tanggungjawab di atas amalan yang dilakukan oleh orang lain, sama ada yang bersangkut-paut dengan dosa atau pahala sebagaimana keterangan ayat di bawah ini:

اَلاَّ تَزِرُوْا وَازِرَةٌ وِزْرَ اُخْرَى ، وَاَنْ لَيْسَ لِلاِنْسَانِ اِلاَّ مَا سَعَى.
"Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahawasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan". 
AN NAJM, 53:38-39.
            
Berkata al-Hafiz Imam Ibn Kathir rahimahullah:

وَ مِنْ هَذِهِ اْلآيَةِ الْكَرِيْمَةِ اِسْتَنْبَطَ الشَّافِعِى رَحِمَهُ اللهُ وَمَنِ اتَّبعُهُ اَنَّ الْقِرَاءَ ةَ لاَ يَصِلُ اِهْدَاء ثَوَابَهَا الْمَوْتَى لاَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلاَ كَسْبِهِمْ وَلِهَذَا لَمْ يُنْدَب اِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُمَّتَهُ وَلاَ حَثَّهُمْ عَلَيْهِ وَلاَ اَرْشَدَهُمْ اِلَيْهِ بِنَصٍ .
"Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafie rahimahullah dan para pengikutnya mengambil hukum bahawa pahala bacaan (al-Quran) dan hadiah pahala tidak sampai kepada si Mati kerana bukan dari amal mereka dan bukan usaha meraka (si Mati). Oleh kerana itu Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam tidak pernah mensunnahkan umatnya dan mendesak mereka melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk kepadanya (menghadiahkan bacaan kepada si Mati) walaupun dengan satu nas (dalil)".14 [1]     
Al-Hafiz Imam as-Syaukani rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya:

لَيْسَ لَهُ اِلاَّ اَجْرُ سَعْيِهِ وَجَزَاءُ عَمَلِهِ وَلاَ يَنْفَعُ اَحَدًا عَمَلُ اَحَدٍ.
 
"Seseorang tidak akan mendapat melainkan balasan atas usahanya dan ganjaran amalan (yang diamalkannya sendiri), ia tidak memberi manfaat kepada seseorang akan amalan orang lain."15 [1]

Menurut Imam Ibn Kathir rahimahullah pula ayat di atas bermaksud:

كَمَا لاَيحْملُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ كَذَلِكَ لاَيَحْصلُ مِنَ اْلاَجْرِ اِلاَّ مَا كَسَبَ هُوَ نَفْسَهُ.
"Sebagaimana tidak dipikulkan (tidak dipertanggung-jawabkan) dosa orang lain begitu juga ia tidak mendapat ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan (usahakan) sendiri (semasa di dunia)".16 [1]
Imam Ibn Kathir rahimahullah seterusnya menegaskan bahawa:

اِنَّ النُّفُوْسَ اِنَّمَا تُجَازَى بِاَعْمَالِهَا اِنْ خَيْرً فَخَيْرًا وَاِنْ شَرَّا فَشَرًّا
"Sesungguhnya manusia itu hanya menerima balasan menurut amalnya, jika baik maka baiklah balasannya dan jika buruk maka buruklah balasannya".17 [1]
 
Dan Imam Ibn Kathir berkata lagi:
 
لَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ اَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَلَوْكَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا اِلَيْهِ.
"Tidak pernah disalin (diterima) perkara itu (menghadiahkan bacaan kepada orang mati) walaupun dari seorang dari kalangan para sahabat radiallahu 'anhum. Jika sekiranya ia suatu yang baik pasti mereka telah mendahului kita melakukannya".18 [1]

Imam at-Tabari rahimahullah pula menafsirkan ayat ini:

اَنَّهُ لاَ يُجَازَى عَامِلٌ اِلاَّ بِعَمَلِهِ خَيْرًا كَانَ اَوْ شَرًّا
"Bahawasanya seseorang itu tidak menerima balasan dari amalnya, melainkan apa yang telah dikerjakan, sama ada (amalnya) itu baik atau buruk".19 [1]

Dan seterusnya Imam at-Tabari menjelaskan lagi: 

لاَيُؤَاخَذُ بَعُقُوْبَةِ ذَنْب غَيْرُ عَامِلِهِ وَلاَ يُثَابُ عَلَى صَالِحٍ عَمَلِهِ غَيْرُهُ
"Tidak disiksa seseorang itu dengan sesuatu siksaan jika ia tidak mengerjakan dosa tersebut, dan tidak diberi ganjaran di atas amal soleh untuk orang yang tidak mengerjakannya "..20 [1]

Imam Fakhur ar-Razy rahimahullah pula menafsirkan:

اِنَّ الْحَسَنَةَ الْغَيْرِ لاَ تُجْدِى نَفْعًا وَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ صَالِحًا لاَيَنَالُ خَيْرًا فَيَكْمُلُ بِمَا وَيَظْهَرُ اَنَّ الْمُسِيْئَ لاَ يَجِدُ بِسَبَبِ حَسَنَةِ الْغَيْرِ تَوَابًا وَلاَ يَتَحَمَّلُ عَنْهُ اَحَدٌ عِقَابًا.
"Sesungguhnya kebaikan orang lain tidak memberi manfaat kepada orang lain yang tidak melakukannya, sesiapa yang tidak beramal soleh ia tidak mendapat kebaikannya. Maka cukuplah dengan ayat ini sudah jelas bahawa orang yang berdosa tidak boleh mendapat ganjaran dengan sebab kebaikan orang lain dan tidak seseorangpun akan menanggung dosanya".21 [1]

Al-Hafiz Imam Jalalain rahimahullah pula menegaskan:

فَلَيْسَ لَهُ مِنْ سَعْيِ غَيْرِهِ الْخَيْرَ شَيْئٌ
"Maka seseorang tidak akan mendapat apa-apapun dari usaha orang lain".22 [1]      
Ayat di atas ini amat jelas. Setiap orang mukmin yang berilmu dan beriman tidak mungkin berani mengubah ayat di atas ini kepada maksud yang sebaliknya atau menafsirkan kepada maksud dan pengertian yang bertentangan dengan penafsiran yang diizinkan oleh kaedah ulumul Quran atau syarat penafsiran yang diterima oleh syara. Tambahan pula ayat di atas ini sudah jelas makna, maksud dan pengertiannya. Ia telah ditafsirkan juga oleh jumhur ulama tafsir terutamanya Ibn Abbas melalui hadis dari Aisyah radhiallahu 'anha:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : قَالَتْ عَائِـشَةُ (لَمَّا سَمِعَتُ ذَلِكَ) حَسـْبُكُمُ الْقُرْآن ، وَلاَ تَزِرُوْا وَازِرَة وِزْرَ أخْرَى. رواه البخاري ومسلم.
"Berkata Ibn Abbas: Telah berkata Aisyah radiallahu ‘anha ketika mendengar hal tersebut: Cukuplah bagi kamu ayat al-Quran. Bahawa kamu tidak (dipertanggung-jawabkan) untuk memikul dosa orang yang lain". H/R Bukhari dan Muslim. 
        
Imam Ibn Kathir pula menjelaskan:

اِنَّ النُّفُوْسَ اِنَّمَا تُجَازَى بِاَعْمَالِهَا اِنْ خَيْرًا فَخَيْرًا وَاِنْ شَرًّا فَشَرًّا.
"Seseorang jiwa hanya dibalas menurut amalannya. Jika baik maka baiklah balasannya dan jika amalannya jahat maka jahatlah balasannya".23 [1]

Oleh yang demikian, sepatutnya setiap mukmin dapat mengenal dan memahami ayat dan hadis yang menerangkan bahawa setiap insan hanya menuai apa yang disemainya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ.
"Sesiapa yang mengerjakan

Thursday, 23 April 2026

Fiqah Zakat dan pengurusannya

Fiqah Zakat dan pengurusannya

Bila para asatizah Fiqah dan Syariah mendengar ulasan “mereka” berkenaan Fiqah Zakat dan pengurusannya, mereka hanya tersenyum dan berkata:

“Inilah akibatnya orang yang tiada mazhab dan manhaj berbicara hukum Syariah.

Caca marba dan penuh kecelaruan usul, bercampur antara helah retorik dengan kejahilan metodologi.

Mereka berbicara tentang zakat, tetapi gagal memahami hak Ulul Amri (wilayah al-zakah) dan hak asnaf setempat terhadap harta zakat;

mereka mengutip dalil, tetapi terputus daripada disiplin istinbat fuqaha’ yang telah berakar berabad-abad lamanya;

mereka melaungkan “kembali kepada al-Quran dan Sunnah”, tetapi meninggalkan kerangka tafsiran ulama mujtahidin Ahli Sunnah Wal Jamaah yang menjadi jambatan memahami kedua-duanya.

Akhirnya, lahirlah fatwa yang longgar pada tempat yang sepatutnya ketat, dan keras pada tempat yang menuntut hikmah dan keluasan seperti ibadah sunat. 

Zakat yang sepatutnya diurus dengan tertib dan amanah menurut disiplin fiqah, berubah menjadi harta rebutan dengan pancingan pulangan balik atau bidaah yang penuh dangkal pada hakikatnya. 

Lebih menghairankan, keyakinan mereka begitu tinggi, seolah-olah khazanah fiqah umat selama lebih seribu tahun hanyalah beban yang perlu diketepikan, bukan warisan yang perlu diteliti dan dihayati.

Akibatnya, hukum hakam Syariah tidak diteliti hikmahnya, tetapi dicari helah terhadapnya. 

Maka tidak hairanlah apabila perbincangan mereka sering berlegar antara simplifikasi melampau dan dakwaan yang tidak bertunjangkan disiplin.

Ilmu tanpa manhaj melahirkan kekeliruan.

Semangat tanpa panduan melahirkan kerosakan.

Dan fiqah tanpa rujukan mazhab dan ulama muktabar serta kaedah penetapan hukum yang penuh tertib dan sistematik: 

itulah punca pandangan pelik dan jelek yang akhirnya merugikan umat serta membawa kepada memakan harta umat Islam secara batil. 

Dengan kecelaruan ini, maka lahirkan perbahasan “fiqah” yang membawa kepada sikap dan kesan buruk seperti berikut:

- anti zikir 
- mesra khinzir 
- menyempitkan amalan dan ibadah sunat
- tidak meraikan ijmak dan ittifaq ulama’
- tidak meraikan mazhab Ulul Amri dan masyarakat Islam setempat 
- literalis melampau yang jumud atau terlalu longgar 
- mengabaikan hak Allah seperti dakwaan tidak wajib qada’ solat fardu yang sengaja ditinggalkan
- penuh helah dan pandangan shadzdz [yang dipengaruhi kecenderungan hawa nafsu]
- sikap tabdi’ dalam isu khilafiyyah muktabar 
- sikap takfiri dan perpecahan umat dalam isu furuk
- tuduhan hukum fiqah mazhab muktabar tidak mempunyai dalil,

dan seumpamanya. 

