Sunday, 27 October 2019

Agama adalah nasihat


Rasulullah SAW bersabda: "Agama adalah nasihat."

Kami (para sahabat) bertanya, ''Untuk siapa?''

Beliau menjawab, ''Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan manusia pada umumnya.'' (HR Muslim).

Nasihat secara bahasa berasal dari kata an-nushu yang berarti al-khulush (murni). 

Secara istilah, nasihat ialah suatu ungkapan untuk menyatakan keinginan berbuat baik kepada orang yang dinasihati.

Demikian tulis Imam Ibnul Atsir. Allah SWT mensyariatkan kaum Muslimin untuk saling menasihati, sebagaimana tertulis dalam firman-Nya: 

''... dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.'' (QS Al-Ashr [103]: 3).

Ayat-ayat lain tentang nasihat juga terdapat dalam Alquran, misalnya, dalam QS Al-A'raf [7] ayat 62 dan 69.

"Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” ―QS. 7:62



Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 62. 

Oleh Kementrian Agama RI 

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Nuh menegaskan kepada kaumnya bahwa dia mendapat tugas dari Allah untuk menyampaikan perintah-perintah Tuhannya agar manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada hari kemudian, kepada Rasul-rasul yang diutus Allah, kepada malaikat-malaikat Allah dan menyampaikan juga hukum-hukum yang Allah tentukan baik yang berkenaan dengan ibadat maupun yang berkenan dengan muamalat. Nabi Nuh dalam menyampaikan tugasnya disertai dengan ancaman halus berupa nasihat-nasihat kepada kaumnya agar takut kepada siksaan Allah sebagai balasan terhadap orang-orang yang tidak beriman kepadanya, serta mendustakan Rasul-rasul-Nya. Nabi Nuh menegaskan pula bahwa ia benar-benar mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh kaumnya, semuanya itu diketahuinya dari Allah. Demikian gigihnya Nabi Nuh dalam meyakinkan kaumnya.


Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu? Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung. ” ―QS. 7:69


Tafsir QS. Al A’raaf (7) : 69. 

Oleh Kementrian Agama RI 

Dalam ayat ini, Allah menerangkan kecaman Nabi Hud kepada pemuka-pemuka kaumnya, bahwa tidak patut mereka merasa heran dan ragu-ragu terhadap kedatangan peringatan dan pengajaran dari Tuhan yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara mereka. Pengajaran Allah itu datang kepada mereka justru pada saat mereka berada dalam kesesatan. Semestinya mereka tidak perlu ragu kepada pribadi orang yang membawa seruan. Hendaknya mereka mempergunakan akal pikiran untuk memperhatikan seruan yang dibawa kepada mereka itu yaitu seruan yang benar, seruan yang menyelamatkan diri mereka dari azab Allah. Ia juga mengingatkan mereka akan nikmat dan rahmat Allah, bahwa mereka bukan saja sebagai ahli waris kaum Nuh yang diselamatkan Allah dari topan karena keimanan mereka kepada-Nya, tetapi juga Allah melebihkan mereka dengan kekuatan fisik serta tubuh yang besar. Oleh sebab itu hendaklah mereka bersyukur kepada Allah dengan bertakwa kepada-Nya. Kalau mereka tidak bersyukur, Allah akan menjatuhkan azab-Nya sebagaimana Allah menjatuhkan azab kepada kaum Nuh yang ingkar dan menggantikan kedudukannya dengan bangsa lain. Mereka diingatkan kepada nikmat Allah itu agar mereka bersyukur dengan menyembah-Nya seikhlas-ikhlasnya sehingga mereka menjauhi kemusyrikan dengan meninggalkan penyembahan berhala. Dengan demikian mereka harus meninggalkan penyembahan berhala untuk mencapai kebahagiaan pada hari kemudian dan mendapat tempat pada sisi Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur kepada nikmat-Nya.


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tamim bin Aus ad-Daryra, 

Rasulullah SAW bersabda: "Agama adalah nasihat."

Kami (para sahabat) bertanya, ''Untuk siapa?''

Beliau menjawab, ''Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan manusia pada umumnya.'' (HR Muslim).

Hadis ini sesungguhnya memiliki peran yang sangat besar, karena di dalamnya terkandung bahwa tiang agama Islam dan penopangnya adalah nasihat. Dengan adanya nasihat maka agama Islam akan senantiasa termanifestasi dalam jiwa kaum Muslimin, namun apabila nasihat itu tidak ada, maka kekurangan akan menimpa kaum Muslimin dalam setiap aspek kehidupannya.

Bila kita perhatikan pula, dalam hadis di atas terdapat lima peruntukan nasihat, yaitu nasihat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan manusia pada umumnya.

Pertama, nasihat untuk Allah. 

Maksudnya adalah beriman kepada-Nya, mengesakan-Nya, menjadikan niat ikhlas semata karena-Nya di dalam mengamalkan perbuatan baik, dan beribadah kepada-Nya dengan penuh ketaatan dan pengagungan.

Kedua, nasihat untuk kitab-Nya. 

Maksudnya adalah beriman kepada semua kitab-kitab samawi (langit) yang diturunkan dari sisi Allah SWT secara global.

Ketiga, nasihat untuk Rasul-Nya (Muhammad). 

Maksudnya adalah membenarkan kenabiannya, menaati perintahnya, menjauhi segala larangannya, menghidupkan sunahnya, memahami, mempraktikkan dan menyiarkannya, serta berakhlak sesuai dengan akhlak beliau yang mulia.

Keempat, nasihat untuk pemimpin kaum Muslimin. 

Maksudnya adalah membantu mereka atas kewajiban yang mereka emban, memberikan masukan, dan mengingatkan tatkala mereka lupa. Juga mencegah mereka dari perbuatan zalim dengan cara yang baik.

Dan terakhir, nasihat untuk manusia pada umumnya. 

Maksudnya adalah dengan mengajak pada kebaikan, menutup aib mereka, dan tidak berbuat ghibah (menggunjing) kepada sesama manusia. Wallahu a'lam.

sumber : Pusat Data Republika

Saturday, 19 October 2019

Kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa


Nasihat Imam al-Ghazali untuk Penguasa 

Jumat 17 Maret 2017 17:0 WIB Share: 

Banyak sudah para pemikir klasik yang memberi nasihat kepada penguasa. Kita mengenal Nicolo Machiavelli (1469-1527) yang menulis buku The Prince berisikan saran-saran bagaimana mendapat dan mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara: berbohong, memfitnah, bahkan menghabisi lawan politiknya. Terjadi pro-kontra mengenai karya Machiavelli ini. Yang jelas karya ini membuka kedok betapa menggiurkannya kekuasaan itu bagi yang mencari atau hendak mempertahankannya.

Sekitar 3 abad sebelum Machiavelli, Imam al-Ghazali telah lebih dulu menuliskan nasihatnya untuk penguasa. Berbeda dari Machiavelli yang menyarankan untuk menghalalkan segala cara dan menafikan moralitas dalam kekuasaan, Imam al-Ghazali menekankan pesan keadilan kepada para penguasa. Yang menakjubkan beliau lebih dahulu mengkritik para ulama sebagai biang kerusakan rakyat dan penguasa. Paling tidak dua kali beliau menyebutkannya dalam kitab Ihya’ Ulumid Din. 

Pertama, Ihya’ Juz 2 halaman 238: 

ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء 

"Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama." 

