Oleh Hasyim Arsal Alhabsi -Dehills Institute
Ada paradoks besar dalam sejarah Islam yang hingga hari ini masih menggugah nurani: bagaimana mungkin sosok yang sepanjang hidupnya melindungi Rasulullah ﷺ, memberi rumah ketika beliau yatim, menanggung tekanan politik Quraisy, bahkan rela kelaparan demi keselamatan risalah — justru dituduh tidak beriman?
Pertanyaan ini bukan sekadar polemik historis. Ia menyentuh inti akal sehat, rasa keadilan, dan cara kita memahami rahmat Allah. Karena itu, pembelaan terhadap Sayyidina Abu Thalib bukanlah persoalan fanatisme, melainkan usaha mengembalikan keseimbangan antara sejarah, etika, dan teologi.
1. Ketika Akal Menjadi Saksi Pertama
Argumentasi paling kuat sebenarnya sangat sederhana:
akal sehat.
Siapa yang membesarkan Nabi sejak usia delapan tahun?
Siapa yang berdiri di depan pedang Quraisy ketika dakwah masih lemah?
Siapa yang memilih penderitaan kolektif di lembah Syi‘b Abi Thalib demi menjaga nyawa Rasulullah ﷺ?
Jawabannya satu:
Abu Thalib.
Maka muncul pertanyaan logis yang tidak bisa dihindari:
Apakah mungkin seseorang mempertaruhkan kehormatan, keluarga, dan hidupnya selama puluhan tahun demi sesuatu yang ia tidak yakini?
Pengorbanan yang konsisten adalah bahasa iman yang paling jujur. Banyak orang berbicara tentang keyakinan; sedikit yang membuktikannya dengan hidup mereka. Abu Thalib tidak banyak berbicara — tetapi seluruh hidupnya adalah kesaksian.
2. “Dia Menemukanmu Yatim Lalu Memberi Perlindungan”
Al-Qur’an mengingatkan Nabi:
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia memberi perlindungan?” (QS. Adh-Duha: 6)
Allah menyandarkan perlindungan itu kepada diri-Nya, namun perlindungan ilahi selalu hadir melalui tangan manusia yang dipilih-Nya. Dalam sejarah nyata, tangan itu adalah Abu Thalib.
Di sini terdapat logika teologis yang kuat:
jika Allah memuji perlindungan tersebut, maka instrumen perlindungan itu tidak mungkin diposisikan sebagai musuh Allah. Mustahil Allah menjadikan seorang “kafir” sebagai benteng utama bagi risalah-Nya yang paling suci.
3. Tahun Kesedihan: Kesaksian Hati Nabi
Wafatnya Abu Thalib dikenang sebagai ‘Am al-Huzn — Tahun Kesedihan.
Ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah kesaksian batin Rasulullah ﷺ sendiri. Nabi tidak menamai tahun-tahun lain dengan kesedihan sedalam itu, bahkan ketika musuh-musuh besar Islam mati.
Jika Abu Thalib benar-benar berada di jalan kesesatan, apakah pantas kesedihan Nabi menjadi begitu total? Apakah hati Nabi akan berduka sedemikian rupa untuk seseorang yang jauh dari rahmat Allah?
Kesedihan Nabi adalah saksi. Dan saksi terbesar dalam persoalan ini justru adalah Rasulullah sendiri.
4. Prinsip Qur’ani: Kebaikan Dibalas Kebaikan
Allah menegaskan:
“Tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan.” (QS. Ar-Rahman: 60)
Kebaikan apa yang melebihi menjaga keselamatan Nabi ketika seluruh Makkah ingin membunuhnya?
Abu Thalib tidak hanya memberi makan seorang yatim. Ia menjaga masa depan umat manusia. Tanpa perlindungannya, dakwah Islam bisa saja terhenti sebelum sempat tumbuh.
Maka secara etika ilahi, tidak mungkin pengorbanan sebesar itu dibalas dengan azab. Teologi yang mengatakan demikian justru bertabrakan dengan prinsip Qur’an sendiri.
5. Hadis Pengasuh Anak Yatim: Logika yang Tak Terbantahkan
Nabi bersabda:
“Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti dua jari ini.”
Jika pengasuh anak yatim biasa saja mendapat kedekatan khusus dengan Nabi di surga, bagaimana dengan orang yang mengasuh pemimpin seluruh anak yatim, yaitu Rasulullah ﷺ?
Abu Thalib bukan sekadar pengasuh sementara. Ia adalah pelindung seumur hidup. Ia mempertaruhkan seluruh eksistensinya demi seorang yatim yang membawa cahaya langit.
Logikanya jelas: derajat pengasuh mengikuti kemuliaan yang diasuh.
6. Ketika Sejarah Dipengaruhi Politik
Sebagian riwayat yang merendahkan Abu Thalib muncul dalam konteks sejarah politik pasca Nabi, ketika legitimasi kekuasaan menjadi alat utama penulisan sejarah. Tokoh-tokoh yang sebelumnya memusuhi Nabi tiba-tiba dimuliakan, sementara pelindung awal dakwah justru dipersoalkan.
Di sinilah pentingnya membaca sejarah dengan kesadaran kritis. Tidak semua narasi lahir dari ruang yang netral.
7. Abu Thalib: Iman dalam Bentuk Aksi
Tidak semua iman berbicara keras. Ada iman yang bersembunyi di balik pengorbanan, kesunyian, dan keberanian moral.
Abu Thalib tidak mencari panggung. Ia tidak mengumumkan dirinya. Tetapi seluruh hidupnya adalah:
perlindungan,
loyalitas,
keberanian,
dan cinta tanpa syarat kepada Rasulullah ﷺ.
Iman sejati sering kali tidak berdebat; ia bekerja.
8. Pelajaran Besar bagi Umat
Membela Abu Thalib bukan sekadar membela satu tokoh sejarah. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana kita menilai manusia:
Apakah kita menilai hanya dari label?
Ataukah dari pengorbanan nyata?
Islam datang membawa rahmat, bukan logika yang memutus rasa syukur terhadap orang-orang yang berjasa menjaga cahaya kenabian.
Mukmin Sejati
Ketika sejarah dibaca dengan akal yang jernih, hati yang adil, dan prinsip Qur’ani yang utuh, maka sosok Abu Thalib tampil bukan sebagai figur kontroversial, melainkan sebagai pelindung iman sebelum iman itu berdiri kuat.
Ia adalah perisai ketika Nabi belum memiliki pasukan.
Ia adalah rumah ketika Nabi kehilangan tempat berlindung.
Ia adalah kekuatan ketika dunia menolak.
Dan karena itu, dengan bahasa akal dan bahasa hati, kita memahami satu kenyataan:
Sayyidina Abu Thalib adalah mukmin sejati — seorang penjaga cahaya yang memilih pengorbanan daripada keselamatan dirinya sendiri.
No comments:
Post a Comment