PENUNTUT ILMU

Thursday, 16 April 2026

Amalan tiga doa

Amalan tiga doa

https://www.facebook.com/share/p/1GYtHhDbtf/

1.Doa Minta husnul khatimah
2.doa rezeki dan keampunan sebelum       mati.
3.Doa tetapkan imam.

Saturday, 21 March 2026

Buku bertemu ruas".

"Buku bertemu ruas".

Apabila seorang Kristian yang menguasai kaedah-kaedah falsafah Kalamiyah mencabar Muslim Lantern yang dikenali sebagai seorang pendakwah Muslim yang biasa berdebat dan berdialog dengan orang Kristian, tetapi bukan seorang Kalami, sekadar seorang Salafi. 

Akhirnya Muslim Lantern tersungkur cuba menjawab soalan paling mudah dalam ilmu falsafah akidah - adakah sifat Tuhan lain daripada zatnya?

Soalan yang kalau dipelajari dalam ilmu Kalam, ia adalah antara perkara yang terawal dipelajari. Bukanlah zat itu sifat, dan bukanlah sifat itu zat, tetapi bukanlah sifat itu tercerai daripada zat, dan bukanlah zat itu berdiri tanpa sifat. Diringkaskan dengan sebutan,

لا هي هو ولا هي غيره
"Bukanlah ia (sifat) zat, dan bukan ia (sifat) lain daripada zat"

Apabila Kristian tersebut bertanya dari awal, "Adakah sifat itu sama dengan zat", saya sudah mendapat gambaran bahawa Kristian ini sudah membaca sedikit sebanyak khazanah perdebatan antara Ahli sunnah dan Muktazilah. Beberapa ketika selepas itu, dia memang menyebut terma Muktazilah, jadi memang betul dia sudah kaji tentang mazhab-mazhab Muktazilah.

"Is the attributes distinct and different to the essence of God?". Soalan yang sebenarnya jelas bagi mereka yang di dalam perbandingan agama.

Malangnya, Muslim Lantern walaupun beliau seorang Salafi yang saya hormati dan banyak membungkam Kristianiti melalui kontradiksi kitab-kitab mereka sendiri, tidak menguasai dan saya yakin tidak memahami perbahasan perbezaan mazhab dalam Islam sendiri. Kenapa wujud Mutakallimin, kenapa wujud Muktazilah, kenapa keluar konsep zat dan sifat. 

Walaupun seseorang menguasai perbahasan Kristian dan Islam, ia belum bermakna dia menguasai perbahasan-perbahasan lain. Seseorang yang menguasai bagaimana untuk berdepan dengan Atheis misalnya, berbeza dengan kemampuannya untuk berdepan dengan Yahudi. Begitu juga orang Kristian yang masuk Islam, kebanyakan mereka lebih menguasai agama Kristian sendiri untuk membungkamnya melalui maklumat daripada agama mereka sebelumnya. 

Namun ilmu Kalam, adalah satu khazanah yang tidak tersebar luas, tidak diwarisi secara mendalam melainkan melalui beberapa saluran sahaja, satu kefahaman abstrak yang tinggi yang memayungi seluruh topik perbincangan perbandingan agama, lalu persoalannya bukanlah adakah seseorang mampu menjawab persoalan ilmu Kalam apabila dia mendepaninya, tetapi soalnya hanyalah bilakah dia akan berjumpa dengan ilmu Kalam dan akan terduduk di hadapannya. 

Begitulah dengan pendakwah-pendakwah Barat yang saya sentiasa perhatikan dan ikuti, kebanyakan mereka mencabar orang-orang Kristian untuk berdebat tentang coherence agama Kristian dan kebanyakannya memang berjaya. Mereka mampu bungkam logik yang tidak sequitor, menzahirkan percanggahan antara nas-nas yang tidak mungkin digabung, dan membungkam tambahan-tambahan Paul ke atas versi-versi Bible sehingga ke manuskrip. 

Tetapi itu hanyalah satu niche, satu tajuk di bawah perbandingan agama, ia belum lagi sampai ke tahap tertinggi perbincangan ilmu perbandingan agama sebenar iaitu ilmu Kalam. Dan dalam video ini, jelas Muslim Lantern tidak mampu menjawabnya. Beliau hanya bertanya apakah maksud distinct, dan cuba membahaskan terma soalan. Jay Dyer (Kristian) hanya gelakkan sahaja cubaan itu. 

Hasil daripada tidak menguasai sesuatu yang asas, seperti nama Allah 99 dan sifat-sifat Allah, akhirnya ia menguatkan pula kefahaman seorang Kristian terhadap agamanya. Kalau banyak menjadi satu tak boleh, kenapa dalam Islam boleh. 

"Aku ada tiga Tuhan, ya, melalui triniti, tetapi kamu ada 99 Tuhan, tapi kamu anggap itu satu"

"Setiap sifat-sifat yang kamu sebut, Tuhan marah, Tuhan suka, Tuhan gembira, setiap satu itu adalah Tuhan, kamu lebih banyak Tuhan daripada triniti"

Kerana seseorang tidak memahami konsep pembezaan sifat dan zat, dan perbahasan pula tidak mendalam kerana slogan "Kita beriman sahaja dengan apa yang Allah turunkan", akhirnya kefahaman akidah agama tergadai kerana Muslim-Muslim yang berada di barisan hadapan adalah yang paling lemah dalam penguasaaan ilmu sebenar yang universal. Mereka mungkin menguasai ilmu dalam sesuatu skop yang bersifat topikal, seperti beza Islam dan Kristian, atau konsep Monotheism Islam dan Yahudi, tetapi mereka tidak menguasai satu konsep abstrak yang memayungi keseluruhan perbahasan ini iaitu falsafah, atau Kalam. 

Islam adalah hina apabila seorang Muslim hanya mampu menjawab persoalan agama berdasarkan sesuatu yang topikal, sedangkan Islam hakikatnya universal. الإسلام يعلو ولا يعلى عليه. Hanya kerana anda belum berjumpa dengan ruas, ia tidak bermakna apa anda bawa itulah kefahaman cukup tentang Islam, bahkan ia perlu diperhalusi lagi dan diperhalusi lagi sehinggalah anda mencapai satu kefahaman yang lebih universal yang dapat menjawab sehingga akal-akal orang Atheis sendiri. 

Inilah sebab kenapa falsafah Islam begitu berkembang dan diambil serius oleh ulama-ulama dahulu. Mereka tahu bahawa manusia berbeza kadar berfikir, maka mereka sudah fikirkan ke tahap setinggi pemikiran seorang manusia, bahawa jikalaulah ada seorang bukan Islam yang tersangatlah cerdik ketinggian akalnya sehingga dia membawa satu persoalan terhadap Islam, umat Islam terkemudian akan mampu menjawabnya. Setiap persoalan existential crisis, setiap persoalan kritikal yang tidak dibincangkan orang semasa itu ataupun kemudian, lebih-lebih lagi persoalan yang sudah dibincangkan sebelum, sudah mereka cerap dan perhalusi satu per satu dan sediakan jawapan, tunggu umat terkemudian susun kembali jadi pedoman sahaja. 

Namun sampai kepada zaman sekarang, segala hasil ulama tersebut dianggap sampah atau tidak bernilai. Ulama-ulama tersebut pula dikatakan sesat dan terjerumus dalam perangkap berfikir gaya Yunani, sehingga mereka dianggap tak ada manfaat kepada Islam, oleh generasi baharu yang ingin hanya berpegang kepada al-Quran dan as-Sunnah, tetapi persoalan beza zat dan sifat pun mereka tidak mampu dissect dengan baik, sehingga menjadi bola tanggung pula untuk agama lain. 

Carilah ayat al-Quran dan hadis yang cerita beza zat dan sifat, takkan jumpa. Hadis dhaif pun takkan jumpa, sahkan nak sahih sahaja. 

Jangan tunggu nak jumpa orang cerdik dulu baru nak sedar framework pemikiran literal itu tidak cukup dalam agama. Ulama dahulu secara teliti dah cerakin, susun dan hurai elok dah.

Friday, 20 March 2026

Thursday, 19 March 2026

DUA KESILAPAN DALAM MEMAHAMI KALAM IMAM AL-HASAN AL-BASRI

DUA KESILAPAN DALAM MEMAHAMI KALAM IMAM AL-HASAN AL-BASRI

KESALAHAN PERTAMA:
Imam al-Hasan al-Basri tidak menyatakan seseorang yang meninggalkan solat maka "tidak perlu qadha". Rujuk balik kenyataan Imam al-Basri seperti berikut:
إِذَا تَرَكَ الرَّجُل صَلَاةً وَاحِدَةً مُتَعَمِّدًا فَإِنَّهُ لَا يَقْضِيهَا
"Apabila seseorang lelaki meninggalkan satu solat dengan sengaja, maka sesungguhnya dia tidak boleh mengqadhanya." (Rujuk Ta‘zim Qadr al-Solah, hlm. 996–1000). 

Frasa "tidak boleh mengqadha" tidak sama dengan "tidak perlu qadha". "Tidak boleh mengqhada" menunjukkan syarak tidak lagi menerima qadha atas dua kemungkinan: Telah kafir atau tiada berpeluang lagi untuk mengqadha. Manakala frasa "tidak perlu qadha" pula memberi interpretasi bahawa orang yang meninggalkan solat tak perlu qadha pun hanya perlu taubat sahaja. Jelaslah, panel yang dijemput ini salah dalam menjelaskan kenyataan ulama.

KESALAHAN KEDUA:
Pandangan ijmak ulama yang mewajibkan mengqadha tidak akan menyebabkan manusia berputus asa kerana pandangan ini adalah pandangan yang lebih rahmat. Jika berpegang dengan pandangan tidak boleh qadha kerana telah kafir maka ia lebih keras. Jika berpegang dengan pandangan tiada peluang lagi untuk qadha maka seolah-olah tiada harapan untuk kita menebus dosa tersebut. 

Pandangan ijmak memberikan solusi yang terbaik iaitu taubat dan qadha sekadar hayat masih ada. Jika tidak mampu menghabiskan qadha sebelum ajal, itu bukan lagi urusan kita. Adalah lebih baik seseorang itu meninggal dunia dalam keadaan bertaubat dan berusaha untuk qadha berbanding seseorang yang meninggal dunia dengan hanya bergantung kepada taubatnya, pada masa yang sama masih ada hutang dengan Allah.