Kedua, Ihya’ Juz 2 halaman 357: ‎ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال 

"Maka kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Sesiapa yang terpedaya akan kecintaan terhadap dunia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal." 

Imam al-Ghazali melakukan introspeksi kepada dirinya dan para sejawatnya: sudahkah para ulama menjalankan fungsi dengan benar sehingga tidak rusak penguasa dan rakyat? 
Dalam kitab al-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, terhadap penguasa Imam Ghazali menasihati dengan mengutip riwayat Nabi: 

"Keadilan penguasa meski hanya satu hari lebih aku senangi ketimbang beribadah selama 70 tahun". 

Imam al-Ghazali mengutip sejumlah hadits Nabi soal keadilan penguasa hingga tibalah beliau menulis sesuatu yang sangat mengejutkan (halaman 44):

 ‎والسلطان العادل من عدل بين العباد، وحذر من الجور والفساد، والسلطان الظالم شؤم لا يبقى ملكه ولا يدوم، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول: (الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم) . وفي التواريخ أن المجوس ملكوا العالم أربعة آلاف سنة وكانت المملكة فيهم وإنما دامت المملكة بعدلهم في الرعية، وحفظهم بالسوية، وإنهم ما كانوا يرون الظلم والجور في دينهم وملتهم جائز وعمروا بعدلهم البلاد، وأنصفوا العباد. وقد جاء في الخبر أن الله جلّ ذكره أوحى إلى داود عليه السلام أن آنْهِ قومك عن سب ملوك العجم فإنهم عمروا الدنيا وأوطنوها عبادي. فينبغي أن تعلم أن عمارة الدنيا وخرابها من الملوك فإذا كان السلطان عادلاً عمرت الدنيا وأمنت الرعايا كما كانت عليه في عهد أزدشير وأفريدون وبهرام كور وكسرى أنو شروان. وإذا كان السلطان جائراً خربت الدنيا كما كانت في عهد الضحاك وافراسيان وبرزدكنها الخاطىء وأمثال هؤلاء، وهكذا إلى أن استولى أهل الإسلام وغلبوا العجم وأزاحوهم عن بلادهم وعن الملك وقويت دولة دين الإسلام، ببركة نبينا محمد عليه الصلاة والسلام، وذلك في عهد خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه. 

"Penguasa adil itu yang memberikan keadilan dan kepada sesama hamba dan tidak melakukan hal sebaliknya, karena penguasa zalim tidak akan bertahan lama berdasarkan Hadits Nabi: 

"kekuasaan itu bertahan bersama kekufuran tapi tidak bersama kezaliman". 

"Dalam sejarah tercatat bahwa Majusi bertahan selama 4 ribu tahun menguasai dunia. Ini karena mereka mempertahankan keadilan bersama rakyatnya. Sistem keagamaan mereka tidak membolehkan kezaliman dan melalui keadilan mereka mengembangkan peradaban dan kesejahteraannya." 
"Dalam satu riwayat Allah berfirman kepada Nabi Daud: ‘Wahai Daud, beritahu bangsamu untuk tidak bicara hal-hal negatif tentang Persia. Merekalah yang membangun peradaban dunia hingga hambaKu bisa hidup di dalamnya’." 

"Anda mesti paham bahwa maju atau mundurnya itu tergantung penguasa; kalau penguasa adil maka semuanya nyaman dan aman seperti yang terjadi pada masa Raja Azdasyir, Afridun, Bahram Kur, Kisra dan Raja lainnya yang seperti mereka. Namun di tangan penguasa zalim yang terjadi kebalikannya seperti bisa kita lihat pada masa Dahhak dan Afrasiyan. Maka kekuasaan negeri Islam kemudian menaklukkan Persia dengan barakah Nabi Muhammad, pada masa Khalifah Umar bin Khattab." 

Saya ingin akhiri dengan kutipan kisah menarik ini yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam Al-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk halaman 20:

 حضر بعض الزهاد بين يدي خليفة، فقال له: عظني فقال: يا أمير المؤمنين إني سافرت الصين وكان ملك الصين قد أصابه الصمم وذهب سمعه فسمعته يقول يوماً وهو يبكي: والله ما أبكي لزوال سمعي وإنما أبكي لمظلوم يقف ببابي يستغيث فلا أسمع استغاثته، ولكن الشكر لله إذ بصري سالم. وأمر منادياً ينادي ألا كل من كانت له ظلامة فليلبس ثوباً أحمر. فكان يركب الفيل فكل من رأى عليه ثوباً أحمر دعاه واستمع شكواه وأنصفه من خصمائه. فانظر يا أمير المؤمنين إلى شفقة ذلك الكافر على عباد الله وأنت مؤمن من أهل بيت النبوة فأنظر كيف تريد أن تكون شفقتك على رعيتك. 

"Sejumlah orang zuhud datang ke Khalifah yang meminta saran dari mereka. Salah seorang berkata: 

"Wahai Amirul Mu'minin, saya pernah mengunjungi negeri Cina. Raja mereka menjadi tuli pendengarannya dan Raja sangat bersedih. Namun Raja Cina ini berkata bahwa "aku bersedih bukan karena hilangnya pendengaranku, tapi boleh jadi ada pencari keadilan yang dizalami yang berhenti di depan pintu istanaku tapi aku tidak bisa mendengarnya. Tapi syukurlah mataku masih bisa melihat." 

"Kemudian Raja memberi perintah siapa yang hendak protes atas kezaliman yang menimpanya harus memakai baju merah (agar diketahui oleh Raja). Raja kemudian blusukan menemui rakyatnya dengan mengendarai gajah, dan menemui mereka yang berbaju merah." 

"Orang zuhud yang bercerita kisah ini kepada Khalifah kemudian berkata: "Wahai Amirul Mu'minin, ini tindakan bijak penguasa kafir kepada rakyatnya, bagaimana dengan anda yang orang beriman dan keturunan Nabi Muhammad? Sudahkan anda memperhatikan rakyat anda?" 

Maaf, anda jangan marah sama saya kenapa Imam al-Ghazali justru menjadikan contoh penguasa adil itu dari golongan orang kafir baik di Persia maupun di Cina. Saya hanya mengutip apa adanya. Mari sama-sama kita ambil pelajaran saja. Ngaji itu lebih enak daripada ngomongin politik sambil ngomel gak karuan. Jadi, pertanyaannya kita mau mengikuti nasihat Machiavelli yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, atau mau mengikuti al-Ghazali yang menekankan prinsip keadilan dalam kekuasaan? 

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/76217/nasihat-imam-al-ghazali-untuk-penguasa
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id

Sunday, 6 October 2019

Obat hati


Ayat-Ayat Al Qur’an Sebagai Penyembuh

Semua ayat Al-Qur`an adalah obat yang bisa menyembuhkan. Namun, ada beberapa ayat atau surat dari Al-Qur`an yang lebih dikhususkan karena memiliki keutamaan sebagai obat penyembuh, misalnya surat Al-fatihah. Allah berfirman

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً

Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).
Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan jiwa. Beliau berkata

ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ

“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yanh shahih dan masyhur” (Tafsir Adhwaul Bayan).

