Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah tasawuf Islam. Namun, pertanyaan tentang afiliasi mazhabnya -apakah ia Sunni atau Syiah- terus menjadi perdebatan di kalangan akademisi dan peminat tasawuf. Narasi ini berargumen bahwa persoalan tersebut tidak dapat dijawab secara memadai melalui kategori fikih semata. Dengan menelaah karya-karya utama Ibn ‘Arabi dan resepsi pemikirannya dalam tradisi Sunni dan Syiah, menunjukkan bahwa Ibn ‘Arabi secara formal bermazhab Sunni, tetapi secara kosmologis dan 'irfani memiliki kedekatan signifikan dengan konsep Wilayah dalam Syiah Imamiyah.
Pertanyaan tentang mazhab Ibn ‘Arabi sebenarnya menyentuh inti persoalan tasawuf itu sendiri. Tasawuf, khususnya dalam bentuk 'irfan teoritis, tidak selalu bergerak sejajar dengan batas-batas mazhab fikih. Ia beroperasi pada tingkat ontologis dan spiritual yang sering kali melampaui identitas yuridis formal. Oleh karena itu, menanyakan apakah Ibn ‘Arabi “Sunni atau Syiah” tanpa memperhitungkan dimensi 'irfani berisiko mereduksi kompleksitas pemikirannya.
Narasi ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa identitas mazhab Ibn ‘Arabi bersifat berlapis yakni Sunni dalam praktik syariat, tetapi lintas-mazhab dalam kosmologi dan hakikat. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih adil terhadap penerimaan luas Ibn ‘Arabi dalam tradisi tasawuf Sunni maupun 'irfan Syiah.
Secara historis dan sosial, Ibn ‘Arabi hidup dalam dunia Sunni. Ia lahir di Murcia (Andalusia), mengembara di wilayah Maghrib dan Timur Islam, dan berinteraksi dengan ulama serta sufi Sunni. Praktik ibadah dan kehidupan sosialnya mengikuti fikih Sunni, dan karya-karyanya tidak menunjukkan afiliasi eksplisit dengan fikih Ja'fari.
Gelar al-Shaykh al-Akbar yang disematkan kepadanya dalam tradisi Sunni menunjukkan pengakuan atas otoritas spiritual dan intelektualnya. Namun, pengakuan ini tidak berarti bahwa pemikirannya sepenuhnya berada dalam kerangka teologis Sunni normatif, terutama ketika memasuki wilayah metafisika dan kosmologi.
Dalam karya-karya monumentalnya seperti al-Futuhat al-Makkiyyah dan Fushush al-Hikam, Ibn ‘Arabi mengembangkan konsep Wilayah sebagai realitas batin yang melampaui kenabian legislatif (Nubuwwah Tashri'iyyah). Wilayah dipahami sebagai hubungan ontologis langsung antara wali dan Tuhan, yang menjadikan wali sebagai poros keberlangsungan kosmos.
Dalam kerangka ini, Ahlulbayt tidak diposisikan semata sebagai figur historis, tetapi sebagai realitas kosmik.
Ibn ‘Arabi secara eksplisit menyebut Imam Mahdi (ajf) sebagai Quthb al-Aqtab pada akhir zaman, berasal dari keturunan Sayyidah Fathimah az-Zahra (sa), hidup, dan kelak menegakkan keadilan. Pandangan ini memiliki resonansi kuat dengan doktrin Syiah Imamiyah, khususnya tentang Imam Mahdi yang ghaib namun hidup secara ontologis.
Karena kedalaman ontologis pemikirannya, Ibn ‘Arabi diterima luas dalam tradisi 'irfan Syiah, terutama di lingkungan Hauzah. Tokoh-tokoh besar seperti Mulla Sadra, Qadhi Sa'id Qummi, Imam Khomeini, Allamah Thabathaba'i, dan Ayatollah Jawadi Amuli mempelajari, mensyarahi, dan mengembangkan gagasan-gagasannya. Penerimaan ini bukan bentuk adopsi mazhab Sunni, melainkan pengakuan bahwa bahasa metafisika Ibn ‘Arabi kompatibel dengan kosmologi Wilayah Syiah. Dengan demikian, Ibn ‘Arabi dibaca sebagai 'arif universal, bukan sebagai teolog sektarian.
Dibandingkan dengan Jalal al-Din Rumi, Ibn ‘Arabi menempati maqam yang berbeda. Rumi mengekspresikan tasawuf dalam bentuk puitis dan afektif, membakar jiwa dengan cinta ilahi. Ibn ‘Arabi, sebaliknya, menyusun peta metafisika yang menjelaskan struktur wujud tempat cinta itu beroperasi.
Dengan al-Ghazali, Ibn ‘Arabi berbeda dalam fungsi historis. Al-Ghazali menjembatani tasawuf dengan syariat dan membela legitimasi spiritualitas dalam Islam ortodoks. Ibn ‘Arabi melangkah lebih jauh dengan menyusun kosmologi tajalli setelah jembatan itu kokoh berdiri.
Adapun dengan al-Hallaj, perbedaan terletak pada artikulasi pengalaman mistik. Jika al-Hallaj adalah syahid cinta dengan ungkapan-ungkapan eksplosif, Ibn ‘Arabi adalah penyusun bahasa metafisika yang memungkinkan pengalaman serupa dipahami tanpa jatuh pada tuduhan hulul atau ittihad.
Pertanyaan tentang mazhab Ibn ‘Arabi tidak dapat dijawab secara sederhana. Secara fikih dan sosial ia Sunni, tetapi secara 'irfani dan kosmologis pemikirannya sangat dekat dengan Syiah Imamiyah. Pada tingkat hakikat, Ibn ‘Arabi berbicara dari maqam al-Insan al-Kamil, melampaui batas mazhab formal. Inilah sebabnya Ibn ‘Arabi diterima lintas tradisi: Sunni memujinya sebagai Syaikh al-Akbar, Syiah mempelajarinya sebagai bahasa 'irfan Wilayah, dan para pencari hakikat melihatnya sebagai penyusun peta batin alam semesta.
Sumber Referensi:
๐ Claude Addas. Quest for the Red Sulphur: The Life of Ibn ‘Arabฤซ. Cambridge: Islamic Texts Society, 1993.
๐ William C Chittick. The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabฤซ’s Metaphysics of Imagination. Albany: SUNY Press, 1989.
๐ Henry Corbin. Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabฤซ. Princeton: Princeton University Press, 1969.
๐ Henry Corbin. En Islam Iranien: Aspects spirituels et philosophiques. Paris: Gallimard, 1971.
๐ Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi. al-Futuhat al-Makkiyyah. Beirut: Dar Shadir.
๐ Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi. Fushush al-Hikam. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.
๐ Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi. ‘Anqa' Mughrib fi Khatm al-Awliya'. Beirut.
๐ Toshihiko Izutsu. Sufism and Taoism. Berkeley: University of California Press, 1984.
๐ Ruhollah Khomeini. Ta'liqat ‘ala Fushush al-Hikam. Tehran.
๐ Seyyed Hossein Nasr. Islamic Spirituality. New York: Crossroad, 1987.
๐ Muhammad HusaynThabathaba'i. al-Mizan fฤซ Tafsir al-Qur'an. Qom.
๐ Ayatollah Jawadi Amuli. Wilayah dar Qur'an. Qom.
No comments:
Post a Comment