Sedangkan Nabi s.a.w. bersabda:
فَدَيْنُ الله أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى
“Ya, maka hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan (dibayar).” (HR al-Bukhari)

Pandangan ijmak lebih memberikan harapan dan ketenangan pada hati setiap muslim. Sememangnya kita dijadikan untuk beribadah, maka dituntut melaksanakan ibadah itu pada kemampuan dan hayat yang ada.

ULASAN TERPERINCI
1. Pandangan Imam al-Hasan al-Basri mengenai isu qadha solat boleh dirujuk dalam kitab Ta‘zim Qadr al-Solah karya Imam Muhammad bin Nasr al-Marwazi. Beliau merupakan seorang ulama besar yang sangat alim, bahkan tergolong dalam kalangan Ashab al-Wujuh dalam mazhab Syafie serta menjadi rujukan dalam perbahasan khilaf ulama.

2. Imam al-Marwazi menjelaskan bahawa sesiapa yang meninggalkan solat dengan sengaja sehingga keluar waktunya, maka wajib ke atasnya untuk mengqadha solat tersebut. Beliau menegaskan bahawa tidak diketahui adanya khilaf dalam perkara ini, kecuali satu pendapat yang dinukilkan daripada Imam al-Hasan al-Basri.

3. Diriwayatkan bahawa Imam al-Hasan al-Basri berpendapat: “Apabila seseorang meninggalkan satu solat sekalipun, maka dia tidak boleh mengqadhanya.” (Rujuk Ta‘zim Qadr al-Solah, hlm. 996–1000). Zahir ungkapan ini menunjukkan pendekatan yang sangat tegas, seolah-olah seseorang yang meninggalkan walaupun satu solat tidak lagi berpeluang untuk menggantikannya.

4. Namun begitu, Imam Muhammad bin Nasr al-Marwazi menghuraikan bahawa maksud kata-kata Imam al-Hasan al-Basri itu mempunyai dua kemungkinan tafsiran.

5. Pertama, seseorang itu tidak boleh mengqadha solat kerana dia telah jatuh kafir disebabkan meninggalkan solat. Oleh itu, tidak dituntut ke atasnya qadha, kerana orang kafir tidak diperintahkan untuk menggantikan ibadah yang ditinggalkan ketika berada dalam keadaan kufur.

6. Kedua, sekiranya tidak dihukum kafir, maka maksudnya ialah dia tidak boleh mengqadha kerana solat yang diperintahkan oleh Allah hanyalah solat dalam waktunya yang tertentu. Apabila seseorang sengaja meninggalkannya hingga habis waktu, maka dia telah melakukan maksiat dan tiada lagi peluang untuk menggantikannya kerana waktu yang dituntut telah luput.

7. Berdasarkan dua kemungkinan ini, dapat disimpulkan bahawa pandangan Imam Hasan al-Basri berlegar antara dua tafsiran: sama ada orang yang meninggalkan solat dianggap kafir, atau solat di luar waktu tidak termasuk dalam perintah Allah, lalu tidak sah diqadha.

8. Walau bagaimanapun, pandangan ini tidak boleh dijadikan pegangan muktamad kerana ia berlaku sebelum berlakunya istiqrar al-khilaf (penyelarasan khilaf kepada ijmak). Setelah mazhab-mazhab fiqh disusun dan dikembangkan, para ulama telah mencapai kesepakatan bahawa solat yang ditinggalkan, sama ada sengaja atau tidak, wajib diqadha.

9. Oleh itu, umat Islam hendaklah berpegang dengan ijmak ulama kerana ia merupakan salah satu dalil yang disepakati oleh keempat-empat mazhab utama. Adapun pandangan yang mempunyai pelbagai kemungkinan makna (ihtimal), ia tidak boleh dijadikan hujah yang kuat dalam menetapkan hukum.

10. Kaedah fiqh menyebut: 
فاذا جاء الاحتمال بطل الاستدلال
“Apabila sesuatu dalil mengandungi pelbagai kemungkinan makna, maka gugurlah kekuatannya sebagai hujah.” Sehubungan itu, pandangan yang tidak jelas tidak boleh mengatasi dalil yang telah disepakati.

11. Imam al-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu‘ turut menegaskan bahawa telah berlaku ijmak dalam kalangan ulama bahawa wajib mengqadha solat yang ditinggalkan. Ini mengukuhkan lagi bahawa pendirian jumhur ulama adalah kewajipan qadha tanpa khilaf yang muktabar.

12. Saya juga podcaster, lazimnya saya jemput orang yang alim dan pakar dalam bidangnya, bukan orang yang jenis main petik je pandangan ulama untuk mengikut selera orang ramai.

Ust HAZA Official

Sunday, 15 March 2026

The Quraniyyun

The Quraniyyun

https://vt.tiktok.com/ZSuH8dnDV/

The Quraniyyun, or Quranists, are a modern Islamic movement that considers the Quran to be the sole, authentic authority in Islam, rejecting the binding authority of Hadith (sayings attributed to Prophet Muhammad) and traditional Sunni/Shia jurisprudence. They advocate "Quran-alone" Islam, believing it is sufficient for guidance. 

Key Aspects of the Quraniyyun Movement:

•Rejection of Hadith: While they vary in approach, most reject the entire corpus of Hadith literature, arguing that they were documented long after the Prophet's death and often contradict the Quran.

•Origins: While similar, earlier questioning of Hadith existed, the modern movement emerged in the late 19th/early 20th century, particularly in the Indian subcontinent and Egypt, often as a response to perceived stagnation in traditional scholarship.

•Key Beliefs: They focus on the Quran as complete and detailed, asserting that no external source is required for religious legislation.

•Criticism: Mainstream Islamic scholars largely consider them to be in error, with some viewing them as apostates for rejecting the Sunnah (Prophetic example) which is viewed as necessary for explaining the Quran, such as the specifics of daily prayers. 

Common Arguments:

•Pro-Quranism: Followers believe this approach removes human error, sectarianism, and irrational rulings (e.g., stoning for adultery) that they claim are found in Hadith books.

•Counter-Arguments: Critics point to verses in the Quran requiring obedience to the Prophet (3:31, 4:59) and argue that the Quranic obligation of prayer cannot be fulfilled without the practical details provided in the Hadith and Sunnah. 

The movement is often criticized as being influenced by Western modernist ideas rather than traditional Islamic scholarly tradition. 

Saturday, 7 March 2026

AL-SYAHID AYATOLLAH ALI KHAMENEI YANG SAYA KENALI

Minda Presiden PAS
 
AL-SYAHID AYATOLLAH ALI KHAMENEI YANG SAYA KENALI
 
Pertama kali saya mengenali Ayatollah Ali Khamenei ketika al-Syahid menjadi Presiden Republik Islam Iran pada awal tahun 80-an ketika masih lagi berada pada awal kemenangan Revolusi Islam yang berlaku pada tahun 1979. Saya dipilih oleh beliau menjadi salah seorang ahli Majma‘ al-Taqrib Baina al-Mazahib al-Islamiyyah bersama beberapa orang dari Universiti al-Azhar di Mesir, Universiti al-Zaitunah di Tunisia, dan beberapa buah pusat pengajian tinggi yang lain, termasuk parti-parti dan pertubuhan bukan kerajaan (NGO) Islam.
 
Tujuannya bagi mengaktifkan semula fungsi Majma‘ al-Taqrib bagi semua mazhab Ahli Kiblat setelah cita-cita tersebut diasaskan oleh Jamaluddin al-Afghani RH, Muhammad Abduh RH, Ayatollah Kashani RH, Ayatollah Muhammad Taqi al-Qummi RH dan lain-lain. Usaha ini kemudiannya disambung oleh Universiti al-Azhar melalui Majma‘ al-Buhuth al-Islamiyyah, dan seterusnya oleh Republik Islam Iran.
 
Dalam Perang Teluk Pertama (Iran-Iraq), negara Arab bersama Iraq menyerang Iran atas semangat kebangsaan Arab yang bertopengkan mazhab Sunni, yang sebenarnya tidak ada kaitan. Hal ini demikian kerana, para Imam Mazhab Sunni juga sama-sama menjadi mangsa kezaliman yang dilakukan terhadap keluarga Rasulullah SAW, khususnya para ulama’ dan imam mujtahid akibat cemburu terhadap penghormatan masyarakat Islam kepada mereka.
 
Betapa eratnya hubungan antara ulama’ mazhab Sunni dengan ulama’ mazhab Syiah, sehingga para imam mazhab Sunni turut belajar dan mengajar sesama mereka. Bahkan, lebih seratus orang ulama’ Syiah dimasukkan dalam Asanid Sunan Sittah (kitab-kitab hadis dalam mazhab Sunni) dan turut mengarang bersama beberapa kitab muktabar yang diiktiraf sehingga kini.
 
Antaranya, kitab Subul al-Salam Syarah Bulugh al-Maram karangan al-San‘ani RH yang bermazhab Syiah, dan matannya pula kitab Bulugh al-Maram karangan Ibn Hajar al-‘Asqalani RH yang bermazhab Sunni. Begitu juga kitab Tathir al-I‘tiqad ‘an Adran al-Ilhad karangan al-San‘ani RH daripada Syiah yang diajarkan di Masjid Nabawi.
 
Imam Abu Hanifah (Mazhab Hanafi) mati dipenjarakan kerana membela Imam Ja‘far al-Sadiq (imam mazhab Syiah Ithna ‘Ashariyyah). Begitu juga, Imam Malik RH yang dihukum sebat sehingga lumpuh tangannya kerana membela Imam Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah RH (pemimpin Syiah) yang dibunuh dengan zalim, malah Imam al-Syafi‘i RH pula ditangkap dan dibelenggu kerana membela Imam Zaid RH daripada mazhab Syiah Zaidiyyah. Bahkan, Imam tabiin Sa‘id bin Jubair RH pula dihukum bunuh kerana berpihak kepada Ahli al-Bait.
 
Republik Islam Iran menjadi sasaran kerana Islamnya. Firman Allah SWT:
 
وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ٨
 
“Dan mereka tidak menyeksa orang-orang Mukmin itu melainkan kerana orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [Surah al-Buruj: 8]
 
Umat Islam hendaklah bersedia mengikut perintah Allah bagi menghadapi musuh mereka, sepertimana firman-Nya:
 
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ ٦٠
 
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan daripada kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah nescaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [Surah al-Anfal: 60]
 
Adapun negara-negara lain yang kaya-raya berselindung dengan adanya pangkalan tentera Barat yang merupakan musuh Islam dan berpihak dengan nyata kepada Yahudi Zionis yang dimurkai oleh Allah. Kini, negara-negara ini digunakan untuk melindungi Israel, mengecewakan Palestin dan memerangi Iran.
 