Kisah Pengobatan Penyakit Jasmani Menggunakan Al Qur’an

Berikut kisah pengobatan penyakit fisik/jasmani dengan menggunakan Al-Fatihah. Kisah ini berasal dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang sedang mengobati dengan membacakan bacaan ruqyah kepada orang yang hampir lumpuh karena terkena sengatan kalajengking. Beliau menggunakan Al-Fatihah sebagai bacaan ruqyah dan ternyata atas izin Allah hal tersebut berhasil menyembuhkannya.
Berikut kisahnya dalam hadits,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺍﻟْﺨُﺪْﺭِﻯِّ ﺃَﻥَّ ﻧَﺎﺳًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻓﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻤَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺤَﻰٍّ ﻣِﻦْ ﺃَﺣْﻴَﺎﺀِ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻀَﺎﻓُﻮﻫُﻢْ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﻀِﻴﻔُﻮﻫُﻢْ . ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻫَﻞْ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﺭَﺍﻕٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻟَﺪِﻳﻎٌ ﺃَﻭْ ﻣُﺼَﺎﺏٌ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻧَﻌَﻢْ ﻓَﺄَﺗَﺎﻩُ ﻓَﺮَﻗَﺎﻩُ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻓَﺒَﺮَﺃَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓَﺄُﻋْﻄِﻰَ ﻗَﻄِﻴﻌًﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻨَﻢٍ ﻓَﺄَﺑَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺒَﻠَﻬَﺎ . ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺫْﻛُﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .- ﻓَﺄَﺗَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻪُ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺭَﻗَﻴْﺖُ ﺇِﻻَّ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ . ﻓَﺘَﺒَﺴَّﻢَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ‏« ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﺍﻙَ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺭُﻗْﻴَﺔٌ ‏» . ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺧُﺬُﻭﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻟِﻰ ﺑِﺴَﻬْﻢٍ ﻣَﻌَﻜُﻢْ »

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, ‘Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah karena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.’ Di antara para sahabat lantas berkata, ‘Iya ada.’ Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al-Fatihah. Pembesar tersebut pun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. 

Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah.’ 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, ‘Bagaimana engkau bisa tahu Al-Fatihah adalah ruqyah?’ Beliau pun bersabda, ‘Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesembuhan Dari Al Qur’an Tergantung Kadar Keimanan

Keberhasilan pengobatan dengan Al-Qur`an sangat terkait dengan keimanan, kalau tidak sembuh bukan Al-Qur`annya yang salah, tetapi keimanan orang yang menggunakan Al-Quran yang kurang. 

Bisa jadi ada orang yang terlihat shalih tetapi kita tidak tahu keimanannya. Hal ini mencakup baik yang mengobati dan yang diobati. Jadi jika ada orang yang terkena penyakit karena disengat kalajengking atau yang lebih ringan misalnya disengat tawon, kemudian ada yang membacakan Al-Fatihah namun ternyata tidak sembuh. 

Maka jangan salahkan Al-Fatihah jika tidak sembuh, tetapi salahkan tangan lemah yang tidak mahir memegang pedang tajam. Jika iman, amal, dan tawakkal sebaik Abu Sa’id Al-Khudri maka kita bisa berharap penyakit tersebut sembuh.

Ada beberapa ayat lainnya yang juga memiliki keutamaan sebagai obat dari penyakit fisik dan jiwa, misalnya surat Al-Muwadzatain, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat kursi untuk mengobati sihir. Selain itu, masih banyak ayat lain yang memiliki keutamaan masing-masing. Demikian semoga bermanfaat.
@Yogyakarta Tercinta
Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id


Penyakit Hati Menurut Islam

Hati adalah salah satu organ tubuh manusia, dalam islam sendiri hati adalah penentu sifat seseorang. Baik buruknya seseorang berasal dari dalam hatinya. Dalam bahasa Arab, hati disebut dengan Qalbu. Kita sering mendengar betapa pentingnya organ hati tempat lahirnya perasaan tersebut. Bahkan Rasulullah SAW saat masa kecil dibersihkan hatinya dari berbagai kotoran oleh Malaikat JIbril (baca kisah teladan nabi Muhammad SAW dan keutamaan cinta kepada Rasulullah SAW bagi umat islam) .

Hati juga tempat bersemayamnya syaitan dan keburukan yang disebut juga dengan penyakit hati. Lantas apakah sebenarnya penyakit hati dalam islam dan apa bahayanya penyakit ini jika tidak segera diobati? Simak penjelasan berikut ini. (baca juga obat hati dalam islam). Berikut adalah penjelasan mengenai penyakit hati menurut islam :

Pengertian Penyakit Hati

Penyakit hati adalah penyakit atau gangguan yang ada pada hati dan perasaan manusia. Penyakit hati dalam islam bukanlah penyakit hati yang menyangkut kesehatan seperti penyakit liver, chirhosis, dan lain sebagainya. Penyakit yang ada dalam hati setiap orang bisa mempengaruhi perilaku dan perbuatannya. Perihal mengenai penyakit hati ini disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS At Taubah : 125)

Dalam firman tersebut disebutkan bahwa penyakit dalam hati seseorang bisa membwa pada kekafiran dan mati dalam keadaan kafir. Hal ini tentunya tidak diinginkan oleh setiap muslim manapun. Oleh sebab itu selayaknya sebagai muslim kita harus senantiasa menjaga hati dari berbagai kotoran dan penyakit yang bisa merusak keimanan dan ketaqwaan pada Allah SWT. (baca fungsi iman kepada Allah SWT dan manfaat beriman kepada allah SWT)

 Jenis Penyakit Hati

Agar bisa menjaga hati kita dan senantiasa waspada pada penyakit-penyakit hati kita harus mengetahui apa saja penyakit hati tersebut. Berikut ini adalah beberapa penyakit hati yang biasa terjadi pada manusia dan berbahaya jika dibiarkan begitu saja.

  1. Hasad, Iri dan Dengki

Ketiga jenis penyakit ini hampir sama dimana perasaan hasad atau iri adalah orang yang tidak suka jika seseorang mengalami kebahagiaan sementara perilaku atau sifat dengki lebih parah lagi, ia bukan hanya tidak senang jika seseorang mendapatkan kebahagiaan, ia juga akan mendoakan agar kebahagiaan hilang dari orang tersebut dan berpindah pada dirinya. Perintah untuk menjauhi penyakit hati ini terkandung dalam firman Allah ayat berikut

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا


Monday, 26 August 2019

MUSIBAH

Persaudaraan Ukhuwah

MUSIBAH adalah sesuatu yang menimpa kita, yang tidak mengenakkan. Yang tidak menyulitkan diri kita. Misalkan, tertimpa rasa sakit, demam dan sakit kepala.

Musibah juga bertingkat, mulai dari yang kecil seperti tertusuk duri sampai pada tingkat paling besar, bencana alam. Semua adalah musibah yang menyakitkan dan menyulitkan diri apabila tertimpa.

Tapi bagi orang beriman, itu bukan masalah terbesar. Sebab ada jaminan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwa tidaklah menimpa seorang Muslim sebuah musibah, baik itu berupa rasa sakit, galau, demam, sampai duri yang tertusuk kecuali itu merupakan penggugur dosanya.

Bagi seorang Muslim, yang namanya musibah itu bisa jadi sesuatu yang baik selama ia menerima dengan baik dan berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Hadits lain Rasulullah juga bersabda, bahwa jika Allah mencintai seorang hamba dia akan memberikan musibah atau ujian.

Lantas apa “musibah terbesar” bagi seorang Muslim?

‘Musibah’ terbesar adalah ketika Muslim satu dengan yang lainnya memutuskan silaturahim, ketika mereka bermusuhan tidak bertegur sapa, ketika mereka merenggangkan ukhuwah.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi, tidak akan masuk surga orang tidak mengajak berbicara saudaranya melebihi 3 hari. Rusaknya ukhuwah akan berdampak pada kesulitan dan kesengsaraan di dunia terlebih di akhirat nanti.