Jangan diambil kira kalangan yang jahil agama atau ulama’ yang tidak bertafaqquh dalam al-din dan golongan yang buta sejarah daripada semua pihak.
 
Malangnya, negara-negara Arab dan Islam Sunni sangat akrab dengan negara Iran pada zaman Shah Iran yang menjadi pangkalan utama negara Barat dan melakukan normalisasi dengan negara haram Zionis Israel. Shah Reza Pahlavi, Shah Iran kedua daripada Dinasti Pahlavi juga telah mewajibkan rakyat Iran bermazhab Syiah bagi memisahkan mereka daripada dunia Islam. Namun begitu, masih ada 40 peratus penduduknya yang masih bermazhab Sunni dan bersahabat serta berkeluarga dengan semua mazhab.
 
Iran mula dianggap sebagai musuh apabila Dinasti Pahlavi digulingkan dan Iran bertukar kepada sebuah negara Republik Islam. Pada masa yang sama, Iran turut mengeratkan hubungan dengan negara-negara Islam, mengharamkan negara Israel dan menunjukkan kebersamaan dengan syuhada’ daripada kalangan rakyat Palestin yang berjuang dengan harta dan nyawa mereka sejak awal. Tiba-tiba, Iran difatwakan terkeluar daripada Islam.
 
Apabila diadakan satu rapat umum raksasa di Medan Azadi di Tehran, saya telah dipilih menjadi salah seorang yang berucap mewakili negara luar bersama dengan Presiden al-Syahid Ali Khamenei. Sejak itu, hubungan kami sangat akrab, sehingga setahun yang lalu al-Syahid telah menghadiahkan kepada saya cincin yang dipakainya dan serban selendangnya yang mempunyai lambang Kor Pengawal Revolusi Islam (IRGC), menandakan perkenalan kami yang akrab.
 
Saya menyaksikan keberaniannya ketika rapat raksasa itu, apabila kami diletakkan di bawah bumbung sebuah kubu yang teguh supaya dapat diselamatkan sekiranya diserang oleh musuh. Tiba-tiba, ketika beliau berucap, berlaku serangan udara yang tersasar ke arah bukit yang berdekatan kerana dapat dikawal oleh pertahanan udara. Saya menyaksikan beliau meluru keluar daripada kubu pertahanan untuk bersama rakyat yang berada di lapangan bersama pembesar suara berucap di tempat terbuka.
 
Demikian juga ketika bermulanya serangan Israel dan Amerika Syarikat diberitakan oleh media baru-baru ini, beliau tidak mahu meninggalkan kediaman dan pejabatnya kerana mahu bersama rakyat dalam menghadapi bahaya menjadi sasaran musuh.
 
Sewaktu pemerintahannya, al-Syahid juga melakukan pembaharuan yang sangat berani dalam menghadapi para ulama’ yang masih fanatik mazhab Syiah. Beliau melaksanakan perubahan yang pernah dilakukan oleh Imam Ruhollah Khomeini RH yang diasaskan oleh Jamaluddin al-Afghani RH, Muhammad Abduh RH, dan Ayatollah Kashani RH pada abad yang lalu, di samping Hasan al-Banna, dan Sayyid Qutb, serta disambung oleh Syeikh al-Azhar Mahmud Shaltut RH.
 
Al-Syahid menukar konsep kepimpinan negara daripada kepimpinan Imam Mahdi al-Muntazar (yang dinantikan kelahirannya) kepada kepimpinan Wilayah al-Faqih (kepimpinan ulama’) berpandukan kitab al-Ahkam al-Sultaniyyah dan siasah syar‘iyyah dalam Mazhab Sunni, khususnya Mazhab Syafi‘i.
 
Sehingga dibentuk sebuah pusat kajian pelbagai mazhab seperti Majma‘ al-Buhuth al-Islamiyyah di Universiti al-Azhar yang mengeluarkan Mausu‘ah al-Fiqh al-Islami iaitu ensiklopedia fiqh lapan mazhab Ahli Kiblat. Mazhab dalam kalangan Sunni, iaitu:
 
1. Hanafi
2. Maliki
3. Syafi‘i
4. Hanbali
5. Zahiri
 
Manakala dua kelompok Syiah yang diterima:
6. Syiah Ithna ‘Asyariyyah
7. Syiah Zaidiyyah
 
Dan yang terakhir daripada mazhab Khawarij:
1. Ibadi
 
Seterusnya, lapan mazhab tersebut diiktiraf oleh Muktamar Kemuncak Negara Umat Islam di Makkah di bawah Pertubuhan Kerjasama Islam (OIC) sebagai Ahli Kiblat yang berpegang kepada rukun iman dan rukun Islam, serta hanya berkhilaf dalam masalah furu‘ (cabang agama).
 
Isu perbalahan mazhab dicetuskan pembaharuannya oleh Zionis Israel, Amerika Syarikat dan negara-negara blok Barat. Mereka menentang sekeras-kerasnya penubuhan semula negara Islam dengan mewujudkan Syiah jadian yang jahil dalam masyarakat Sunni dan kumpulan fanatik mazhab dalam Syiah. Di samping itu, blok Barat juga menaja Perang Teluk melalui negara Arab dan Islam di bawah pengaruhnya dengan menggunakan ulama’ rasmi kerajaan bagi menyekat pengaruh Iran kembali kepada negara Islam.
 
Adapun Khamenei juga mengeluarkan fatwa mengharamkan celaan terhadap para sahabat dan Ummahat al-Mukminin RA, serta bertindak menghalau keluar dari Iran kalangan mereka yang masih mencela. Ramai yang mendapat perlindungan suaka politik di Amerika Syarikat dan negara Eropah dipergunakan untuk memecahbelahkan umat Islam. Malangnya, fatwa itu sengaja diperkecil dan ditutup kepada masyarakat umum.
 
Media digunakan untuk mempengaruhi masyarakat umum yang jahil serta para ulama’ yang tidak bertafaqquh dalam urusan al-din dan buta sejarah.
 
Sokongan sepenuhnya oleh Iran terhadap Palestin dengan harta dan nyawa, sehingga mengorbankan para syuhada’ bersama Palestin bukanlah satu lakonan. Akan tetapi, ia satu pengorbanan bagi menyahut seruan Allah yang mewajibkan jihad khususnya di Palestin untuk melawan kaum Yahudi Zionis dan penyokongnya daripada kalangan kuasa besar yang dinyatakan oleh Allah melalui firman-Nya:
 
۞لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ ...٨٢
 
“Sesungguhnya, kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik...” [Surah al-Ma’idah: 82]
 
Allah melarang dengan keras perbuatan berwala’ kepada musuh Islam, khususnya kalangan yang paling bermusuh terhadap Islam dan umatnya. Firman Allah SWT:
 
۞ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ ٥١
 
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (kamu)! Sebahagian daripada mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Sesiapa antara kamu yang mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Surah al-Ma’idah: 51]
 
Berwala’ dengan maksud melantik musuh Islam menjadi pemimpin yang disanjung, juga sebagai penasihat dan pemandu dalam urusan negara. Sehinggakan, ada juga yang membantu bagi memerangi umat Islam dengan mendedahkan rahsia sebagai pengintip atau membantu secara langsung memerangi umat Islam dan tanah airnya.
 
Perbuatan ini diharamkan dengan sekeras-kerasnya, sehingga boleh merosakkan aqidah menjadi kafir atau munafiq. Inilah pendapat para ulama’ tafsir berpandukan nas yang nyata daripada firman Allah tersebut.
 
Allah SWT memberi amaran yang sangat keras dan meletakkan jenama munafiq kepada mereka yang berwala’ kepada musuh Islam kerana berselindung di bawah kekuasaannya dan berjaya bersamanya. Firman Allah SWT:
 
بَشِّرِ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا ١٣٨ ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَيَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا ١٣٩ وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ إِنَّكُمۡ إِذٗا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠
 
“Khabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahawa mereka akan mendapat seksaan yang pedih. (138) (Iaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka, sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (139) Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam al-Quran bahawa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk berserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Kerana sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (140)” [Surah al-Nisa’: 138-140]
 
Umat Islam kini diuji dengan tindakan Israel, Amerika Syarikat dan sekutunya yang membentuk Pasukan Ahzab yang baharu. Mereka menceroboh negara Republik Islam Iran dan umat Islam dalam kalangan rakyatnya kerana telah membantu rakyat Palestin yang menjadi mangsa kezaliman kaum Yahudi Zionis. Mereka yang bersekongkol bersamanya dalam pasukan Ahzab yang pernah menyerang Islam, negara dan rakyatnya pada zaman Rasulullah SAW. Kini, pakatan ini mengganyang Hamas dan Tanzim Jihad (gerakan Islam paling berpengaruh di Palestin yang mentadbir wilayah Gaza).
 
Allah menyebut peristiwa Ahzab pada zaman Rasulullah SAW melalui firman-Nya:
 
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ جَآءَتۡكُمۡ جُنُودٞ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيحٗا وَجُنُودٗا لَّمۡ تَرَوۡهَاۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرًا ٩ إِذۡ جَآءُوكُم مِّن فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ أَسۡفَلَ مِنكُمۡ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ١٠ هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ١١ وَإِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورٗا ١٢
 
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni‘mat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentera-tentera, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taufan dan tentera yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (9) (Iaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. (10). Di situlah diuji orang-orang Mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (11) Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’ (12)” [Surah al-Ahzab: 9-12]
 
Allah mendedahkan kalangan yang banyak cakap dan dalihnya, sehingga mencetuskan keraguan bagi melawan musuh. Firman Allah SWT:
 
۞قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ وَلَا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ إِلَّا قَلِيلًا ١٨
 
“Sesungguhnya, Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” [Surah al-Ahzab: 18]
 
Kedutaan Amerika Syarikat di Israel mengeluarkan kenyataan bahawa negara Israel sebenarnya bersempadan mulai Sungai Nil di Mesir sehingga Sungai Furat di Iraq. Kenyataan ini adalah mendukung perjuangan pelampau Yahudi yang berjuang bagi menegakkan Negara Israel Agung (Greater Israel).
 
Malangnya, negara jiran Palestin sangat dikecewakan. Sudah berlaku kebenaran al-Quran yang ditafsirkan oleh sabda Rasulullah SAW:
 
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الدِّينِ ظَاهِرِينَ، لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ.
 
“Terus-menerus dalam kalangan umatku adanya kumpulan yang bangkit menegakkan al-din (Islam yang sempurna), gagah perkasa menghadapi musuh, serta tidak mampu dihalang oleh sesiapa yang menentang mereka atau mengecewakan mereka, melainkan mereka menghadapi sedikit kesusahan, sehingga datangnya keputusan Allah (memenangkan mereka), mereka masih dalam keadaan demikian.”
 