Maka tidak heran jika Nabi menjadikan kesempurnaan iman itu di antaranya melalui hubungan persaudaraan yang baik.

Beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya seperti dia mencintai untuk dirinya sendiri.”

Maka ‘musibah terbesar’ bagi seorang Muslim bukanlah bencana alam, tapi ‘musibah terbesar’ adalah retaknya ukhuwah.*

Setiap kaum muslimin seharusnya bersaudara.  Menjelaskan beberapa penyebab rusaknya ukhuwah atau persaudaraan di antara umat Islam.

“Apa sebab kita tidak bersaudara?”  .

Seharusnya,  siapa saja yang menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai pegangan hidup berarti mereka adalah bersaudara. Kemudian mereka menggunakan tafsir sesuai pemaahaman sahabat, tabiiin, tabiut tabiin. Karena, menurutnya, hanya sahabat nabi yang lebih mengetahui Rasulullah ketika berdakwah.

“Karena kalau sahabat saja dikafirkan, lalu siapa referensi kita. Karena mereka yang melihat, melindungi dan selalu mengikuti dakwah Rasulullah,” .

Maka kaum muslimin saat ini seharusnya selalu diiringi kehidupannya dengan haus akan ilmu dan belajar dari ulama. Menilai saat ini ketika belajar dengan ulama kebanyakan kaum muslimin malah lebih banyak berkomentar daripada menjalani proses belajarnya.

Tugas seorang muslim adalah saling paham dan memahami. Jika tidak ada saling paham di antara kaum muslimin, maka harus ada sikap saling mengenal.

“Fiqih itu luas, yang sempit itu hati kita. Jika kita saling mengetahui fiqih, kenapa kita mendapati ikhwan dan akhwat pedas dalam berkomentar. Mungkin mereka belajar fiqhnya itu setengah setengah,”

Selain itu penyebab rusaknya ukhuwah adalah tidak adanya sikap berkomitmen dalam akhlak setelah selesai mengaji. Karena, seharusnya ilmu selalu beriringan dengan akhlak, begitu juga sebaliknya.

Selanjutnya, perusak ukhuwah Islam saat ini adalah fanatisme kelompok, yang mengira dan menganggap kelompok masing-masing adalah paling benar, dan mengklaim bahwa kelompok yang tidak sependapat dengannya adalah sesat.

Oleh karenanya,   terus mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antar kaum muslimin. Karena, salah satu perkara besar salah satunya adalah ukhuwah.

“Kita tidak bisa menegakkan agama ini sendirian, maka mari bersama-sama,” .

Saturday, 24 August 2019

Parti baru Dr M tak perkukuh Melayu


Penganalisis: Parti baru Dr M tak perkukuh Melayu

Jul 19, 2016 (Dikemaskini Jul 19, 2016)

Penganalisis politik, Prof. Madya Dr. Abdul Muati Ahmad berpendapat, penubuhan parti-parti baharu dari serpihan parti berteraskan Melayu, Umno dan PAS selalunya tidak boleh bertahan lama atau sekadar hanya membabitkan satu atau dua pilihan raya umum sahaja.

Beliau mengambil contoh apa yang berlaku kepada Parti Negara dan Semangat 46 dan mengaitkannya dengan pengumuman penubuhan parti baru oleh bekas perdana menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad.

“Kalau kita tengok pada sejarah yang lepas-lepas, parti-parti serpihan daripada parti arus perdana parti berasaskan orang Melayu cuma dua sahaja, Umno dan PAS. Dalam sejarah Umno pun pernah pecah parti serpihan umpamanya dulu Datuk Onn menubuhkan Parti Negara kemudiannya Semangat 46, diikuti PKR.

“PAS pun ada Berjasa, HAMIM dan sebagainya, tapi paling lama pun parti-parti serpihan ini boleh bertahan cuma satu atau dua pilihan raya dan selepas itu akan hilang dan berkubur,” ujarnya, memetik laporan Umno Online.

Jelas beliau, sebarang penubuhan parti baharu akan dilihat lebih meriah tetapi apalah erti kemeriahan itu sekiranya tidak boleh memberi kekuatan padu kepada undi orang Melayu.

“Jadi saya tak boleh nak nilai berapa lama parti baharu yang Mahathir buat ini boleh bertahan sebaliknya sebarang penubuhan parti baharu yang merupakan pecahan daripada parti arus perdana tadi tentulah akan memecahkan undi orang Melayu.” katanya lagi.

“Kadang-kadang ada pengundi yang sebelum ini mengundi Umno/BN mungkin merajuk atau kecewa atas sebab-sebab tertentu dan dia akan mengundi parti yang baharu namun keterujaan kepada benda baharu ini tidak lama, tetapi apa yang dikhuatiri jika sekali kuasa terlepas ke tangan orang yang tidak bertanggungjawab maka saya kira kesannya amat berat,” katanya.

Beliau yang merupakan pensyarah di Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi (FBMK), Universiti Putra Malaysia (UPM)
menambah, penubuhan parti baharu mungkin memberi kesan terhadap kerajaan tetapi ia tidak berpanjangan.

Thursday, 22 August 2019

More to the call on UMNO to distance from Najib

08/11/18--22:45: 

More to the call on UMNO to distance from Najib


Though losing the Sungai Kandis by-election, BN claimed there were positive indications. However, analysis has no value. It is too early, voters and the seat is a lubuk (goldmine) of PKR.

The pre-mature confidence became the basis for Dato Johari Gani to question the strategy to put Dato Najib in the forefront of the campaign. [His statement at the end of the posting].

It became an interesting debate on the role of Dato Najib in UMNO and the future way forward for UMNO. Interesting because it is not the practise of UMNO to express such manner of views openly and with such frankness.

The spirit of Malaysia Baru has got the better of UMNO.

In the midst of the exchanges, Tan Sri Annuar Musa suddenly made statements out of context to the current subject thus making it possible there could be more than midst the eye. 

Annuar said UMNO is ready to work with any political parties with DAP included. And, he also said UMNO will takeover governmennt mid-term. That is a change from earlier claim of not finishing the term.

The expressed call to throw Najib under the bus, to quote Sara Petra seemed a political drama with more to come.

More so, Dato Seri Anwar Ibrahim is confirmed as the only candidate for PKR Presidency and the much talk of Azmin challenging him turns out as nought.

The speculation is Zahid has been talking with Anwar. Is Zahid the only one?

Throwing Najib under the bus


Jo Gani's statement received a harsh response from competitor within his division and typical personal attack arguments which tend to be unsuitable under the current liberal political environment from the change brought by Najib.

Zahid merely gave a gentle advice to show respect and not kick a man when he is down. More so, Najib contributed much to the party. However, he beg Najib to not mind the friendly fire.

While there are weakness in Jo Gani's view [read a response below], it did not come out of no where. Analyst and political pundits have expressed the same.

Vocal blogger and socmed writer, Zaharin Yaasin was one of the earliest to express this view.

Slander, lies and misinformation contributed immensely to BN's loss but the mistakes and failure in communication and propaganda is our own.

Nevertheless, the loss of BN could be attributed to the several political waves coinciding; young voters, Chinese tsunami, #Undirosak of traitional voters, and the most prominent and expectedly more than expected, anti Najib wave.

In response to Jo Gani's statement, Tan Sri Anuar Musa explained Najib was not part of the Sg Kandis strategy and Najib himself explained he was helping out at the request of the candidate, Dato Lokman Noor Adam.

He claimed he does not need UMNO and it is unfair on UMNO to defend him as he can defend himself.

Najib was also responding to further views of Anuar Musa and VP Dato Khaled Nordin to claim Najib is now a burden thus UMNO need to distance itself and leave the baggage behind.

Khaled repeated a view he said before the general election loss that UMNO must accept the reality it was rejected by the people. By leaving Najib behind, only can UMNO move forward.

Jo Gani repeated Najib a burden for UMNO again.

PPBM leaders and PPBM supporter masquarading as UMNO leader took opportunity to be a batu api. Tan Sri Rahim Tamby Chik was doing Mahathir's bidding to call for sacking of Najib from UMNOZam picked on Zahid.

Those are frank and quite hurtful remarks made of Najib. Anuar, Johari and Khaled were receiving the brunt of Najib's supporters with accusations of betrayal, hypocrit and opportunistic.

However, Zam's public remarks through his Tweeter is losing credibility as he playing along conspiracy theories. Obviously, Zam is trying to get into the good book of Mahathir through such verbal initiatives.

However, this time is could be hurtful on Zahid to claim Najib remained in control of the party. Already coffee shop talk is claiming Zahid is weak, lack leadership and party directionless.

To make it more convincing, they are saying Datin Seri Rosmah is calling the shot.

Here we go again.

Can UMNO distanced itself from Najib?



The way the public debate on the role of Najib is going will not likely hurt Najib's feeling.

He has gone though worse slander and undergoing the worst with 7 charges laid on him with a new investigation on UMNO money allegedly stolen by security personnel at PMO.

The question that need be ask is: can UMNO distanced themselves from Najib?

Its not just the alleged wrongdoings but the policies and programs he initiated to the transform the country, the people friendly spending and abundant investment together with goodwill from foreign engagements.

Certainly UMNO and BN need to find a formula to aggresively winover voters as pointed out by Jo Ghani.

It is not smart strategy to keep defending Najib when it does not look possible he could turn perception on him like Anwar was able to do. Maybe he has to wait after age of 90.

The debate could be testing the water and a way to attract attention which if agreed by the public, it is away with hopefully draw support for UMNO .

As far as Zahid, he has other strength that many seemed to ignore. There could be more behind the debate.

------------------------

SEBAB SEBENAR KITA KALAH PRU-14: JAWAPAN KEPADA JOHARI GHANI

8 OGOS 2018

PANDANGAN TERBUKA DATUK SERI JOHARI ABDUL GHANI KETUA UMNO BAHAGIAN TITIWANGSA MERANGKAP PENGERUSI PERHUBUNGAN UMNO WILAYAH PERSEKUTUAN

1. Keputusan Pilihan Raya Kecil (PRK) DUN Sungai Kandis sangat penting kerana merupakan PRK pertama selepas Pilihan Raya Umum ke-14 (PRU-14) yang menyaksikan UMNO berkolaborasi dengan PAS.PRK ini menyaksikan isu-isu yang kita bangkitkan mengenai kegagalan Pakatan Harapan (PH) untuk memenuhi janji-janji mereka, antaranya seperti memansuhkan tol, menetapkan harga minyak RM1.50 seliter dan penangguhan pembayaran hutang Perbadanan Tabung Pendidikan Tinggi Nasional (PTPTN) dan lain-lain janji lagi.

2. Cuma, apa yang menjadi tanda tanya kepada kita adalah sejauh mana isu-isu yang kita bangkitkan ini menjadi daya tarikan kepada pengundi di Sungai Kandis terutama pengundi-pengundi Melayu yang majoritinya mewakili lebih 70 peratus di situ.

3. Keputusan PRK ini yang menyaksikan majoriti 5,764 undi diperoleh calon PKR boleh diinterpretasikan dalam pelbagai sudut. Adakah masyarakat Melayu sudah tidak ambil peduli sama ada sesuatu kerajaan itu menepati janji-janji pilihanraya atau tidak? Ataupun pengundi-pengundi lebih berminat untuk melihat kerajaan yang mempunyai kredibiliti dan bebas dari isu-isu yang melibatkan korupsi dan salah guna kuasa?

4.Mungkin juga berita-berita rampasan wang tunai dan barang barang kemas di kediaman bekas Perdana Menteri menguatkan lagi persepsi korupsi dan salah guna kuasa yang telah ditanam di dalam minda dan jiwa rakyat selama ini?  Meskipun ada penjelasan diberi, persepsi korupsi dan salah guna kuasa ini mungkin masih tebal dan penjelasan yang di beri masih tidak cukup untuk meyakinkan pengundi-pengundi untuk memberikan undi mereka kepada UMNO.

5. Di PRK Sungai Kandis baru-baru ini kita juga dapat melihat bekas Perdana Menteri dan Presiden UMNO, Datuk Seri Najib Tun Razak telah berkempen dengan begitu aktif. Memandangkan kes mahkamah Datuk Seri Najib masih belum lagi di bicarakan dan mengambil kira persepsi korupsi dan pecah amanah yang masih lagi membelengungi beliau, apakah strategi UMNO dalam mempertengahkan Datuk Seri Najib sebagai salah seorang tokoh yang aktif berkempen bagi PRK Sungai Kandis baru-baru ini suatu strategi yang bijak? Perlukah UMNO merehatkan Datuk Seri Najib dari menyertai kempen-kempen pilihanraya akan datang? Kita perlu ingat bahawa UMNO bukan berkempen untuk ahli-ahlinya sahaja tetapi kepada pengundi Sungai Kandis yang mana soal persepsi boleh menentukan kalah menang seseorang calon.

6. Barangkali akan ada yang mengatakan mengapa Datuk Seri Najib perlu direhatkan  sedangkan Menteri Kewangan Pakatan Harapan DAP, Lim Guan Eng yang sedang didakwa di mahkamah pun tidak ambil peduli perkara ini. Pendirian saya kita  tidak perlu mencontohi DAP. UMNO mempunyai benchmark nya yang tersendiri dan kita perlu menjadikan ini sebagai suatu titik mula untuk mencipta suatu benchmark baharu yang mana UMNO mengutamakan integriti dan kredibiliti pemimpinnya sebagai agenda yang penting dalam perjuangan. Kita perlu letakkan benchmark ini kepada setiap pemimpin bagi memulangkan keyakinan pengundi bahawa UMNO adalah sebuah parti yang mempunyai benchmark yang tinggi mengatasi DAP.

7. UMNO perlu mengatasi masaalah persepsi integriti dan kredibiliti ini jika mahu terus relevan. Kita perlu lupakan era terdahulu sebelum PRU-14. UMNO kini sudah pun ada Presiden dan kepimpinan baru. Era Presiden terdahulu sudahpun berlalu menjadi sejarah. Jika UMNO tidak berubah dan masih berterusan mempertahankannya legasi dan isu-isu yang membawa kepada penolakannya di PRU 14, maka tidak mustahil jika UMNO juga akan menjadi sejarah. Contohnya, ramai kalangan kita tidak faham isu 1MDB dan SRC dan sebahagian dari kita tidak faham isu ini secara total. Oleh itu, apabila kita berbahas isu-isu ini di dalam Parlimen, ianya di buat tanpa mengetahui maklumat yang lengkap dan tepat. Ianya hanya akan menyebabkan pemimpin-pemimpin kita hilang kredibiliti.