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: ‌بِبَيْتِ ‌الْمَقْدِسِ، ‌وَأَكْنَافِ ‌بَيْتِ ‌الْمَقْدِسِ.
 
Apabila para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah mereka?” Baginda menjawab, “Di Bait al-Maqdis dan di sekeliling Bait al-Maqdis.” [Hadis riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, Musnad al-Ansar, no. 22320, daripada Abu Umamah al-Bahili]
 
Begitu juga dengan sebab nuzul firman Allah SWT:
 
وَءَاخَرِينَ مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٣
 
“Dan juga (telah mengutus Nabi Muhammad kepada) orang-orang yang lain daripada mereka, yang masih belum (datang lagi dan tetap akan datang) menghubungi mereka; dan (ingatlah), Allah jua Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” [Surah al-Jumu‘ah: 3]
 
Daripada Abu Hurairah RA, beliau menceritakan: Sedang kami (para sahabat) duduk bersama Nabi SAW, lalu turun kepada Baginda Surah al-Jumu‘ah (ayat 3), “Dan (Dia juga telah mengutus Nabi Muhammad) kepada kaum yang lain daripada mereka yang belum berhubungan dengan mereka.” Aku bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah SAW?” Baginda tidak menjawab sehingga ditanya sebanyak tiga kali. Di sisi kami adanya Salman al-Farisi RA, lalu Rasulullah SAW meletakkan tangannya di atas badan Salman sambil bersabda, “Sekiranya iman itu bergantung di bintang Thurayya, nescaya ia dicapai oleh beberapa orang — atau seorang — lelaki daripada kalangan mereka (kaum Parsi).” [Hadis riwayat al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Tafsir al-Qur’an, no. 4897, dan Muslim, Sahih Muslim, Kitab Fada’il al-Sahabah, no. 2546, dan lain-lain daripada Abu Hurairah. Lafaz bagi al-Bukhari]
 
Allah SWT menyebut firman-Nya daripada Ilmu-Nya yang dinyatakan daripada Kalam-Nya bahawa perjuangan Islam beralih daripada bangsa Arab yang lemah dan hina kepada bangsa lain yang bangkit mempertahankan Islam.
 
Antaranya, dua orang sahabat daripada bangsa Parsi, Salman al-Farisi RA yang menasihati strategi pertahanan Perang Ahzab, dan Bazan bin Sasan RA yang dilantik oleh Rasulullah SAW menjadi Amir (pemerintah) yang pertama di Yaman.
 
Republik Islam Iran merupakan satu-satunya negara yang membuat persediaan bagi menghadapi Zionis Yahudi dan sekutunya laksana bala tentera Ahzab. Malah, Iran secara terbuka bersama Palestin bagi mempertahankan tanah suci itu dan Masjid al-Aqsa dengan nyata pengorbanannya, bukan lakonan yang dituduh oleh kalangan yang berani mengatasi ilmu Allah Yang Maha Mengetahui segala yang nyata dan tersembunyi. Walaupun mereka bermazhab Syiah, mereka sanggup berkorban berjihad mempertahankan Palestin yang bermazhab Sunni.
 
Hal ini berbeza dengan pendirian ragu-ragu dalam kalangan negara Arab dan Islam, sehingga ada yang bersekongkol dengan musuh, serta ada yang berlagak berkecuali menjadi pendamai dan ada juga yang membisu. Berbeza dengan majoriti umat Islam yang masih ada persaudaraan iman dalam jiwanya yang tetap bersama Palestin dan Iran yang kini menjadi sasaran serangan musuh Islam.
 
Sekarang Allah SWT mentafsirkan firman-Nya:
 
يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡ‍َٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ وَلَوۡ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ٢٠ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا ٢٢ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ٢٣ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٢٤
 
“Mereka mengira (bahawa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, nescaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil bertanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (20) S

Friday, 6 March 2026

Suara Sunnah

Suara Sunnah 
Semua Parti Politik dalam negara beri sokongan Kepada Syiah Bukan negara Iran tetapi Syiah.

🎙️: Kapten Asri Khalid 
🎥: Suara Sunnah 

_______________________________________________

Sahabat kita belajar di Qom Iran Membongkar wajah sebenar Syiah Iran.

Bukan pergi bercuti 3 bulan atau 2 Tahun tapi beliau pernah jadi aktivis Syiah dan belajar di Qom, Iran melalui jaringan Al-Mustafa International University di bawah kepimpinan Ali Khamenei.

Bukan tu je, bahkan sahabat kita ini pernah jadi muqallid kepada Ali Khamenei. Fiqh beliau telaah bertahun-tahun dalam kelas dengan guru figh yang di panggil " Ostad Sardar".

Lihat di ruang komen.

Wednesday, 4 March 2026

Tuesday, 3 March 2026

Sunday, 1 March 2026

Mantra Dalam Quran

Mantra Dalam Quran

https://www.facebook.com/share/r/1AnmxZFZze/

Saturday, 28 February 2026

BENARKAH SANAD AKIDAH ASY'ARIYYAH TERPUTUS?

BENARKAH SANAD AKIDAH ASY'ARIYYAH TERPUTUS?

Sejak kebelakangan ini, timbul kembali dakwaan daripada sebahagian pihak bahawa akidah Asy‘ariyyah tidak mempunyai sanad yang bersambung kepada generasi Salaf. Bahkan ada yang berani mengatakan ia adalah akidah yang “terputus” dan tidak berakar daripada para Sahabat.

Benarkah begitu?

Mari kita nilai dengan tenang dan berfakta.

1) Siapakah Imam al-Asy‘ari?

Imam Abu al-Hasan al-Ash'ari dilahirkan pada tahun 260H dan wafat pada 324H. Pada awal hidupnya, beliau memang mendalami fahaman Mu‘tazilah di bawah bimbingan bapa tirinya, Abu ‘Ali al-Jubba’i. Riwayat popular menyebut tempoh tersebut sekitar 40 tahun, walaupun sebahagian pengkaji meneliti semula angka itu dari sudut kronologi.

Namun yang lebih penting ialah hakikat bahawa beliau akhirnya mengisytiharkan keluar daripada Mu‘tazilah dan kembali kepada manhaj Ahli Sunnah Wal Jamaah. Sejak itu, beliau bangkit mempertahankan akidah Salaf dengan hujah ilmiah yang tersusun dan berdisiplin.

Beliau bukan mencipta agama baru. Beliau mempertahankan agama yang sama.

2) Apa Maksud “Sanad” Dalam Akidah?

Ramai yang keliru dalam memahami istilah sanad.

Dalam ilmu hadis, sanad bermaksud rangkaian periwayat yang menyampaikan sesuatu lafaz secara tepat daripada generasi ke generasi.

Tetapi dalam akidah, sanad merujuk kepada kesinambungan manhaj dan pengajaran ilmu — iaitu hubungan guru dan murid yang bersambung kepada para imam terdahulu, seterusnya kepada Sahabat dan Rasulullah ﷺ.

Imam al-Asy‘ari sendiri mengambil ilmu daripada ulama hadis Ahli Sunnah seperti:

• Zakariyya al-Saji

• Abu Khalifah al-Jumahi

Dalam fiqh, beliau bermazhab Syafi‘i, dan jalur ilmunya bersambung kepada Muhammad ibn Idris al-Shafi'i, kemudian kepada Malik ibn Anas dan seterusnya kepada generasi Tabi‘in dan Sahabat.

Di manakah terputusnya?

3) Asy‘ariyyah dan Penerimaan Ulama

Jika benar sanadnya terputus, mengapa begitu ramai ulama besar menerima dan mengembangkan manhaj ini?

Antara tokoh yang berada dalam jalur Asy‘ariyyah atau sehaluan dengannya ialah:

• Al-Baqillani

• Al-Ghazali

• Fakhr al-Din al-Razi

• Al-Nawawi

• Ibn Hajar al-Asqalani

Adakah munasabah semua tokoh besar ini — pakar hadis, fiqh, tafsir dan usuluddin — berpegang kepada akidah yang tidak bersanad?

Sejarah membuktikan bahawa majoriti ulama Ahlus Sunnah sepanjang lebih 1000 tahun berada dalam jalur Asy‘ariyyah dan Maturidiyyah. Ini bukan dakwaan emosi, tetapi realiti sejarah keilmuan Islam.

4) Hakikat Tuduhan

Dakwaan “sanad terputus” sebenarnya lebih bersifat polemik daripada ilmiah. Ia sering digunakan sebagai slogan untuk melemahkan autoriti jumhur ulama.

Hakikatnya, Imam al-Asy‘ari tidak memutuskan sanad — beliau menyambungnya kembali kepada manhaj Salaf, lalu mempertahankannya dengan pendekatan hujah rasional bagi menghadapi cabaran zamannya seperti Mu‘tazilah dan golongan yang menyeret umat kepada fahaman tajsim.

Beliau ibarat seorang pembela yang mempertahankan aqidah Salaf dengan bahasa yang difahami oleh ahli debat dan ahli falsafah pada zamannya.

🔹 Kesimpulan: Tenang Dalam Menilai

Dalam isu akidah, kita perlu adil dan berlapang dada. Sejarah Islam bukan milik satu kelompok kecil, tetapi hasil sumbangan ribuan ulama sepanjang zaman.

Menuduh sanad akidah Asy‘ariyyah terputus tanpa penelitian yang mendalam adalah tidak wajar.

Jika ia benar-benar terputus, mustahil ia menjadi pegangan jumhur ulama selama lebih satu milenium.

Akhirnya, yang lebih utama bukanlah menang polemik — tetapi menjaga kesatuan umat dan memelihara akidah daripada fahaman yang melampau.

Ilmu memerlukan ketenangan. Dan kebenaran tidak lahir daripada slogan, tetapi daripada kajian dan kejujuran.

Friday, 27 February 2026

APA ITU JAWHAR?

APA ITU JAWHAR?

Dalam perbahasan aqidah dan ilmu kalam, istilah jawhar sering menimbulkan tanda tanya. Ramai yang mendengarnya, tetapi tidak benar-benar memahami maksudnya. Sebenarnya, konsep ini tidaklah terlalu rumit jika diterangkan dengan bahasa yang santai dan tersusun.

Secara mudah, jawhar ialah sesuatu yang wujud pada dirinya sendiri dan menjadi asas kepada kewujudan sifat. Ia bukan sifat, dan bukan juga gabungan bahagian-bahagian. Ia adalah “unit asas” yang menjadi tempat melekatnya sifat-sifat.