8.Dari segi gabungan UMNO-PAS pula, PRK Sungai Kandis ini menggambarkan bahawa pakatan UMNO-PAS tidak langsung memberi sebarang kesan terhadap kebolehan  meraih undi melebihi apa yang UMNO peroleh pada PRU-14. Sewaktu UMNO, PKR dan PAS bertanding mengikut haluan masing-masing pada PRU-14, UMNO mampu mendapat 11,518 undi, tetapi hari ini selepas pakatan UMNO-PAS berlaku di PRK Sungai Kandis, kita cuma dapat 9,583 undi.  Walau apa sahaja yang  kita spin untuk `menyedapkan’ hati kita, pokok pangkalnya kita telah kalah. Kita kalah dengan jumlah undi yang jauh lebih rendah selepas kita berpakat dengan PAS.

9. Apakah pakatan UMNO-PAS ini adalah terlalu awal atau pakatan ini merupakan pakatan yang agak sukar untuk diterima sebahagian besar ahli-ahli PAS? Kempen PAS kepada ahli-ahlinya adalah PAS mesti memilih parti yang lebih kecil kemudaratannya daripada  parti yang memudaratkan lebih besar. Kalau inilah landasan prinsip PAS untuk berpakat dengan UMNO, adakah pakatan ini praktikal? Adakah kita bersedia untuk menolak pemimpin-pemimpin UMNO yang dari segi persepsinya telah kelihatan tidak amanah, korup dan hanya mementingkan sesuatu kaum sahaja dalam perjuangan?

10.Ada maklumat yang disampaikan kepada saya bahawa PAS sememangnya suka UMNO lemah. Dalam erti kata lain, di mana sahaja UMNO lemah, PAS akan mendapat keuntungan. Bila UMNO lemah di Kelantan, PAS terus berkuasa selama 6 penggal; bila UMNO lemah di Terengganu, PAS berjaya menguasai kerajaan negeri dan bila UMNO lemah di Kedah, PAS mendapat lebih banyak kerusi pada PRU-14. Di kawasan-kawasan bandar pula, apabila UMNO lemah, parti-parti PKR dan DAP mendapat keuntungan. Jadi, UMNO dan BN tidak boleh lemah.

11. UMNO pernah bersama-sama PAS mempertahankan Rang Undang-Undang Akta Mahkamah Syariah (Bidang Kuasa Jenayah) 1965 atau RUU 355 untuk memperkasakan bidang kuasa Mahkamah Syariah,  membela nasib etnik Rohingya, pernah bersama PAS dalam isu-isu persoalan agama tetapi ini sahaja belum dapat meyakinkan orang PAS di Sungai  Kandis untuk melihat ia sebagai faktor utama untuk mereka memberi undi kepada Umno/BN.

12. PAS tidak pernah menunjukkan bahawa mereka sanggup duduk di atas pentas yang sama dengan UMNO untuk berkempen seperti mana dilakukan oleh PH  - parti DAP, Bersatu,  PKR dan Amanah yang bersama-sama di atas pentas semasa berkempen. Ini secara tidak langsung memperlihatkan belum ada lagi persefahaman atau  penerimaan kedua-dua parti dari segi mempraktikkan Pakatan UMNO-PAS ini secara jujur dan ikhlas.

13. Sehubungan itu, saya berpandangan UMNO sepatutnya mengekalkan kedudukannya  sebagai sebuah parti nasional dengan tidak sepatutnya bergantung atau terikut dengan rentak parti yang lebih kecil dari Umno. Sebagai sebuah parti nasional kita mestilah mengambil kira bukan sahaja kepentingan orang-orang Melayu sahaja tetapi juga kepentingan kaum-kaum lain dinegara ini.

14.Kalau diperhatikan, ada di kalangan  pemimpin Umno kita berucap sehingga mengguris hati perasaan orang-orang bukan Melayu. Mereka ini barangkali boleh berbangga dengan menang dikawasan masing-masing tetapi apa gunanya kita menang dikawasan kita sahaja sedangkan ucapan-ucapan sensitif ini yang menyentuh perasaan orang bukan Melayu menyebabkan ramai rakan-rakan seperjuangan UMNO/BN “terkorban” di kawasan bandar dalam pilihanraya yg lepas.

15. Ada juga dikalangan Umno yang menggunakan isu keagamaan bagi meraih sokongan.  Apakah benar orang Melayu yang menyokong PKR, orang Melayu yang menyokong Bersatu atau orang Melayu yang menyokong Amanah akan membiarkan sahaja  Islam ini diperkotak-katikkan atau UMNO hanya takut pada bayang bayang sendiri?

16.Perkara-perkara  inilah yang perlu dilihat semula oleh pemimpin-pemimpin UMNO dan fokus semula kepada asas penubuhan UMNO itu iaitu disamping menjaga kepentingan Melayu yang sememangnya termaktub di dalam Perlembagaan Persekutuan, kita tidak mengecilkan kepentingan dan hak kaum-kaum lain. Ini lah hakikat yang perlu di terima oleh UMNO dan ini juga lah resipi yang digunapakai oleh pejuang-pejuang UMNO terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini dan ianya merupakan resipi yang terbukti berjaya selama 61 tahun.

17. Kejayaan BN selama 61 tahun ini adalah kerana orang Cina, India dan kaum-kaum lain merasakan bahawa mereka boleh meletakkan kepercayaan dan kepentingan mereka kepada BN. Sebab itu PAS selama berpuluh-puluh tahun tidak dapat membentuk kerajaan persekutuan kerana mereka  tidak dapat meyakinkan masyarakat Cina, India dan kaum-kaum lain untuk bersetuju dengan ideologi PAS yang tidak bersifat nasional. Kalau kita menurunkan taraf kita sebagai parti nasional kepada tahap PAS, maka kita telah mengecilkan perjuangan UMNO ini.

18. Kalau boleh saya ungkapkan kata-kata seorang ketua bahagian UMNO iaitu “Syarat kalah bukan semestinya lemah dan syarat menang, bukan semestinya kuat”. Walau apapun, yang pasti untuk menang, kita mestilah kelihatan sebagai parti yang sentiasa menjadi harapan kepada setiap pengundi, tidak kiralah sama ada orang Melayu, Cina, India dan lain-lain. Kalau ada di kalangan parti-parti komponen dalam BN yang lemah, maka UMNO perlu mencari strategi baru untuk menguatkan mereka kembali.

19. Saya memohon maaf sekiranya ada rakan-rakan seperjuangan, ketua-ketua bahagian,  ahli-ahli Majlis Tertinggi atau para pejuang  UMNO yang merasakan bahawa pandangan saya ini mengguris hati dan perasaan mana-mana pihak. Saya hanya mahu UMNO bangkit semula menjadi sebuah parti nasional yang kuat, inklusif, penuh kredibiliti dan berwibawa.  Saya yakin, apabila parti kita kuat, orang akan mencari kita. Proses memperbaiki parti perlu diteruskan, yang lainnya kita berserah kepada Allah.

Salam Perjuangan.
Johari Abdul Ghani

------------------------


SEBAB SEBENAR KITA KALAH PRU-14: JAWAPAN KEPADA JOHARI GHANI

1. Memang BN kalah pada PRU-14 sebab isu 1MDB. Dan isu GST. Dan Perdana Menteri dan Pengerusi BN pada ketika itu adalah Dato’ Seri Najib.