Para ulama kalam seperti Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan dihuraikan dengan lebih sistematik oleh tokoh seperti Imam al-Baqillani menggunakan istilah ini untuk menerangkan bagaimana makhluk itu tersusun dan bagaimana sifat wujud padanya. Tujuan mereka bukan untuk berfalsafah secara kosong, tetapi untuk mempertahankan aqidah daripada kekeliruan.

Untuk lebih mudah faham, bayangkan sebiji batu. Batu itu secara keseluruhan dipanggil jisim kerana ia mempunyai ukuran, mengambil ruang dan boleh dibahagi. Namun dalam perbahasan kalam klasik, batu itu dianggap terbina daripada unit-unit asas yang dinamakan jawhar. Manakala warna kelabu batu itu, kerasnya, sejuk atau panasnya — semua itu dipanggil ‘arad, iaitu sifat yang menumpang pada sesuatu yang wujud.

Begitu juga dengan manusia. Tubuh badan kita ialah jisim. Tinggi, berat, warna kulit, gerakan dan suhu badan adalah ‘arad. Manakala unit asas yang menjadi tempat sifat-sifat ini melekat, menurut istilah kalam, dipanggil jawhar.

Secara ringkasnya, jawhar itu seperti asas binaan. Jisim pula ialah struktur yang terbina daripada asas-asas tersebut. ‘Arad pula ialah ciri-ciri yang ada pada struktur itu. Walaupun analogi ini tidak sama sepenuhnya dengan sains moden, ia membantu kita membayangkan konsep tersebut.

Mengapa ulama bersusah payah menggunakan istilah seperti ini? Jawapannya kerana mereka mahu menegaskan bahawa makhluk itu tersusun, bergantung dan menerima perubahan. Sesuatu yang tersusun pasti tidak azali. Sesuatu yang berubah pasti baharu. Dengan memahami struktur makhluk, kita akan lebih mudah memahami bahawa Allah tidak sama dengan makhluk.

Allah bukan jawhar, bukan jisim dan bukan ‘arad. Allah tidak tersusun daripada bahagian, tidak mengambil ruang dan tidak bergantung kepada apa-apa. Dialah Pencipta segala jawhar, jisim dan sifat.

Akhirnya, memahami istilah seperti jawhar bukan untuk memeningkan kepala, tetapi untuk menjaga aqidah daripada kekeliruan. Bila istilah difahami dengan betul, perbahasan menjadi lebih tenang dan jelas.

Wallahu a‘lam.

Thursday, 26 February 2026

MENGAPA SESEORANG BOLEH CENDERUNG KEPADA MANHAJ WAHHABI?

MENGAPA SESEORANG BOLEH CENDERUNG KEPADA MANHAJ WAHHABI?

Perbahasan tentang “Wahhabi” sering menjadi panas. Emosi mendahului ilmu. Label lebih cepat keluar daripada hujah.

Namun jika kita mahu jujur dan adil, kita perlu melihat isu ini dengan neraca ilmu — bukan sekadar sentimen.

Istilah “Wahhabi” biasanya dinisbahkan kepada Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang muncul di Semenanjung Arab dan kemudiannya berkembang luas di Arab Saudi. Pada hari ini, istilah itu digunakan secara umum kepada kelompok yang membawa pendekatan salafi tekstual, anti-taklid dan keras dalam isu bid‘ah.

Persoalannya: mengapa seseorang boleh tertarik kepada pendekatan ini?

1️⃣ Semangat “Kembali Kepada Dalil”

Slogan seperti “Kita ikut al-Quran dan Sunnah sahaja” sangat kuat daya tarikannya.

Bagi orang awam atau penuntut ilmu yang baru bersemangat, pendekatan ini kelihatan lebih “bersih” dan “asli”. Mereka merasakan seolah-olah sebelum ini agama telah dicemari oleh adat, tradisi dan mazhab.

Padahal hakikatnya, mazhab-mazhab muktabar seperti mazhab Al-Shafi'i atau Ahmad ibn Hanbal juga dibina atas al-Quran dan Sunnah — cuma melalui disiplin ilmu yang ketat.

Masalahnya bukan pada kembali kepada dalil.
Masalahnya ialah bagaimana memahami dalil.

2️⃣ Kekecewaan Terhadap Amalan Masyarakat

Tidak dinafikan, dalam sebahagian masyarakat Islam memang ada amalan yang bercampur antara adat dan agama. Ada unsur berlebihan. Ada unsur tidak bersandarkan dalil yang jelas.

Apabila seseorang melihat keadaan ini, lalu dia bertemu dengan manhaj yang tegas membanteras semua bentuk bid‘ah, dia merasakan itulah penyelamat.

Tetapi di sinilah bahayanya.

Jika semua yang tidak pernah dibuat Nabi ﷺ terus dihukum sesat tanpa memahami pembahagian bid‘ah menurut jumhur ulama, maka agama akan menjadi sempit. Ruang ijtihad tertutup. Khilaf muktabar dilenyapkan.

Akhirnya, semangat membetulkan masyarakat berubah menjadi semangat menghukum masyarakat.

3️⃣ Faktor Guru dan Media

Realiti hari ini: ramai belajar agama melalui YouTube dan media sosial.

Tanpa talaqqi yang berdisiplin.
Tanpa manhaj turath yang kukuh.
Tanpa mengenal kaedah usul fiqh, mustolah hadith dan manhaj istidlal.

Apabila seseorang hanya membaca terjemahan dan mendengar kuliah satu aliran sahaja, fikirannya mudah menjadi hitam putih.

Yang setuju = sunnah.
Yang tidak setuju = bid‘ah.

Ini bukan kesalahan satu kelompok sahaja. Ini penyakit zaman digital.

4️⃣ Faktor Psikologi dan Keghairahan Berlebihan

Setiap gerakan ada golongan yang terlalu ghairah. Mahu membetulkan semua orang. Mahu menjadi “penyelamat tauhid”. Bahasa menjadi keras. Dunia dilihat penuh syirik.

Namun mengaitkan keseluruhan kelompok dengan gangguan mental adalah tidak adil. Dalam mana-mana aliran pun ada individu yang emosional atau ekstrem.

Isunya bukan label.
Isunya adalah keseimbangan dan adab.

5️⃣ Faktor Populariti dan Kelainan

Dalam dunia dakwah moden, pendekatan keras dan kontroversi lebih cepat tular.

Pendekatan sederhana dan tradisional sering dianggap tidak “menarik”. Sedangkan ulama silam berpuluh tahun menuntut ilmu sebelum berani berfatwa.

Benar kata ulama:

خالف تعرف
“Berbeza supaya dikenali.”

Tetapi beza yang tidak dipandu hikmah akan memecahkan umat.

🔹 Masalah Sebenar: Manhaj atau Akhlak?

Perbezaan manhaj dalam sejarah Islam itu wujud sejak dahulu. Imam-imam besar berbeza pendapat, tetapi mereka tidak membid‘ahkan antara satu sama lain dalam perkara khilaf ijtihadi.

Masalah hari ini bukan sekadar perbezaan.

Masalahnya ialah:

• Mudah menyesatkan.

• Mudah mensyirikkan.

• Mudah merendahkan tradisi ulama.

Sedangkan para ulama Ahlus Sunnah sepanjang sejarah sangat berhati-hati dalam menghukum.

🔹 Kesimpulan

Ada yang cenderung kepada manhaj Wahhabi kerana:

• Semangat mencari agama yang lebih “murni”.

• Kekecewaan terhadap amalan masyarakat.

• Pengaruh guru dan media.

• Keghairahan tanpa disiplin ilmu.

• Ingin kelihatan berbeza.

Namun kita tidak boleh menyapu rata semua.

Yang perlu diperjuangkan bukan perang label.
Yang perlu diperjuangkan ialah:

✔️ Kembali kepada disiplin ilmu.
✔️ Menghormati khilaf muktabar.
✔️ Beradab dalam berbeza.
✔️ Tidak mudah menghukum sesat dan syirik.

Jika umat sibuk melabel, umat akan terus berpecah.
Jika umat kembali kepada manhaj ilmu dan adab, perbezaan akan menjadi rahmat.

Monday, 23 February 2026

KECELARUAN BERAGAMA AKIBAT MENGAMALKAN HADITH TANPA PANDUAN FUQAHĀʾ

KECELARUAN BERAGAMA AKIBAT MENGAMALKAN HADITH TANPA PANDUAN FUQAHĀʾ

Terdapat segelintir yang menganggap apabila dia amalkan hadith maka itulah sunnah. Sedangkan hakikatnya, praktik sunnah bukan semudah itu sebaliknya hendaklah dia ikut panduan para ulama muktabar untuk mengetahui kefahaman yang sahih dan praktik sunnah yang sebenar dalam beragama.

Perbincangan tersebut saya telah huraikan panjang lebar dalam tiga artikel di bawah:

https://www.facebook.com/share/p/17xSug9xjx/

https://www.facebook.com/share/p/1BFUgpege2/

https://www.facebook.com/share/p/14cg64FAcAc/

Antara akibat dari amal hadith tanpa panduan ulama fiqh ialah ketikamana masuk ke dalam masjid atau surau, seringkali saya ternampak segelintir individu yang sembahyang berjemaah dalam keadaan kakinya betul-betul rapat dilekatkan pada kaki orang yang berada di sebelahnya sehingga kakinya agak terkangkang besar kerana dia ingin memastikan kedua-dua kakinya menyentuh kaki orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Seperkara lagi yang saya perhatikan, orang yang sama ini sembahyang dengan meletakkan kedua-dua tangannya betul-betul di atas dadanya.

Persoalannya, mengapa dia sembahyang dengan sedemikian rupa? Jika dia mempunyai masalah dengan kaki atau tangannya sehingga terpaksa mengangkang kakinya dan terpaksa menaikkan tangannya ke dadanya, maka hal itu tidak mengapa dan tidak menjadi masalah. Setiap kali saya melihat orang yang solat seperti itu, supaya tidak bersangka buruk, saya akan beranggapan bahawa kemungkinan dia ada masalah sendi pada tangan dan kakinya sehingga dia terpaksa solat dengan sedemikian rupa atau dia hanya mengikut-ngikut orang lain tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenar. 

Namun untuk orang yang melakukan sedemikian, dia hendaklah bermuhasabah dan bertanya kepada dirinya sendiri adakah dia melakukan hal itu kerana mendakwa ianya sunnah atau kerana ia berdasarkan hadith semata-mata, jika sedemikian itu anggapannya, maka ia menjadi suatu kemusykilan kerana tidak ada siapa dari ulama muktabar yang menyatakan sunnah untuk menunaikan solat dengan cara sedemikian rupa. Bahkan semua mazhab menyatakan bahawa makruh hukumnya meletakkan tangan naik ke paras dadanya.  

Berkenaan cara meletakkan tangan ketika solat adalah seperti berikut:

Mazhab al-Shafi’i: Meletakkan di atas pusatnya iaitu antara pusat dan dada. Baik untuk lelaki dan perempuan. 

Mazhab al-Hanbali: Pendapat pertama ialah meletakkan tangan di bawah pusat. Pendapat kedua ialah ialah di atas pusat. Pendapat ketiga ialah dibawah dada. Adapun meletakkan tangan di atas dada adalah makruh menurut Imam Ahmad bin Hanbal.

Mazhab al-Maliki: Pendapat pertama ialah melepaskan tangan ke bawah (irsal). Pendapat kedua ialah meletakkan di atas pusat.

Mazhab al-Hanafi: meletakkan tangan dibawah pusat untuk lelaki dan meletakkan di atas dada untuk perempuan.

Hadith dalam bab ini ialah: “Dari Wa’il, beliau berkata: Lalu RasuluLlah SAW meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya (على صدره)”. (Riwayat Ibn Khuzaymah) 

Namun Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan hadith ini da’if. Kerana dalam riwayat ada Mu’ammil bin Isma’il al-Basri dan ramai Muhaddithin mengatakan bahawa kalimah “…di atas dadanya” (على صدره) adalah penambahan (ziyadah) dari perawi. Sedangkan hukum-hakam tidak terbina di atas hadith da'if yang ditolak oleh para fuqaha'. Oleh kerana itu, kita dapati tiada seorang pun Imam Mazhab yang beramal dengan hadith ini secara literal. 

Adapun menurut Imam Abu Hanifah, wanita meletakkan tangannya di atas dadanya bukan beristidlalkan hadith Sahih Ibni Khuzaymah ini, tapi beristidlalkan qiyas bahawasanya ia lebih menunjukkan sifat haya’ bagi wanita.

Oleh yang demikian, seseorang yang meletakkan kedua tangannya di atas dadanya sebenarnya tidak mengikut mana-mana tafsiran Ulama dalam memahami hadith sifat solat, bahkan makruh disisi Imam Ahmad bin Hanbal, sebaliknya perbuatannya itu adalah mengikut pendapat Mazhab Hanafi secara qiyas untuk wanita. Adapun untuk lelaki, semua mazhab menyatakan bahawa kedudukan tangan adalah di bawah dada. 

Berkenaan kedudukan kaki ketika dalam saf, diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari sebagaimana berikut:

أقِيموا صفوفَكم، ثلاثًا، واللهِ لَتُقِيمُنَّ صفوفَكم أو ليُخالِفَنَّ اللهُ بينَ قلوبِكم، قال: فرأَيْتُ الرَّجُلَ يُلزِقُ مَنكِبَه بمَنكِبِ صاحبِه، ورُكبَتَه برُكبَةِ صاحبِه، وكعبَه بكعبِه

Baginda SAW berkata: Luruskan saf kalian (tiga kali), demi Allah, kalian sama ada benar-benar meluruskan saf-saf kalian atau Allah akan cerai-beraikan hati-hati kalian. Maka aku (Nu’man bin Bashir) melihat lelaki merapatkan bahunya disebelah bahu orang disebelahnya, lututnya pada lutut orang disebelahnya, buku lalinya pada buku lali orang disebelahnya”.

Berkenaan hadith di atas, al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani berkomentar dalam Fath al-Bari, beliau berkata:

قال الحافظ في ( الفتح ) : المراد بذلك المبالغة في تسوية الصفوف و تقاربها اهـ لاحقيقة الإلتصاق و يمكن أن أحدهم يمس منكبه منكب الآخر، فأما القدم و الركبة فلا يلزم التماس، و ذلك لأن البعض قد يتأذى من التلاصق و التقارب الشديد

“Maksudnya bersungguh-sungguh di dalam meluruskan saf bukan maksudnya betul-betul melekatkan. Boleh saja salah seorang mereka menempelkan bahunya ke bahu orang lain, adapun buku lali dan lutut tidak dilazimkan untuk saling bersentuhan. Yang seperti itu kerana terkadang seseorang merasa terganggu kerana tempelan dan desakan yang menganggu ini. Akan tetapi maksudnya ialah menegakkan barisan saf secara selari dan mengisi celah diantara saf hingga syaitan tidak boleh keluar masuk”.

Kenyataan yang dibuat oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di atas adalah pengamalan seluruh mazhab, tiada satu pun menyalahinya. Seseorang yang solat dengan mengangkangkan kakinya agar bersentuhan rapat dengan orang disebelahnya, adalah sebenarnya tidak mengikut mana-mana tafsiran Ulama Muktabar dalam memahami hadith mengenai saf solat.

Dia akan terjebak dengan makna zahir hadith tersebut kerana jika dia mendakwa perbuatannya itu adalah untuk mengikut hadith sahih tersebut, maka dia perlu tahu bahawa hadith sahih itu tidak hanya menyebut bahu bertemu bahu dan kaki bertemu kaki, akan tetapi juga menyebut buku lali bertemu buku lali dan lutut bertemu lutut, sedangkan untuk mengamalkannya secara literal adalah hampir mustahil.

Pada asalnya, saya menyangka bahawa pendapat melekatkan kaki dengan kaki ini adalah pandangan dari Ulama Salafi, namun sepanjang pencarian saya, ternyata semua tokoh Salafi bersetuju bahawa makna hadith kaki bertemu kaki bukan bersentuhan melekat.

Seorang tokoh Salafi, Shaykh Muhammad Bin Uthaymin mengatakan bahawa yang sunnah dalam bab ini ialah seseorang pada awal solat hendaklah merapatkan saf dan meluruskan barisan agar tiada orang yang kakinya maju ke hadapan dan orang lain mundur dibelakang. Beliau menjelaskan bahawa bukan sunnah untuk menyentuh jari kaki dengan orang disebelahnya sehingga dia melebarkan bukaan kakinya apabila orang disebelahnya menarik kakinya ke arah bertentangan. Bahkan ia bertentangan dengan sunnah kerana yang sepatutya ialah dia perlu memberi kelonggaran kepada jirannya dan tidak menganggunya dengan sentuhan kakinya yang rapat. Bahkan menurut beliau, perbuatan tersebut adalah bertentangan dengan sunnah.

Manakala ilmuan Salafi yang lain bernama Shaykh Salih Fawzan pula berpendapat hadith sahih di atas adalah bermaksud المحاذات iaitu barisan saf yang selari bukan melekatkan kaki bersentuhan dengan kaki orang disebelahnya. Shaykh Bin Baz juga mengatakan bahawa maksud hadith diatas adalah memenuhkan saf dan selarikan barisan saf, bukan menempelkan kaki dengan kaki orang sebelah. Kenyataan semua tokoh Salafi dalam bab ini adalah sejajar dengan apa yang dijelaskan oleh para Ulama Muktabar yang lain.

Oleh yang demikian, seseorang yang solat berjemaah dengan mengangkang kakinya agar dapat bersentuhan dengan kaki orang disebelahnya dengan alasan untuk ikut sunnah, hendaklah dia mengetahui bahawa tiada seorang Ulama pun yang memahami sunnah dari hadith sifat saf dengan sedemikian rupa.

Seluruh perbincangan di atas membuktikan bahawa persoalan cara letak tangan dan cara merapatkan saf dalam solat sahaja sudah mencukupi untuk menunjukkan betapa pentingnya untuk seseorang yang ingin mengamalkan sunnah tidak hanya bergantung kepada teks hadith semata-mata, akan tetapi perlu melihat kepada pengamalan umat Islam dengan mengikut apa yang telah dijelaskan oleh para Ulama Fiqh sepanjang zaman. 

Perbincangan ini juga menunjukkan bahawa betapa pentingnya pengajian ilmu secara bersanad agar seseorang dapat memahami kefahaman yang sahih terhadap hadith-hadith RasuluLlah SAW supaya amalannya berada di atas pengertian “Sunnah”. 

Demikian adalah kerana praktik amalan yang dilakukan oleh Umat Islam adalah merupakan tasalsul iaitu berantaian dari umat Islam yang awal, seseorang yang hanya ingin mengamalkan hukum-hakam Islam dengan hanya berpandukan kepada teks al-Qur’an dan hadith semata-mata akan menatijahkan kepincangan dan kecelaruan dalam amalannya.

Oleh kerana itu, Sayyidina Ibnu Umar (ra) berkata:

العِلْمُ دِيْنٌ وَالصَّلَاةُ دِيْنٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا العِلْمَ وَكَيْفَ تُصَلُّونَ هَذِهِ الصَّلّاةَ فَإِنَّكُمْ تُسْأَلُونَ يَوْمَ القِيَامَة

"Ilmu itu agama dan solat itu adalah agama. Maka hendaklah kalian perhatikan daripada siapa kalian mengambil ilmu dan solat kalian kerana sesungguhnya kalian akan ditanya pada Hari Qiamat."
(Riwayat al-Daylami)

Athar Sayyidina Ibnu Umar ini membuktikan bahawa kepentingan sanad bukan sahaja terletak kepada jalan riwayat semata-mata, akan tetapi juga merangkumi jalan pengamalan dan kefahaman.

Imam AbduLlah bin Wahb (w.197H/813M) pernah berkata, “Aku telah terlalu banyak menghimpunkan hadith-hadith maka ia telah membingungkanku, aku sentiasa menyangka bahawa setiap apa yang telah datang dari Nabi Muhammad SAW maka boleh beramal dengannya, maka aku bentangkannya kepada Imam Malik bin Anas dan Imam al-Layth, maka mereka berdua berkata: Ambil (hadith) yang ini dan tinggalkan yang ini”. Imam Malik dan Imam Layth adalah antara pakar Fiqh pada zaman tersebut. 

Imam AbduLlah bin Wahb juga berkata, “Setiap pakar hadith yang tidak berguru kepada Ulama Fiqh, nescaya dia akan tersesat. Dan jika Allah tidak menyelamatkanku menerusi Imam Malik dan Imam Layth, nescaya aku pasti tersesat” (kullu sāhib hadith laysa lahu imām fi al-fiqh fa huwa ḍāllun wa law lā anna Allah anqadhanā bi Mālik wa al-Layth laḍalalna).