2. Namun BN kalah bukanlah sebab 1MDB, GST dan Dato’ Seri Najib itu sahih kesalahannya, tetapi BN kalah sebab persepsi yang dimainkan oleh Pakatan Harapan yang menggambarkan yang isu-isu ini amat teruk dan salah di mata rakyat, walaupun hakikatnya jauh dari itu. Kita kalah sebab kita tewas dalam perang persepsi. Kita telah tewas dalam politik. Kita telah tewas dalam permainan ini.

3. Hampir semua isu politik adalah polemik, iaitu tidak ada yang betul-betul benar atau betul-betul salah secara total, dan tiada hitam dan putih, namun banyak yang kelabu dengan pelbagai pendapat. Siapa yang menang adalah siapa yang membawa hujah yang nampak lebih meyakinkan. Kebenaran tidak dimonopoli oleh mana-mana pihak, setiap pihak berpendapat mereka adalah di pihak yang benar. Permainan persepsi mengubah lanskap politik, bukannya kebenaran. Semua pemain politik berpengalaman tahu perkara ini.

4. Hakikatnya, selepas 5 tahun penyiasatan ke atas 1MDB oleh pelbagai pihak dari dalam dan luar negeri, tiada satu pihak pun yang mengemukakan bukti yang kredibel bahawa Dato’ Seri Najib telah mencuri wang 1MDB seperti yang ditohmah. Apabila pernah ditanya kepada Tun Dr Mahathir berkenaan bukti dakwaan beliau ke atas Dato’ Seri Najib, Tun Mahathir pernah berkata beliau tidak ada bukti. Dan sehingga kini walaupun 7 pertuduhan telah dikenakan ke atas Dato’ Seri Najib, dokumen maklumat bukti masih tidak dikemukakan oleh pihak pendakwaan. Mereka berkata mereka belum bersedia dengan bukti-bukti walaupun tangkapan dan tuduhan telah dibuat terlebih dahulu. Kebarangkaliannya bukti yang ada di tangan pihak pendawaan adalah “bukti” yang lemah, sebab itu mereka pun nampak teragak-agak untuk memulakan perbicaraan dan mengemukakan senarai bukti kepada mahkamah dengan dokumen 51A mengikut Kod Prosidur Jenayah.  “Bukti” yang banyak dikitarkan oleh para penyokong Pakatan adalah infografik-infografik dan penulisan-penulisan andaian dalam media sosial dari sumber yang diragui, namun cukup untuk memainkan sentimen kebencian.

5. Salah kita ialah kita tewas dalam permainan persepsi ini. Kita mungkin boleh membuktikan di mahkamah bahawa Lim Guan Eng bersalah menerima sogokan dengan pembelian banglonya dengan segala bukti kukuh, namun kita masih tidak berjaya meyakinkan rakyat bahawa beliau korup dan perasuah. Jika dibandingkan di antara kes 1MDB dan kes rasuah terowong Pulau Pinang, jumlah wang Kerajaan dan rakyat yang hangus disalahguna dalam kes rasuah projek terowong tersebut adalah lebih dari RM300 juta bersamaan dengan satu tahun kutipan cukai negeri Pulau Pinang, walhal jumlah pelaburan modal sebenar wang Kerajaan dalam 1MDB adalah hanya RM1 juta sahaja, selebihnya diraih dari pasaran modal. Sebab itu saya pernah berkata dahulu bahawa kes rasuah terowong itu adalah lebih besar dari kes 1MDB walaupun persepsi yang sampai kepada rakyat adalah sebaliknya. Dan saya juga pernah berkata yang jika Dato’ Seri Najib dibicarakan di mahkamah kerana kes 1MDB, YB Lim Guan Eng juga perlu dibawa ke mahkamah kerana kes rasuah terowong tersebut. Namun mengapa sesetengah pemimpin UMNO kini terlalu mudah untuk menyalahkan Dato’ Seri Najib tetapi membiarkan YB Lim Guan Eng pula terlepas? Adakah mereka juga telah termakan hasutan Pakatan?

6. Apabila kita tewas di Sungai Kandis, belum beberapa hari sahaja Dato’ Seri Johari Ghani terus cepat menyalahkan Dato’ Seri Najib atas kekalahan tersebut. Saya telah turut sama berkempen di Sungai Kandis dan tahu kawasan ini. Ia adalah kubu kuat PKR. Kita telah tewas di kawasan ini sejak tahun 2008. Jika dicampurkan undi kita dan PAS semasa PRU-14 dahulupun kita masih kekurangan lebih 4 ribu undi. Tiada siapa yang anggap kita akan menang di sini, namun kita tetap berjuang. Dengan peratusan keluar mengundi yang amat rendah iaitu pada 50%, adalah satu kejayaan sebenarnya apabila Lokman Adam dapat mengekalkan lebih 80% daripada undi yang kita dapat dalam PRU-14 yang lepas. Walaupun dengan fakta-fakta ini, Dato’ Seri Najib tetap juga dipersalahkan.

7. Walaupun GST itu satu sistem cukai yang baik dan telus untuk negara dan ekonomi seperti yang diakui kini oleh banyak pihak termasuk pemimpin Pakatan sendiri, namun sebelum PRU-14, Pakatan telah berjaya meyakinkan rakyat bahawa GST itu tidak baik untuk mereka. Walaupun kita bijak berpolitik dalaman dalam UMNO, namun kita telah gagal membawa dan melawan hujah lawan di pentas politik rakyat. Pada kali ini, jika kita tidak mengakui kelemahan ini, menyalahkan orang lain dan masih tidak berubah, kita mungkin akan gagal lagi meyakinkan rakyat bahawa SST itu tidak baik berbanding GST, padahal ianya sebaliknya.

8. Sesiapapun yang menjadi Perdana Menteri dan Kerajaan akan diuji dan diasak dengan pelbagai isu dan tohmahan. Jika Perdana Menteri keenam bukan Dato’ Seri Najib dan tiada isu 1MDB sekalipun, saya pasti sesiapapun yang menjadi Perdana Menteri pada ketika itu akan diasak dengan isu-isu lain untuk dijatuhkan. Jika tiada isu, mereka akan reka dan jadikan isu. Sesuci-suci pemimpin seperti Rasulullah SAW pun pernah difitnah, dihalau, direjam dengan batu dan dicuba bunuh.

9. Pada tahun 1970, Dr Mahathir menuduh Perdana Menteri pertama Tunku Abdul Rahman sebagai cenderung kepada kaum Cina, ini untuk menimbulkan kemarahan orang Melayu kepada Tunku. Dalam memoirnya Tunku menceritakan bagaimana tohmahan ini tidak betul dan berniat jahat untuk menjatuhkan beliau. Selepas itu, Dr Mahathir menggunakan taktik kotor yang sama dengan isu yang berbeza untuk menjatuhkan Perdana Menteri-Perdana Menteri ketiga, kelima dan keenam. Pada tahun 1980, Dr Mahathir dikatakan merancang untuk menjatuhkan Tun Hussein Onn Perdana Menteri ketiga dengan menggunakan isu Datuk Harun Idris. Dua tahun selepas itu Tun Hussein Onn terpaksa melepaskan jawatan akibat tekanan Dr Mahathir. Pada tahun 2008, Dr Mahathir menjatuhkan Pak Lah sebagai Perdana Menteri dengan menggunakan isu “Budak Tingkat 4” dan Perdana Menteri “Half-past six”. Sepuluh tahun kemudian beliau menggunakan isu 1MDB untuk menjatuhkan Dato’ Seri Najib dengan tohmahan persepsi dan tuduhan tanpa bukti.