(Ruj: Tartib al-Madārik li al-Qādi ‘Iyad, j.1,ms.247, Bāb Ashāb Malik dan al-Jāmi’ fi al-Sunan li Ibni Abi Zayd, ms.119)

iqbal Zain al-Jauhari

Sunday, 22 February 2026

JUMHUR ULAMA HADITH ADALAH BERMAZHAB

JUMHUR ULAMA HADITH ADALAH BERMAZHAB

Para ulama hadith (muhaddithin) yang terdahulu sejak zaman berzaman adalah orang yang bertaqlid dengan mazhab. Sungguhpun mereka telah menghafal beratus-ratus ribu hadith dan menghasilkan kitab himpunan hadith yang sangat besar sumbangannya hingga ke hari ini, namun mereka tidak membentuk mazhab mereka sendiri. Bahkan mereka tetap berpegang teguh dengan Imam Mazhab.

Mengapa? Perlu difahami bahawa setiap ulama mazhab pasti menguasai ilmu hadith namun para ulama hadith tidak semestinya menguasai ilmu fiqh. Melainkan hanya segelintir mereka yang menguasai kedua-dua bidang sekaligus seperti Imam al-Nawawi, Qadi Iyad, Imam al-Suyuti dan lain -lain. meskipun begitu, mereka tetap mengikut Imam mazhab masing-masing. 

Hari ini ada segelintir yang keliru dengan istilah "Fiqh hadith" kerana menyangka orang yang mendalami "fiqh hadith" ialah orang yg faham hadith dan fiqh sekaligus. Ianya adalah silap, sebabnya ialah fiqh yang berada dalam kalimah "fiqh hadith" bukan merujuk kepada subjek ilmu fiqh, akan tetapi merujuk kepada subjek ilmu hadith itu sendiri bukan ilmu fiqh.

Juga perlu diketahui bahawa setiap Imam-imam Mazhab mempunyai Kitab Musnad Hadith mereka sendiri. Ini menunjukkan bahawa setiap Imam mazhab mempunyai penguasaan yang luas terhadap hadith. Namun begitu, bukan semua ulama hadith mempunyai kitab fiqh karangan mereka.

Oleh kerana itu, Imam al-Humaidi (rah) yg terkenal dengan kehebatan ilmu hadith dan juga guru hadith kepada Imam Bukhari (rah), apabila ada orang bertanya beliau mengenai hukum hakam agama (fiqh), maka beliau akan merujuk kepada Imam Syafi’I (rah). 

Seorang ulama Muhaddithin, Imam Abdullah bin Wahb (rah)[w.813M] telah berkata:

" Setiap ahli hadith yang tidak mempunyai imam dalam fiqh nescaya dia tersesat, aku telah bertemu tiga ratus orang alim, kalau bukan kerana Malik bin Anas dan Al-Laith bin Sa'ad nescaya aku akan binasa. (Imam Malik dan Imam Laith adalah imam feqah yg hebat pada zamannya)

Dikatakan kepadanya: bagaimana boleh terjadi sebegitu rupa?

Maka beliau berkata: aku telah mendapati terlalu banyak menghimpunkan hadith maka ia telah memeningkanku, aku sentiasa menyangka bahawa setiap apa yang telah datang daripada Nabi Sallalahu Alaihi Wasallam maka boleh beramal dengannya, maka aku bentangkannya kepada Malik dan al-Laith maka mereka berdua berkata: ambil (hadith) yang ni dan tinggalkan (hadith) yang ni.

Dibawah adalah senarai mazhab Muhaddithin Kutub Sittah:

1. Imam Al Bukhari, menurut pendapat masyhur beliau bermazhab Syafi’i, Imam Tajuddin al-Subki memasukkan Imam Bukhari dalam Tabaqat al-Shafi’iyah di mana beliau adalah murid Imam Al-Humaidi ulama besar Syafi’i. Ada pendapat mengatakan kemudian Imam Bukhari mencapai darjat mujtahid. Namun begitu, tiada sebarang mazhab terbentuk dari beliau. 

2. Imam Muslim bermazhab Shafi’i 

3. Imam Abu Isa al-Tirmizi bermazhab Shafi’i 

4. Imam Nasa’i dan Imam Abu Dawud menurut Imam Ibnu Taimiyah merupakan penganut madhab Al Hanbali, namun ada pihak lain yang menyebut bahwa kedua-duanya adalah bermazhab Syafi’i.

5. Imam Ibnu Majah tidak diketahui mazhabnya

Dibawah adalah senarai Muhaddithin yang bermazhab Shafi'i:

1. Al-Hafiz Al-Daraquthni
2. Al-Hafiz Al Bayhaqi
3.Al-Hafiz Ibnu Asakir
4. Al-Hafiz Ibnu Daqiq al-‘Id
5. Al-Hafiz al-Dimyathi
6. Al-Hafiz al-Munziri
7. Al-Hafiz Taqiyuddin Al-Subki
8. Al-Hafiz Al Mizzi
9. Al-Hafiz Al-Dhahabi
10. Al-Hafiz Ibnu Kathir
11. Al-Hafiz Al Haythami
12. Al-Hafiz Al Iraqi
13. Al-Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani
14. Al-Hafiz al-Suyuti
15. Al-Hakim Tirmizi
16. Imam Abu Isa al-Tirmizi
17. Imam Abu Uthman al-Sabuni
18. Imam Zakariyya al-Ansari
19. Imam Ibn Hajar al-Haytami 
20. Imam al-Sakhawi 

Dibawah adalah senarai Muhaddithin yang bermazhab Hanafi:

1. Al-Hafiz Abu Bishr Ad Dulabi 
2. Al-Hafiz Abu Ja’far Ath Thahawi
3. Al-Hafiz Ibnu Abi Al Awwam As Sa’di
4. Al-Hafiz Abu Muhammad Al Haritsi
5. Al-Hafiz Abdul Baqi
6. Al-Hafiz Abu Bakr Ar Razi Al Jashas
7. Al-Hafiz Abu Nashr Al Kalabazi
8. Al-Hafiz Abu Muhammad al-Samarqandi
9. Al-Hafiz Syamsuddin As Saruji,
10. Al-Hafiz Quthb Ad Din Al Halabi
11. Al-Hafiz Alauddin Al Mardini
12. Al-Hafiz Az Zaila’i
13. Al-Hafiz Mughultay
14. Al-Hafiz Badruddin Al Aini
15. Al-Hafiz Qasim bin Quthlubugha
16. Syaikh Al Kawthari dan Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menyebutkan terdapat 150 ulama hufaz hadith dan muhadith yang lain yang mengikut mazhab Hanafi
17. Imam al-Sarakhsi
18 Mawlana Zakariyya Kandahlawi
19. Mawlana Khalil Ahmad al-Saharanfuri
20. Mawlana Abdul Hayy al-Laknawi 
21. Mawlana Yusuf Binnori
22. Mawlana Zafar Ahmad al-Uthmani 
23. Mawlana Manzur Nu'mani
24. Mawlana Habib al-Rahman al-A'zami

Dibawah ialah senarai Muhaddithin yang bermazhab Maliki:

1. Al-Hafiz Hussain bin Ismail Al Qadhi
2. Al-Hafiz Al Ashili
3. Al-Hafiz Ibnu Abdil Barr
4. Al-Hafiz Abu Walid Al Baji
5. Al-Hafiz Ibnu Al Arabi
6. Al-Hafiz Abdul Haq
7. Al-Hafiz Qadhi Iyadh
8.Al-Hafiz Al Maziri
9.Al-Hafiz Ibnu Rusyd
10.Al-Hafiz Abu Qasim Al-Suhayli
11. Imam al-Shatibi
12. Imam Sahnun
13. Imam Ibn Abi Zayd al-Qayrawani
14. Imam al-Qarafi

Dibawah adalah senarai Muhaddithin yang bermazhab Hanbali:

1. Al-Hafiz Abdul Ghani Al Maqdisi
2. Al-Hafiz Ibnu al-Jawzi
3. Al-Hafiz Ibnu Qudamah
4. Al-Hafiz Abu Barakat Ibnu Taimiyah(datuk kpd Imam Ibnu Taymiah yg masyhur) 
5. Al-Hafiz Ibnu Rajab 
6. Imam Abu Bakr al-Khallal
7. Imam Mar'i Karami 
8. Imam Ibn Battah 
9. Imam Ibn Aqil 
10. Imam Ibn Muflih dan lainnya.

Mengapa para ulama Muhaddithin tetap berpegang sedangkan mereka menguasai beratus ribu hadith? Ini adalah kerana skop tugas Muhaddith ialah meriwayatkan sabdaan, perbuatan dan taqrir (pengakuan) Rasulullah SAW terhadap tindak tanduk sahabat, TANPA mengemukakan:

1. Yang mana satu hadith yang dimansukh hukumnya dan yang mana memansukhkannya

2. Yang mana hadith merupakan dasar utama dan yang mana merupakan hadith pengecualian

3. Suruhan yang manakah disokong oleh sekumpulan besar sahabat dan tabi’in, dan yang mana tidak disokong

Ini adalah kerana hal-hal diatas diserahkan kepada ulama mujtahid untuk melakukannya dan mengeluarkan hukum hakam, bukan ulama hadith. Oleh kerana itu, penilaian hadith yang dibuat oleh fuqaha'(Imam-imam mujtahid dlm mazhab) adalah lebih tinggi berbanding penilaian hadith yang dibuat oleh ulama Muhaddithin.

Senario yg berlaku pada masakini ialah, segelintir orang mengenepikan mana-mana hukum hakam dlm mazhab fiqh hanya beralasan ia tidak terdapat dalam kitab Kutub Sittah. Sedangkan seseorang yang benar-benar faham bagaimana penyusunan ilmu pada setiap bidang terbina dalam disiplin keilmuan Islam, pasti tidak akan mempermasalahkannya dengan pertikaian yang tidak relevan seperti itu. 

Hendaklah difahami bahawa hukum hakam dlm mazhab itu ada sandaran hadith yang dipegang oleh para Imam Mazhab yg mana hadith itu tidak semestinya terdapat dlm Kutub Sittah.

Maksud Imam Shafi’i apabila beliau mengatakan: إذا صحّ الحديث فهو مذهبي
"jika ada terjumpa hadith sahih, maka itulah mazhabku" ialah jika masih ada mana-mana hukum hakam yg belum ditulis dlm mazhab Syafi'e maka jika ada hadith sahih yg berkenaan dengannya, maka itu blh dimasukkan dlm mazhabnya.

Manakala hukum hakam yg telah pun tertulis dlm mazhabnya, telah pun disahkan oleh Imam Shafi’i sumber hadithnya adalah sahih menurut beliau. 

Perlu juga difahami bahawa ucapan itu beliau tujukan kepada murid-muridnya dan juga untuk para mujtahid dalam mazhab yang telah mencapai kedudukan yang tinggi dlm ilmu fiqh dan seluruh ilmu-ilmu alat yang lain. Ia bukan ditujukan kepada masyarakat biasa untuk melakukannya.

iqbal Zain al-jauhari