10. Kegagalan kita di PRU-14 tidak sepatutnya diletak di bahu Dato’ Seri Najib sahaja. Kita pun bersalah kerana gagal dalam permainan persepsi dan hujah untuk meyakinkan rakyat dalam isu-isu mereka. Dan kita masih tidak boleh mengalahkan Dr Mahathir. Kita kalah dengan permainan politik Dr Mahathir. Jika kita mahu salahkan seorang yang merosakkan Melayu dan UMNO selama ini, namanya ialah Dr Mahathir, bukan Abdul Rahman, bukan Hussein Onn, bukan Pak Lah dan bukan Najib.

11. Jika kita kini mengambil langkah menyalahkan Dato’ Seri Najib sahaja dalam kekalahan kita ini, dan mencari target atau kambing hitam untuk dikorbankan, maka kita tidak akan bermuhasabah. Selagi kita tidak mengakui kesilapan dan kelemahan kita dan hanya menyalahkan orang lain ke atas kegagalan kita, selagi itu kita tidak akan berubah ke arah yang lebih baik. Betul Dato’ Seri Najib perlu bertanggungjawab ke atas kekalahan kita kerana beliau Presiden parti pada ketika itu; dan beliau telahpun meletakkan jawatan. Namun kita pun perlu bertanggungjawab juga.

12. Dato’ Seri Johari, kita kalah di Titiwangsa bukan sebab kelemahan hujah kita di kampung, namun sebab kelemahan hujah kita di bandar. Kita bijak berhujah di kampung, dengan bahasa yang mudah difahami oleh orang kampung, sebab itu kita banyak menang di kawasan kampung. Namun kita tidak bijak berhujah di bandar dengan tahap hujah yang meyakinkan pengundi di bandar, dan kadangkala kita cenderung menggunakan tahap hujah dan bahasa di kampung untuk cuba meyakinkan pengundi di bandar. Mungkin sebab itu kita banyak tewas di kawasan-kawasan bandar. Hujah di kampung dan di bandar memerlukan pendekatan yang berbeza kerana demografi mereka adalah berbeza. Jika kita bercerita ayam itik di kampung kepada golongan pengundi yang sofistikated, profesional atau belia di bandar, mereka tidak akan menerima hujah kita jauh sekali menyokong kita, malah mereka akan memandang rendah kepada kita. Lebih teruk lagi ialah apabila mereka ini balik kampung untuk mengundi dan mempengaruhi orang kampung. Kebanyakan pengundi dan rakyat kini adalah lebih sofistikated dan bijak dari dahulu walaupun di kampung. Kita jangan memandang rendah tahap akal dan pemahaman mereka. Hujah kita perlu lebih bernas. Jika kita sudah pakar meyakinkan orang di kampung, kita perlu meningkatkan usaha untuk meyakinkan orang di bandar pula. Kini 75% pengundi tinggal di kawasan bandar. Jangan salahkan ahli politik kampung atas kegagalan kita berpolitik di bandar.

13. Dan Dato’ Seri Johari juga menyalahkan isu 1MDB dan Dato’ Seri Najib tentang kekalahan di Titiwangsa walaupun beliau (Johari) berlawan dengan ahli politik muda yang tidak dikenali iaitu Rina Harun. Seingat saya di Titiwangsa sebelum PRU-14 dan sebelum penamaan calon, banyak tanda-tanda penolakan pengundi Titiwangsa ke atas Dato’ Seri Johari sebagai Ahli Parlimen sehingga ada flash mob dan poster-poster bertebaran yang berbunyi “Asal Bukan Johari.” Ini tidak ada kena mengena dengan 1MDB atau Dato’ Seri Najib. Rakyat menolak Dato’ Seri Johari sebagai wakil rakyat mereka. Mungkin jika tiada isu 1MDB pun, Dato’ Seri Johari akan tetap kalah di Titiwangsa.

14. Mungkin sesetengah daripada pemimpin UMNO kita kini takut untuk bersuara menentang Kerajaan sebab mereka ada kes dan fail yang dipegang oleh SPRM dan takut jika mereka bersuara pekung mereka akan dibuka dan mereka akan didakwa. Semua orang yang pernah alami zaman Dr Mahathir sebagai Perdana Menteri keempat semasa tahun 80an dan 90an tahu yang Dr Mahathir selalu menggunakan taktik kotor Macchiavellian dengan mengugut ahli politik kotor dengan “buku hitam” beliau yang mengandungi kes-kes kesalahan  dan rasuah ahli-ahli politik sama ada kawan atau lawannya. Mungkin sebab itu ada bekas menteri yang kerap menghentam parti sendiri dan bekas pemimpin yang dijulangnya sebelum ini tetapi tidak berani pula membangkang Kerajaan kini. Bila dibahas isu SST di Parlimen yang sepatutnya memberi peluang untuk kita membangkang Kerajaan Pakatan, beliau sebaliknya membuat laporan polis untuk menyiasat bekas pemimpin BN sendiri pula berkenaan GST. Dalam Kerajaan Pakatan ramai pemimpin yang ada fail SPRM termasuklah menteri dan timbalan menteri seperti YB Lim Guan Eng, Azmin Ali, Sivarasa, Zuraidah dan ramai lagi. Mereka bukanlah parti yang bersih seperti yang digembar-gemburkan. Namun banyak kes mereka tiba-tiba kini digugurkan selepas mereka berkuasa. Ketidakadilan ini yang perlu kita semak-imbangkan. Dan kita pula bukanlah parti yang semuanya rasuah seperti yang digembar-gemburkan oleh Pakatan. Masih ramai orang UMNO yang berjuang kerana prinsip dan bukan kerana wang, dan mereka ini bersih dalam perjuangan. Kepada sesiapa dalam UMNO yang tiada fail SPRM, usahlah takut untuk bersuara.

15. Kita selalu kata Pakatan tidak tahu menjadi Kerajaan. Namun sebenarnya kebanyakan dari pemimpin kita pun masih tidak tahu untuk menjadi pembangkang. Apa yang sesetengah pemimpin kita buat kini termasuklah Dato’ Seri Johari Ghani ialah mengambil jalan mudah, dengan tidak perlu mengambil risiko menyerang Kerajaan, namun menyerang rakan kita sendiri yang telah jatuh; dan tidak perlu bermuhasabah dan berubah, tetapi menyalahkan orang lain ke atas kegagalan bersama atau diri sendiri. Selagi perkara ini berlaku dalam UMNO, kita tidak boleh menang menewaskan Kerajaan Pakatan.

16. Saya bukan lagi pegawai kepada Dato’ Seri Najib, dan saya tiada jawatan dalam parti. Saya menulis ikhlas dari hati dan tidak terikat dengan sesiapapun. Ini adalah pandangan jujur saya untuk parti dari akar umbi. Sebelum ini saya memang tidak suka tembak ke dalam parti seperti yang kerap dilakukan oleh sesetengah pemimpin, kerana lawan sebenar kita adalah di luar sana. Namun pada ketika ini saya rasa saya patut bersuara walaupun sekerdil mana sekalipun suara ini untuk mengelakkan ketidakadilan dan penganiayaan yang tidak sepatutnya kepada sesiapa. Jika pandangan kecil saya ini mengguris hati sesiapa, saya mohon maaf.

Ikhlas,
ISHAM JALIL
Marhaen UMNO
8 Ogos 2018

https://www.facebook.com/1180765013/posts/10215047804526793/